Sejarah Puskesmas Weleri Kendal

0 45

Sejarah Puskesmas Weleri

Bersama dengan mitos, sejarah adalah cara untuk mengetahui masa lampau. Bangsa yang mengenal tulisan pada umumnya mengandalkan sejarah. Puskesmas Weleri I adalah salah satu dari dua puskesmas yang terletak di Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. Terletak di Jalan Tamtama No.3 Desa Nawangsari. Berdiri sebuah bangunan bermotif kesejarahan bila tampak dari luar ketimbang bangunan sekitarnya. Orang dapat mengira dengan subjektif bahwa itu adalah bangunan peninggalan Belanda. Pada tataran sejarah arsitektur dan sejarah kota bangunan ini menjadi sangat antik dalam keutuhan dan keasliannya. Yang jelas, bangunan Puskemas Weleri I mempunyai serentetan peristiwa sejarah kegunaan dari bangunan Puskemas Weleri.

Tiap bangunan pasti ada unsur guna, begitulah hukumnya. Sejarah awal bangunan Puskesmas Weleri I dibangun pada tahun 1812 oleh Belanda. Pada awal abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda membangun camp tentara militer Belanda. Daerah operasional Weleri menjadi salah basis tentara militer Belanda di Karesidenan Semarang waktu itu. Yang kemudian oleh pihak pemerintah membangun sebuah bangunan yang bertujuan untuk menampung para tentara Belanda dan digunakan sebagai barak dan markas mereka.

Analisis historis selanjutnya dapat dilihat dari konteks sejarah arsitektur. Pola bangunan Puskesmas Weleri ada pada gaya Indische Architectuur yang pada konsepnya memperbaharui bentuk lokal. Dimulai oleh seorang arsitek Belanda Meclain Pont dalam serangkaian percobaannya mengangkat sumber lokal untuk membentuk dan merangkai arsitektur berwawasan Nusantara yang supralokal. Bangunan ini memiliki dua sisi fungsional kanan dan kiri bangunan. Muka bangunan menghadap ke selatan, dengan gaya gabungan pendopo rumah Jawa. Jenis bangunan memanjang popular pada abad ke-20. Namun jenis bangunan ini hanya memungkinkan untuk pemerintahan, seperti dinas dan kawedanan, tempat perawatan kesehatan tentara. Analogi yang dikemukakan bahwa ada kemungkinan bangunan ini pada awalnya difungsikan untuk tempat perawatan kesehatan para tentara militer korban perang pada tahun 1820-an.

Pada periode selanjutnya, ketika memasuki pembabakan zaman pergerakan nasional di Indonesia, bangunan ini beralih fungsi. Pada peralihan abad ke-19 ke abad ke-20 adalah zaman penuh gejolak dan membawa pembaharuan pada kehidupan sosial, politik, dan budaya. Saat pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan mencabut peraturan izin bepergian (sistem pass) yang membatasi gerak-gerik orang Tionghoa. Oleh sebab ini, pada periode pergerakan, bangunan dan tanah bangunan ini dibeli oleh seorang Tionghoa pernakan kaya pengusaha tembakau dan gula asal Semarang, belum terdapat bukti jelas siapa nama pemilik pertama kali.

Namun diruntut genealogis, keturunan terkini berada di tangan Lim Kot Tjie. Olehnya bangunan ini difungsikan sebagai gudang tembakau miliknya di daerah Weleri. Pada peranan bangunan tersebut membuat keadaan masyarakat sekitar berpengaruh pada konsensus struktur sosial masyarakat Weleri. Ketika kebijakan keterbukaan orang-orang Tionghoa oleh pemerintah Hindia Belanda, banyak diantaranya menjadi pedagang dan saudagar kaya di tiap wilayah. Berpengaruh pada kedudukan sosial masyarakat menjadi golongan tiga. Dibuktikan dengan dipekerjakannya warga pribumi sekitar untuk mengelola gudang tembakau pada bangunan tersebut, sekitar tahun 1920-an.

Bangunan ini pada struktur fungsinya memanglah sudah menjadi hak milik dari leluhur Lim Kot Tjie. Namun ketika masa pendudukan Jepang, bangunan ini beralih fungsi kembali sebagai tempat penampungan kesehatan dan medis militer Heiho buatan Jepang. Menurut narasumber Ahmad Wasmin, sekitar 84 tahun, bangunan tersebut telah ada ketika jaman Heiho.

Saat itu, bangunan tersebut digunakan sebagai gereja. Namun, narsumber tidak berani menjamin kebenaran penggunaan bangunan tersebut. Tetapi menurut narasumber, bangunan tersebut sering dimasuki oleh tentara-tentara, terutama tentara heiho. Mengenai, kapan bangunan tersebut dibangun, narasumber tidak mengatahui kapan pastinya bangunan tersebut. Tetapi narasumber manjamin, bahwa bangunan yang sering dimasuki tentara tersebut dijadikan sebagai rumah sakit. Pada waktu itu (tahun ketika ada Heiho), narasumber membantu tentara heiho dalam menunjukkan jalan di hutan dan membantu mencarikan obat-obatan bagi tentara yang terluka.

Ketidakadaan sumber yang cukup membuat rekonstruksi sejarah bangungan Puskesmas Weleri pada periode pergerakan dan pendudukan Jepang ini masih samar. Terdapat anggapan bahwa setelah menjadi milik sah dari pengusaha tembakau Lim Kot Tjie, masa pendudukan Jepang dialih fungsikan sebagai gereja sekaligus tempat penampungan tentara Heiho yang terluka akibat perang. Ketidakpastian ini akan memunculkan penelitian baru yang lebih memadai dalam sumber-sumber primer dan sekundernya.

Bangunan ini masih kokoh menjulang pada tahun 1947 yang saat itu berkobar pertempuran melawan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia melalui NICA. Sewaktu tentara Belanda menyerbu Kendal, pusat pemerintahan Kendal dipindahkan ke Weleri. Tentara Belanda merangsek dengan kendaraan lapis baja dan pasukan infanterinya kearah Kendal dimana pusat pemerintahan berada, menyadari hal tersebut pusat pemerintahan dipindah ke Weleri pada tanggal 30 Juli 1947 dibawah pimpinan Patih Kartowikromo beserta beberapa stafnya, sedangkan Bupati Kendal Sukarmo bersama satuan BKR/TKR, laskar dan pejuang Kendal berada di garis depan pertempuran melawan Belanda.

Sambil mundur ke Weleri tiap-tiap gedung di Kendal dibakar habis oleh para pejuang dengan tujuan agar tidak digunakan Belanda menjalankan pemerintahannya di Kendal. Saat Weleri menjadi pusat pemerintahan sementara Kendal, bangunan ini masih berfungsi sebagai markas Palang Merah untuk pejuang Kendal, dan prajurit BKR/TKR lainnya. Masih jadi pertanyaan bagaimana pengalihfungsian kepada markas Palang Merah. Ada anggapan bahwa ketika Jepang pergi dari Indonesia, setiap bangunan di Kendal termasuk bangunan Puskesmas ini di nasionalisasikan dan diambil alih oleh pihak lokal –pemerintah Kendal- dan dijadikan sebagai markas Palang Merah setelah sebelumnya menjadi gereja dan penampungan tentara Heiho. Jadi alih fungsi ini tidak jauh dari fungsi awalnya.

Pada tahun 1949, bangunan ini kembali beralih fungsi menjadi poliklinik dengan tujuan untuk merawat korban perang mempertahankan kemerdekaan semasa agresi Belanda. Dan periode selanjutnya, bangunan ini sempat kosong tidak difungsikan secara fungsional. Dari keterangan narasumber dapat diasumsikan di tahun pasca perjuangan mempertahankan kemerdekaan, bangunan ini mengikuti perkembangan kesejarahannya yang holistik. Unsur bangunan akan memenuhi segi kebutuhan manusia dan lingkungannya. Diterima ataukah tidak diterima semuanya bergantung pada kenisbihan sejarah yang sudah digariskannya.

Bangunan ini kembali merajut sejarahnya yang baru pada komitmen zaman baru generasi modernis di tahun 1988. Pada tahun ini, bangunan dialih fungsikan menjadi Puskesmas daerah Weleri. Sebelum menjadi Puskesmas di tahun tersebut. Interval waktu tahun antara 1949 sampai 1988 menjadi catatan yang unik, namun belum dapat diterangkan dengan jelas bagaimana kondisi dan fungsi bangunan ini. Setelah selesai perang, bangunan ini ikut menjadi bagian pembangunan sejarah kendal dalam pusaran politik negeri khususnya daerah Jawa Tengah.

Kaitannya dengan kondisi politik pemerintah daerah Kendal dan Tentara daerah Kendal. Tanggal 29 Desember 1949 Residen Semarang, Raden Milono menyaksikan serah terima dari Recomba/Pemerintahan Belanda kepada Para Pejabat Republik Indonesia Serikat/RIS Kabupaten Kendal,secara bertahap kawedanan demi kawedanan sehingga lengkap seluruh daerah berada dalam kekuasaan Indonesia.

Pada waktu terjadi penyerahan kekuasaan, yang ditunjuk menerima kekuasaan adalah dari pemerintahan Recomba kepada RIS adalah perwira dari kesatuan Kuda Putih Letnan Samsuharto, kemudian Letnan Jabadun menerima penyerahan pemerintahan didaerah Kendal kota, Kapten Bagiyo menerima penyerahan di Boja, Letnan Surowo menerima penyerahan di Weleri, serta Letnan Satu Ciptono menerima pemerintahan di Plantungan. Tamat sudah kekuasaan Belanda yang sekian lama menduduki Kendal, pergantian kekuasaan ini berlangsung damai.

Pada tahun 1986, oleh pemerintah Kabupaten Kendal melalui Dinas Kesehatan, bangunan ini diperuntukan menjadi rumah sakit pembantu. Diambil dari keterangan pengurus puskemas, Pak Sujarwo mengatakan sebelum menjadi puskesmas, bangunan ini menjadi rumah sakit pembantu yang diperuntukan untuk guna fasilitas kesehatan warga Weleri, karena jangkauan tempat kesehatan di Weleri yang sebelumnya berada di Puskesmas Wonotenggang.

Pada tahun 1988, oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, dikeluarkan Surat Keputusan Bupati Daerah Tingkat II Kendal. Nomor: 400.445-E-334-87. Tentang pembentukan Puskesmas Weleri I, bangunan ini secara resmi menjadi Puskesmas Weleri pertama yang ada di kecamatan Weleri. Dengan kepala Puskesmas pertama kali adalah Bapak Sasmito. Sampai sekarang bangunan yang masih berdiri kokoh ini sudah sering sekali direnovasi, dengan alasan memang sebagai keperluan publik, ruang dan bangunan haruslah memenuhi standar operasonal perawatan dan penjagaan oleh pihak terkait seperti Dinas Cipta Karya & Tata Ruang.

Source http://loveisnotinparis.blogspot.com http://loveisnotinparis.blogspot.com/2014/12/sejarah-puskesmas-weleri-i-kabupaten.html
Comments
Loading...