Sejarah Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis

0 203

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis sebagai tempat sembahyang orang yang beragama hindu dan juga salah satu dari tempat wisata yang ada di Kota Nganjuk. Pura ini terletak di kaki gunung wilis tepatnya Dusun Curik Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Nganjuk, Jawa Timur. Pemeluk agama hindu di dusun ini sudah ada sejak dulu, mereka merupakan sisa-sisa dari jaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Prabu Airlangga. Ada 114 kepala keluarga di Dusun Curik, yang terdiri dari 500 jiwa, menjadi pemeluk agama Hindu. Mereka hidup rukun berdampingan dengan pemeluk agama lain yang bertempat tinggal di dusun-dusun sekitarnya.

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis merupakan Pura Penyawangan dari Candi Sapto Argo yang berada di puncak Gunung Wilis yang merupakan pemujaan Dewa Wisnu, Dewi Sri dan leluhurnya. Umat Hindu di Desa Bajulan setahun sekali naik ke puncak Gunung Wilis untuk melakukan bersih-bersih dan merawat Candi Sapto Argo sekaligus bersembahyang. Di sekitar Candi Sapto Argo terdapat situs-situs, sedangkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang ada di Candi Sapto Argo telah hilang dicuri. Sesepuh-sesepuh umat Hindu yang ada di Desa Bajulan meyakini bahwa di sekitar Candi Sapto Argo terdapat lima prasasti dan yang telah ditemukan hanya tiga prasasti. Ketiga prasasti tersebut dipahat pada batu-batu yang besar yang hingga kini belum ada penelitian yang dilakukan di Gunung Wilis.

Sementara itu, umat Hindu di Desa Bajulan juga tidak bisa membaca isi dari prasasti tersebut karena ketiga prasasti tersebut ditulis dengan simbol-simbol seperti lingkaran, tanda silang, jalan, air terjun dan lain-lain. Posisi ketiga prasasti itu berada pada tiga titik yang membentuk-bentuk segi tiga, yang berada pada lereng sebelah timur, pada lereng bagian tengah dan pada lereng sebelah barat dari Candi Sapto Argo. Di lereng-lereng Gunung Wilis terdapat tempat-tempat pertapaan, terutama di lereng Gunung Wilis bagian tengah terdapat gua besar sebagai tempat bersamadhi.

Lokasi Sapto Argo terdiri dari lima Mandala dan Candi Sapto Argo berada di tengah-tengah Mandala tersebut. Para sesepuh umat Hindu di sekitar Gunung Wilis tidak mengetahui secara pasti kapan berdirinya Candi Sapto Argo tersebut. Tetapi umat Hindu disana menemukan pajenengan di areal Candi Sapto Argo berupa Genta berhulu Triwikrama, Lonceng berhulu Narasingha, dan Pasepan di sekelilingnya berukiran empat dewa-dewa yang semuanya disimpan dan dirawat sebagai Pajenengan di Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis.

Pohon Beringin merupakan pohon besar yang dianggap sakral bagi umat hindu. Pohon beringin memiliki banyak fungsi dalam ritual-ritual adat dan keagamaan, sehingga pada batangnya sering dililitkan kain kuning atau kotak hitam putih seperti yang ada di Bali. Kadang ada canang sebagai sesajen yang dihaturkan. Pohon beringin sering dijadikan tempat memuja? Awalnya saya mengira apakah umat hindu itu menyembah pohon? Ternyata anggapan saya itu tidak benar. Kadang kalau kita sering melihat, mereka memberikan sesaji di pohon beringin, ternyata itu adalah sebuah wujud rasa syukur mereka terhadap kemurahan Sang Hyang Widi yang diberikan melalui pohon beringin, bukan berarti para umat hindu memuja pohon.

Pohon beringin itu umurnya bisa mencapai ratusan tahun, dan ukurannya besar, memberikan banyak manfaat bagi manusia, salah satunya memberikan keteduhan. Kain hitam putihpun ini memiliki makna sendiri, warna hitam dan warna putih menggambarkan watak manusia itu sendiri, ada yang baik dan ada pula yang jahat. Kalau diperhatikan dalam sepotong kain ini, tidak hanya warna hitam dan putih saja yang terdapat didalamnya, namun juga ada warna abu-abu, itu juga merupakan penggambaran watak manusia yang tidak sepenuhnya sempurna baik, tetapi kadang juga memiliki pikiran jahat.

Source https://nganjukkabmuseumjatim.wordpress.com https://nganjukkabmuseumjatim.wordpress.com/2014/08/01/pura-kerta-bhuwana-giri-wilis/
Comments
Loading...