Sejarah Pesantren Al-Fatah Banjarnegara

0 24

Pesantren Al-Fatah Banjarnegara

Pada tahun 1901, sekembalinya dari ziarah dan menuntut ilmu agama di Madinatul-Munawwarah, KH Abdul Fatah mendirikan balai pendidikan yang tidak terjamah oleh sistem pendidikan penjajah Belanda. KH Abdul Fatah adalah seorang ulama yang tidak mau diajak kompromi oleh penjajah Belanda, karena keteguhan iman serta ketaatanya pada islam yang mengajarkan cinta tanah air.

Demikian kuat kecintaannya kepada tanah air ini. KH Abdul Fatah menanamkan semangat perjuangan kepada santri-santrinya, sehingga segala upaya penjajah Belanda untuk mengubah jiwa pattriotik KH Abdul Fatah serta para santrinya tidak berhasil. Almarhum KH Abdul Fatah adalah teman dekat tokoh besar pejuang bangsa yakni KH Hasyim Asy’ari, HOS Cokroaminoto dan KH Wahab Hasbullah. Dengan dukungan santrinya, balai pendidikan ini diubah menjadi pondok pesantren (PP).

Pada kurun waktu selanjutnya, berkat ketekunan, ketabahan dan kesabaran, KH Abdul Fatah dapat membuktikan kepada masyarakat bahwa sistem pendidikan Pondok Pesantren dapat menjawab tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini terbuki, dari asal santri yang tidak hanya berasal dari penjuru tanah air, namun juga datang dari johor, Malaisya. Dalam mengembangkan PP, KH Abdul Fatah dibantu oleh Kyai Shobirin, Kyai Damanhuri dan KH Hasan Fatah. Pada tahun 1941, KH Abdul Fatah meninggal dunia. Karena pada waktu itu ekonomi Indonesia sedang sulit, sementara putra beliau KH Hasan Fatah dan KH Ridlo Fatah terjun dalam barisan perjuangan kemerdekaan (Barisan Hizbullah), hingga Pondok Pesantren Al-Fatah mengalami beberapa kemunduran.

Sebagai upaya untuk membangun kembali peninggalan almarhum KH Abdul Fatah, putra-putra dan cucu-cucu almarhum membangun sarana dan prasarana Pesantren. Bangunan masjid dan asrama yang mengalami kerusakan diperbaiki secara bertahap. Pada tahun 1975, organisasi kelembagaan al fatah diperkuat dengan dibentuknya badan hukum berupa Yayasan al fatah, dengan akta Notaris RM. Soepraptono: 22 tanggal tujuh April 1975.

Source http://nahdlatululama.id http://nahdlatululama.id/blog/2017/12/01/32855/
Comments
Loading...