Sejarah Pertapaan Sonder

0 153

Pertapaan Sonder

Berlokasi di Dukuh Sonder, Desa Tulaan, Kecamatan Keling. Pada akhir ± abad ke-14 Nyai Langgeng atau sering dikenal dengan Ratu Kalinyamat yang mempunyai kerajaaan kecil di Mantingan, dekat Jepara berkuasa. Pada tahun 1549 suaminya yang bernama Sultan Hadirin dibunuh oleh Arya Penangsang. Untuk membalas dendam, Ratu Kalinyamat topo broto menuntut keadilan. Berkelana (lelono) ke mana-mana, dari beberapa tempat yang sudah disinggahi atau yang cocok yaitu di Dukuh Sonder Desa Tulakan, Keling Kabupaten Jepara. Di tempat itu beliau topo bronto, topo wudo, yaitu meninggalkan pakaian kraton (sebagai orang biasa) sampai dia berhasil hingga bertahun-tahun.

Ratu Kalinyamat yang dilukiskan cantik ini bertapa hanya dengan berbalutkan rambutnya yang panjang. Ia memohon pertolongan dari Tuhan agar bisa melampiaskan dendam kesumatnya terhadap Aryo Penangsang, salah seorang murid kesayangan Sunan Kudus. Dendam ini menggumpal di dada Kalinyamat karena suaminya, telah dibunuh secara keji oleh Aryo Penangsang. Dia sempat bersumpah ”ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung iso kramas getihe lan kesed jambule Aryo penangsang” (Ia tidak akan menghentikan laku tapanya jika belum bisa keramas rambut dengan darah Aryo Penangsang).

Akhirnya, dendam kesumat Ratu Kalinyamat terbalas sudah. Aryo Penangsang terbunuh dalam satu pertempuran dengan Danang Sutowijo, yang kemudian hari mendirikan Kerajaan Mataram. Pertempuran tersebut berlangsung di dekat sungai Kedung Srengenge, dalam duel sengit tersebut Aryo Penangsang tewas secara tragis dengan usus terburai oleh kerisnya sendiri.

Laku tapa Ratu Kalinyamat dengan sumpahnya itu ditafsirkan oleh masyarakat desa Tulaan sebagai wujud kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu kepada suaminya. Ia dengan kesadaran dan keiikhlasannya yang tinggi bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana dari sebelumnya dan sampai sekarang dengan pertapa di tempat itu sampai Jambul Uwanen tidak akan lepas dari pertapaannya. Kemudian menjadi sedekah bumi, yang namanya Upacara Jembul desa Tulakan. Sampai terkenal di desa Tulakan, Ratu Kalinyamat bertapa sangat lama sampai-sampai rambutnya dikubur di situ.

Pada masyarakat ada suri tuladan diadakan upacara jembul (sedekah bumi) sebagai tanda syukur setiap tahun, tanda untuk menghormati. Syukuran itu dilakukan sejak dulu secara turun-temurun. Pada setiap malam Jumat Wage dipenuhi peziarah yang datang dari berbagai daerah di sekitar Jepara. Para peziarah kebanyakan kaum perempuan yang ingin cantik alami, seperti Ratu Kalinyamat. Syaratnya, mereka terlebih dahulu harus mandi di sungai kecil yang ada di dekat situs bekas pertapaan, yang kemudian disusul dengan laku tapa atau meditasi selama 40 hari.

Cerita berakhirnya masa pertapaan terus diingat-ingat dan diadakan sedekah bumi yang menjadi kegiatan ritual setiap tahunnya. Sedekah bumi tetap diadakan, kalau keuangan kurang kadang ditunda tahun depannya, tetapi Senin Pahingnya tetap diadakan.

Orang luar yang dimimpini untuk membangun ke tempat itu. Setiap Jum’at Wage ada orang yang berziarah. Di tempat itu, dia berdo’a pada Allah Swt. Do’anya ada yang terkabul, lewat berdo’a di situ kemudian dia dengan sukarela memberi bantuan sampai berjuta untuk membangun tempat itu.

Kegiatan yang dilakukan di tempat itu tidak ada pantanganya. Tidak ada larangan, tetapi untuk menjaga kelestariannya dilarang menebang pohon. Berziarah harus bersuci terlebih dahulu berwudlu). Larangan menebang pohon sejak tahun 1989, sebelumnya banyak ditebangi untuk bangunan kemudian dibuat aturan. Masyarakat mendukung, masyarakat dengan kesadaran, tidak ada balak kalau pohon ditebang.

Menjadi tempat ziarah orang, dari mulut ke mulut, dari seorang perempuan katanya tempat mesum tapi itu sebelumnya tidak ada atau bersih. Ada tata nilai yang tertanan di tempat itu. Uri-uri orang tua, secara otomatis mengingat perjuangan jaman dulu, setiap Jum’at Ludong Tuo. Di samping untuk mempersatukan masyarakat (sedekah bumi) masyarakatnya.

Sedekah bumi berdo’a untuk keselamatan bumi kok dihubungkan dengan petilasan. Cerita datang Nyai Rono di Jum’at Wage (manganan) malam Minggu tahlil, Senin paginya penghormatan, untuk pindahnya ke Senin pahing belum jelas.

Pada acara sedekah berdo’a minta keamanan, Ratu Kalinyamat, Sunan Kalijaga, semua disebut. Kegiatan acara itu Upacara Jembul merupakan hiasan bambu irat-iratan menjadi 3, di atasnya adanya acak (tempat makanan terbuat dari bambu yang satu nasi dan lauk pauk). Makanan itu dari kami tua. Dari uratan jam-jam diurutkan hingga datang satu persatu setelah komplet baru ada upacara.

Pertama ada tayuban dan sebagainya, ada danyang-danyang dan sebagainya, diadakan kesenian, diadakan wiji’an. Para petingginya dibersihkan kakiknya dengan air, selama itu semua petinggi satu persatu agar semua bisa berbuat baik. Setelah itu, mereka mengelilingi (muteri) 4 jembul sebanyak 3 kali tersebut. Dengan itu supaya petinggi mau bermasyarakat. Empat jembul menandakan semacam persembahan yang mewakili empat wilayah dan ada ratusan yang lainnya.

Ada cerita menarik yaitu pembersihan diri, ada masyarakat yang berjumlah ribuan. Kalau tidak diadakan akan rame, ada yang menghubungkan dengan keadaan, kalau diakan biaya sampai Rp 25.000.000,00. Pernah diganti jembul, diganti satu-persatu, tetapi mereka minta kembali ke adat dulu.untuk memanfaatkan acara/kegiatan pemerintah misalnya PBB, 17 Agustus, pokoknya kegiatan dari pemerintah yang disampaikan disitu misal KB, flu burung.

Dengan kegiatan seperti itu, pemanfaatan kegiatan itu bagi desa di sini yaitu sebagai pariwisata, bahkan disebut dapat mengubah lingkungan masyarakat kecamatan Keling kumpul jadi satu.

Masyarakatnya muslim, kegiatan menuju ke syirik seperti joget, miji kali petinggi ikut berputar, dicubit (dijiwit) itu tidak boleh karena yang membersihkan jogetnya. Dulu ada tayuban semalam kemudian diganti wayang untuk mengurangi itu. Masyarakat Islam menyadari tidak ada gejolak, yang tetap diadakan untuk budaya.

Pada kegiatan itu dapat dijadikan sarana jual beli hasil bumi. Hasil-hasil bumi dipusatkan di sini, tetapi baru bersifat perorangan (penduduk dari daerah sendiri). Perolehan inkam dari tahun ke tahun dibawa masyarakat yaitu jutaan misal disebut setiap hari semakin meningkat.

Sekarang untuk kalangan generasi muda. Generasi muda mendukung kegiatan itu terus dilaksanakan karena memelihara (nguri-nguri) para pendahulu kita, yang terdiri atas muspika, bupati, dan wakilnya. Acara dari pagi Jum’at Wage (manganan) kegiatan baku, seperti gerimis di pohon kepercayaan pada pilihan pilkades yaitu adem ayem. Pada pemilihan petinggi amat tenang, adem, tenteram sebagai penanda. (Hasil wawancara di rumah petinggi desa Bapak H. Abdul Aziz kepala desa).

Source https://budizalin.blogspot.com https://budizalin.blogspot.com/2009/10/wisata-sejarah-di-jepara.html
Comments
Loading...