Sejarah Panti Asuhan ‘Aisyiyah Payakumbuh

0 148

Sejarah Panti Asuhan ‘Aisyiyah Payakumbuh

Pada pertengahan tahun 1942 saat Jepang masuk ke Indonesia sebagai salah satu konsekwensi kalahnya sekutu pada Perang Dunia II, maka tentara Jepang mengambil alih kekuasaan Pemerintah Belanda di Indonesia.

Sesuai dengan propaganda yang dilancarkan pemerintah Jepang sebagai Saudara Tua dari Indonesia, maka kehadiran Jepang terlaksana dengan baik, namun setelah berlangsung beberapa lama jiwa penjajah Jepang muncul, malahan melebihi kekejaman Belanda yang telah menjajah Indonesia lebih kurang 350 tahun.

Menyikapi kekejaman tentara Jepang tersebut maka rakyat Indonesia termasuk masyarakat kabupaten Lima Puluh Kota melakukan perlawanan terhadap pendudukan Jepang baik perlawanan fisik maupun melalui jalur politik, sehingga hampir disemua daerah melancarkan perlawanan menyatakan perang terhadap pendudukan Jepang.

Melawan tentara Jepang sama dengan menghadang mautdikarenakan kekuatan yang tidak seimbang. Peperangan yang tidak seimbang tersebut mengakibatkan bergugurannya para syuhada bangsa.  Gugurnya para pahlawan bangsa tentu meninggalkan para janda dan anak yatim bahkan tidak jarang terjadi diantara mereka yang ditinggal kedua orang tuanya dengan status yatim piatu.

Melihat kondisi kehidupan masyarakat, terutama untuk menyelamatkan anak yatim, yatim piatu dan anak-anak terlantar, maka pimpinan cabang ‘Aisyiyah yang dipimpin Adang Fatimah Djalil melakukan gerakan besar menghimpun anak-anak yatim, piatu dan yatim piatu dibawah asuhan pimpinan cabang Payakumbuh, selanjutnya dinamakan dengan Panti Asuhan ‘Aisyiyah Cabang Payakumbuh.

Gerakan ini disamping dorongan ingin menyelamatkan anak-anak yang kehilangan orang tua, terutama didorong oleh gerakan Al- Ma’un yang intinya perintah untuk memelihara dan menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

Pada tahun 1961, pemerintah melalui Departemen Sosial membangun asrama diatas tanah waqaf Adang Fatimah Djalil di Padang Tiakar. Rencana pembangunan yang dilakukan terdiri dari :

  1. 2 (dua) unit bangunan asrama untuk laki-laki dan perempuan.
  2. 1 (satu) unit bangunan dapur
  3. 2 (dua) unit bangunan kamar mandi/ WC untuk laki-laki dan perempuan.
  4. 1 (satu) unit bangunan ruang makan yang sekaligus merupakan ruang pertemuan dan disini disediakan kamar untuk pengasuh.
  5. 1 (satu) unit bangunan kantor yang ditempatkan dibagian depan.

Dengan berakhirnya pembangunan asrama dalam kondisi separoh / sebagian tersebut pemerintah yang dalam hal ini Departemen Sosial langsung memanfaatkannya dengan merekrut anak-anak dalam kota Payakumbuh dan sekitarnya, dan asrama ini pada awalnya hanya mengasuh anak laki-laki saja, sementara asrama yatim di Bunian yang dikelola oleh ‘Aisyiyah mengasuh anak laki-laki dan perempuan.

Pada tahun 1963 panti asuhan yang dibangun dan dikelola pemerintah tersebut diserahkan kepada Muhammadiyah baik fisik maupun pola pengasuhan (manegemen) nya yang kesehariannya dikelola oleh ‘Aisyiyah cabang Payakumbuh.

Dengan dilakukannya penyerahan asrama ini, memulai babak baru perjalanan Panti Asuhan terutama penghuni (anak asuh) menjadi laki-laki dan perempuan.

Source rajotuo.blogspot.co http://rajotuo.blogspot.com/2018/04/sejarah-panti-asuhan-aisyiyah-payakumbuh.html
Comments
Loading...