Sejarah Paguyuban Pasundan Bandung

0 189

Paguyuban Pasundan

DI Jalan Sumatera, Bandung, menyimpan pesona bangunan tua. Selain bangunan SMA Negeri 2 dan 5, di sana juga ada cagar budaya lainnya, yakni bangunan yang kini digunakan oleh Pengurus Besar Paguyuban Pasundan.

Bangunan yang doniman bercat putih itu kokoh berdiri di depan bangunan Paguyuban Pasundan lainnya. Bangunan ini memiliki ciri khas bergaya arsitektur yang unik dan langka dan sangat menarik.

Bangunannya menghadap ke arah Timur ke Jalan Sumatera. Dari gerbang halaman kantor itu sudah terlihat. Ke sebelah Selatan gedung ini bersebelahan dengan Gedung Keuangan/Kadiklat Siliwangi yang juga masuk dalam daftar cagar budaya yang harus dilindungi.

Gedung ini dibangun pada 1905-1915. Namun belum diketahui siapa arsiteknya. Gedung ini berdiri di atas tanah seluas 1630 m2 dengan luas bangunan 460 m2. Sebelum ditempati Paguyuban Pasundan, gedung ini berfungsi sebagai rumah tinggal.

Paguyuban Pasundan merupakan organisasi yang terbentuk di Jakarta (Batavia) pada 1913. Awalnya merupakan kumpulan siswa-siswa STOVIA etnis Sunda yang sering berkumpul setiap Sabtu malam. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Sunda.

Kumpulan itu membuat mereka merasa perlu membentuk wadah untuk menyatukan di antara orang-orang Sunda yang bergerak di bidang Sosial-budaya. Organisasi memperlebar gerakannya di ranah politik saat Volksraad (Dewan Parlemen) berdiri.

Selama 25 tahun organisasi ini berkantor di Batavia. Pada 1939, pada masa kepemimpinan Oto Iskandardinata, kantornya pindah ke Jalan Sumatera No. 41, Bandung.

Organisasi ini dalam sejarahnya ikut membantu pembangunan besar-besaran di Jawa Barat. Mulai dari sekolah, pasar, bank, hingga gerakan kaum perempuan.

Source https://www.serbabandung.com https://www.serbabandung.com/paguyuban-pasundan/
Comments
Loading...