Sejarah Padepokan Indrakila Pasuruan

0 89

Padepokan Indrakila

Dulasis (44), juru kunci petilasan yang diserahi menjaga sejak tahun 1992 oleh Dinas Purbakala Mojokerto mengatakan bahwa petilasan-petilasan Padepokan Indrakila merupakan salah satu “pelajaran tentang kehidupan” atau “kawruh urip” karena terdapat gambaran manusia, mulai dari wujud sukma sejati, lahir ke dunia sampai kembali ke haribaan Tuhan (sukma ilang). Urut-urutan petilasan yang ada di sini dimulai dari:

1) Padepokan Sukma Sejati (Mbah Warok),

2) Padepokan Kebon Reca,

3) Padepokan Petung Medot,

4) Padepokan Satriya Menggung,

5) Padepokan Indrakila,

6) Padepokan Candi Laras,

7) Padepokan Pulosari, dan

8) Padepokan Sukmanang.

Tetapi di antara padepokan-padepokan itu yang menjadi pusatnya ada pada Padepokan Indrakila. Karena di situlah yang dipercaya sebagai tempat Eyang Begawan Mintaraga saat bertapa meminta “kesaktian” dari Dewata.

Menurut versi juru kunci Dulasis, cerita Padepokan Indrakila diawali ketika Arjuna bertapa digoda Lembu Andini yang rnenyamar sebagai bidadari. Ini yang menyebabkan tapa brata pertama ini gugur, sampai lengah karena air maninya tumpah dan menjadi “kama salah” yang berubah menjadi raksasa yang kelak menjadi Prabu Niwatakawaca dan mempunyai Patih Mamangmurka, yang menggoncangkan kahyangan.

Atas saran Bathara Indra Arjuna bertapa lagi di Indrakila, barulah mendapatkan restu dan mendapat kesaktian. Tetapi pada pertarungan pertama mengalami kekalahan, barulah sadar bahwa yang diperangi itu adalah darah dagingnya sendiri. Maka Arjuna mencari bantuan bidadari, dan saat Niwatakawaca tertawa Arjuna memanah tepat di langit-langit mulutnya, akhirnya tewas seketika. Bangkai raksasa Niwatakawaca oleh Eyang Badranaya (Semar) disabda menjadi Celeng Srenggi dan Patih Mamangmurka disabda menjadi tikus putih. Seterusnya kedua hewan ini tetap menjadi musuh Sri Sedana (padi), Sri Kuncung Jagung) dan Sri Jenjen (gadung).

Source warungkopipasuruan.blogspot.co http://warungkopipasuruan.blogspot.com/2013/01/padepokan-indrakila-kabupaten-pasuruan.html
Comments
Loading...