Sejarah Pabrik Gula Parungjaya

0 255

Pabrik Gula Parungjaya

Pabrik Gula Parungjaya atau Suikerfabriek Paroengdjaja adalah pabrik gula yang keberadaanya jarang diketahui. Pabrik Gula Parungjaya lokasinya berada di Desa Parungjaya Leuwimunding. Pabrik gula ini didirkan pada tahun 1848 bersamaan dengan dibangunnya Pabrik Gula Jatiwangi hal ini dikarenakan dibangun oleh pengusaha yang sama R. Twiss. Mengapa pabrik gula ini tidak banyak diketahui karena pabrik gula ini lebih dulu bangkrut di karenakan resesi ekonomi dunia pada tahun 1930-an. Jauh sebelum Indonesia merdeka.

Namun begitu pabrik gula ini sempat berkembang dan membangun jaringan pengangkutan tebu hingga wilayah panjalin di utara pabrik. Selain itu digunakannya fasilitas lori untuk mengangkut hasil pabrik gula ke Stasiun KA Prapatan di jalur kereta Cirebon – Kadipaten milik SCS. Tidak ada bentuk bangunan yang tersisa dari pabrik gula ini, hanya ada sisa sisa fondasi bangunan yang dibeberapa titik di Desa Parungjaya.

Pabrik Gula di kawasan Majalengka sebenernya tidak hanya tiga, pada saat Distrik Palimanan masih masuk wilayah Majalengka didirkan pula Pabrik Gula Gempol oleh J.W Muller, namun kemudian hari Distrik Palimanan dimasukan kedalam Kabupaten Cirebon. Pabrik gula yang dibangun lagi di wilayah Majalengka adalah Pabrik Gula Jatitujuh akan tetapi Pabrik Gula Jatitujuh bukanlah peninggalan kolonial karena dibuat pada tahun 1980-an pada era pemerintahan presiden Soeharto.

Pabrik gula era kolonial di beberapa wilayah Majalengka pada eranya menjadi sebuah cerita tersendiri, mungkin ada baraya yang merasakan pesta/upacara memulai musim pengilingan tebu, kenakalan dengan mencuri tebu di kebun atau di kereta lori atau sekedar menikmati kereta lori yang melintas di kawasan pemukiman sambil sesekali menaiki kereta tebu tersebut yang memang berjalan cukup lambat. Banyak yang menyangka jalur kereta lori tebu Pabrik Gula Kadipaten dan Jatiwangi bersambungan, akan tetapi sebenarnya tidak.

Hal ini dikarenakan ukuran rel dan roda kereta tebu yang berbeda, Pabrik Gula Jatiwangi menggunakan ukuran rel kereta tebu 600 cm ukuran normal kereta sejenis Trem. Sedangkan Pabrik Gula Kadipaten memiliki ukuran rel kereta lori yang dianggap nyeleneh yaitu 670 cm karena tidak ada yang menyamainya. Pabrik Gula era kolonial kini tinggal menyisakan puing-puing, namun dibalik puing puing tesebut terdapat ceritanya akan terus hidup untuk diceritakan untuk generasi mendatang.

Source https://infomajalengka.wordpress.com https://infomajalengka.wordpress.com/2015/10/21/jejak-pabrik-gula-kolonial-belanda-di-majalengka/
Comments
Loading...