Sejarah Pabrik Gula Padjarakan

0 159

Pabrik Gula Padjarakan

Beroperasi sejak masa kolonial, sebelum restrukturisasi BUMN Perkebunan tahun 1996 PG yang administratif masuk wilayah Kabupaten Probolinggo ini menjadi unit usaha PTP XXIV-XXV. Pada tahun 2010, PG Padjarakan merencanakan giling tebu sebanyak 145.080,2 ton (tebu sendiri 9.115,2 ton dan tebu rakyat 135.965,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 2.062,4 ha (TS 109,9 ha dan TR 1.952,5 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 11.323,5 ton (milik PG 4.301,2 ton dan milik petani 7.022,3 ton) dan tetes 6.528,7 ton. Selain areal berasal dari kecamatan dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, juga terdapat di Kabupaten Lumajang yang pembinaannya dilakukan PG Padjarakan sejak awal. Kapasitas PG 1.382 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 1.245 tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Gending beberapa kali mengalami pemantapan kapasitas sejalan meningkatnya ketersediaan tebu dari yang semula hanya 1.100 tth. Pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak. Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija. PG Padjarakan yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif. Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis. Upaya menarik animo petani juga dilakukan melalui perbaikan kinerja pabrik dan kelancaran giling.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya. Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Padjarakan antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30. Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

Source http://rsholihin2013.blogspot.com http://rsholihin2013.blogspot.com/2013/06/pg-padjarakan.html
Comments
Loading...