situsbudaya.id

Sejarah Negeri Morella Maluku

0 49

Sejarah Negeri Morella

Negeri Morella adalah penggabungan dari beberapa Aman ( Hena) atau Negeri Lama, yakni Negeri Lama Kapahaha, Negeri Lama Iyal Uli, Negeri Lama Putulesi dan Negeri Lama Ninggareta. Keempat Aman atau Negeri Lama inilah yang membentuk suatu Aman atau Negeri Hausihu Morella.

Menurut tua-tua adat, leluhur yang tinggal di Negeri-negeri lama tersebut berasal  dari Ula Pokol. Ula Pokol merupakan pusat negeri pertama sejak dulu, juga merupakan tempat yang sangat disakralkan oleh masyarakat Morella karena dipercayai sebagai tempat hunian Roh-roh Gaib (Rijalal Gaib). Ula Pokol terletak di pegunungan Salahutu, mula-mula yang hidup ditempat tersebut adalah Uka Latu Tapil, Beliau berasal dari Timur Tengah. Uka Latu Tapil datang ditempat tersebut dengan membawa seekor burung Manulatu (Burung Raja).

Dikisahkan pula oleh para Tua-tua Adat setelah Uka Latu Tapil berada di Ula Pokolmuncul tiga orang  yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai pendahulu atau penemu daerah baru tersebut, ditengah peredebatan sengit itu tiba-tiba mereka mendengar kicauan Burung Manulatu. Akhirnya mereka menyadari ternyata daerah itu telah berpenghuni dan mereka bertiga pun bersepakat untuk menemukan pemilik Manulatu tersebut. Ketiga orang tersebut adalah Tuhe, Meten dan Hiti. Tidak beberapa lama kemudian Tuhe, Meten dan Hitimenemukan orang yang dicari di Ula Pokol tersebut, saat itu dia sedang duduk bersemedi (Bersembahyang).

Dihadapan orang yang sedang duduk itu, mereka mengikrarkan “ Upu Tapil Ame” yang bermakna Tuanku Pelindung/Junjungan Kami, beliaulah Uka Latu Tapil. Tuhe, Meten dan Hitikemudian dikukuhkan sebagai Hulubalang atau pengawal Uka Latu Tapil, selanjutnya Uka Latu Tapil kemudian meletakkan tiga buah batu di Salahutu sebagai “ Hatu Manuai Telu” atau Batu Tiga Tuan Tanah karena disinilah tempat pertemuan Tuhe, Meten dan Hiti.

Dalam perkembangan selanjutnya Tuhe Meten Dan Hiti meminang seorang putri yang bernama Hatuatina yang berasal dari Nusa Ina (Pulau Seram) tepatnya di pusat tiga aliran sungai Eti, Tala dan Sapalewa di Nunusaku Salahua untuk menjadi istri Uka Latu Tapil, dari perkawianan itu Uka Latu Tapil dan istrinya memperoleh tujuh orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Dari ketujuh anak laki-laki tersebut hanya anak yang bernama Tuharela / Umarella yang menjalani kehidupan normal sebagai manusia, sedangkan keenam lainnya menjalani hidup sebagai Sufisme Tulen (Gaib). Tuharella beristrikan seorang perempuan yang bernama Alungnusa dari Pulau Seram. Dari perkawinan inilah melahirkan/beranak pinak  sebagian besar warga Morella sekarang.

Melalui proses perkawinan maka semakin banyak manusia di tempat itu (Ula Pokol) dan karena keadaan alam, merekapun  mengadakan perpindahan ke beberapa tempat di daerah pegunungan yaitu ke Ama Ela (Gunung Kukusan) kemudian berpindah lagi ke Kapahaha dan sebagian ke Iyal Uli, Ninggareta, dan Putulessy. Walaupun ke-empat negeri lama ini terpisah jarak satu dengan yang lain namun kehidupan mereka bersatu dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan, dimana pusat pemerintahan adatnya berada di Kapahaha yang saat itu pimpinan adat tertinggi di pegang oleh Tuhe, Meten, dan Hiti (Salamoni). Sementara pelaksanaan keagamaannya di pusatkan di Iyal Uli.

Dari abad keabad kehidupan empat negeri lama ini dalam keadaan rukun dan damai, sampai pada akhir abad ke-6 ketika Bangsa Penjajah bercokol di Maluku, ke empat negeri lama ini bersatu untuk mempertahankan wilayah mereka dari serangan kaum penjajah. Kapahaha kemudian dijadikan sebagai pusat pertahanan untuk melawan kaum penjajah tersebut hal ini dikarenakan letaknya yang strategis dengan Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa) sebagai panglima perang.

Pada saat itu beberapa benteng pertahanan di Maluku sudah di taklukkan oleh Belanda sehingga para kapitan dan malesi dari daerah-daerah tersebut di tambah dengan bala bantuan dari daerah-daerah lain  bergabung di Benteng Kapahaha seperti dari Kerajaan Ternate,  Kerajaan Gowa, Tuban, Alaka, Huamual, Iha, Buru, Nusa Laut, Banda dan lain-lain. Mereka melakukan perlawanan terhadap kaum kompeni yang berlangsung dari tahun 1637 sampai dengan 1646.

Ketika pada tahun 1646 Kapahaha berhasil ditaklukkan oleh kaum penjajah Belanda, maka semua rakyat kapahaha, para kapitan dan malesi serta seluruh personil bantuan tersebut diturunkan dari Bentang Kapahaha dan ditawan di pantai Teluk Telapuan (Teluk Sawatelu Morella).

Setelah adanya pengumuman pembebasan tawanan perang kapahaha oleh gubernur Van Deimer, maka mereka mengadakan acara perpisahan sebelum kembali ke daerah masing-masing, dalam acara perpisahan itu di isi dengan lagu-lagu dan tari-tarian adat serta sekelompok Pemuda Kapahaha mengadakan Atraksi Pukul Sapu Lidi. Hari itu yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 1646 mereka memberikan nama bagi Rakyat Kapahaha yang akan mereka tinggalkan dengan gelar Hausihu yang bermakna Kobaran Api Perjuangan (Kapahaha Hausihu Holi Siwalima).

Sementara itu, Rakyat Kapahaha Hausihu oleh belanda tidak diperkenangkan untuk kembali lagi ke Negeri Lama dipegunungan dengan maksud untuk memudahkan pengawasan Belanda terhadap mereka. Maka mereka kemudian menempati wilayah kurang lebih 3 km kearah selatan dari arah Sawatelu yaitu wilayah Morella sekarang dengan nama negerinya Hausihu Morella.

Source http://juliansoplanit.blogspot.co.id/ http://juliansoplanit.blogspot.co.id/2012/01/negeri-morella.html
Comments
Loading...