Sejarah Monumen Tumpak Rinjing Pacitan

0 174

Monumen Tumpak Rinjing

Monumen Tumpak Rinjing merupakan salah satu monumen yang dibangun di wilayah Pacitan untuk mengenang perjuangan pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Monumen ini terdiri atas dua buah patung pada bagian atasnya dimana salah satu patungnya merupakan Patung Jendral Sudirman. Tidak banyak yang tahu bahwa monumen ini memiliki sejarah penting mengenai peperangan gerilya yang dilancarkan oleh Panglima Besar Jendral Sudirman.

Monumen Tumpak Rinjing terletak di desa Pringkuku, kecamatan Pringkuku, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Merupakan rute gerilya Panglima Besar Jendral Sudirman di Pacitan dalam berjuang melawan penjajah.

Lokasi Monumen Tumpak Rinjing berada di tepi jalan utama penghubung antara Pacitan dengan Wonogiri. Keberadaannya mudah diketahui karena terlihat jelas dari tepi jalan. Namun sepertinya banyak orang yang tidak menghiraukan karena terlihat tidak menarik dan terlihat kurang terawat. Orang-orang hanya mengenal bangunan tersebut sebagai monumen usang yang tidak diketahui fungsi dan tujuan pembangunan monumen. Padahal bila ditelusuri lebih dalam, monumen ini didirikan untuk mengenai sebuah peristiwa yang cukup besar. Berikut kutipan tulisan yang ada di dinding monumen yang kondisinya masih dapat dibaca yaitu :

“Monumen Tumpak Rinjing dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran di Tumpak Rinjing. Pertempuran terjadi pada tanggal 7 Juni 1948 di Tumpak Rinjing antara tentara Indonesia yang dipimpin Jendral Soedirman dibantu masyarakat Pacitan melawan Pemerintah Kolonial Belanda”.

Dari tulisan tersebut menyebutkan tempat ini merupakan salah satu bukti sejarah Indonesia yang sangat penting. Namun tidak diketahui mengapa tempat ini tidak terawat dan diabaikan begitu saja. Padahal perjuangan para pahlawan terdahulu tidak dapat ditebus oleh apapun. Memang, mungkin peristiwa sejarah di kawasan Monumen Palagan Tumpak Rinjing tidak disebutkan di dalam buku mata pelajaran sejarah. Di dalam buku sejarah yang dipelajari di sekolahan hanya menyebutkan rute gerilya Panglima Besar Jendral Sudirman dan tanpa menyebut peristiwa yang terjadi ketika melakukan gerilya. Namun sebagai bangsa yang besar, kita harus mengingat sejarah dan meluruskannya agar diingat dan dikenang oleh anak cucu kita.

Cukup disayangkan pemerintah kurang tanggap dalam mengelola peninggalan sejarah baik masa kerajaan maupun masa perjuangan melawan penjajah. Kami berharap semoga monumen-monumen lain yang dibangun di Indonesia mendapat perawatan yang baik. Karena kami merasa banyak monumen bersejarah yang terbengkalai dan tidak terawat sebagai mana semestinya. Semoga kelak anak cucu kita juga masih mengingat perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa dengan keberadaan monumen yang dibangun.

Source https://teamtouring.net https://teamtouring.net/monumen-tumpak-rinjing-pacitan.html
Comments
Loading...