Sejarah Monumen Pers Nasional Surakarta

0 802

Lokasi Monumen Pers Nasional

Monumen Pers ini terletak di Jalan Gajah Mada No. 29 Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provisi Jawa Tengah,  di sudut Jl. Gajah Mada dan Jl. Yosodipuro.  Letaknya di sebelah barat Istana Mangkunegaran. Kompleks museum terdiri dari bangunan asli Sasana Soeka, dua gedung berlantai dua, dan satu gedung berlantai empat.

Sejarah Monumen Pers Nasional

Bangunan tempat berdirinya Monumen Pers Nasional dibangun sekitar tahun 1918 atas perintah Mangkunegara VII, Pangeran Surakarta, sebagai balai perkumpulan dan ruang pertemuan. Bangunan ini dulunya bernama “Societeit Sasana Soeka” dan dirancang oleh Mas Abu Kasan Atmodirono. Pada tahun 1933, Sarsito Mangunkusumo dan sejumlah insinyur lainnya bertemu di gedung ini dan merintis Solosche Radio Vereeniging, radio publik pertama yang dioperasikan pribumi Indonesia. Tiga belas tahun kemudian, pada tanggal 9 Februari 1946, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dibentuk di gedung ini.

Monumen Pers Nasional

Tanggal 9 Februari 1956, dalam acara perayaan sepuluh tahun PWI, wartawan-wartawan ternama seperti Rosihan Anwar, B.M. Diah, dan S. Tahsin menyarankan pendirian yayasan yang akan menaungi Museum Pers Nasional. Yayasan ini diresmikan tanggal 22 Mei 1956 dan sebagian besar koleksi museumnya disumbangkan oleh Soedarjo Tjokrosisworo. Baru lima belas tahun kemudian yayasan ini berencana mendirikan museum fisik. Rencana ini secara resmi diumumkan oleh Menteri Penerangan Budiarjo pada tanggal 9 Februari 1971.

Nama “Monumen Pers Nasional” ditetapkan tahun 1973 dan lahannya disumbangkan ke pemerintah tahun 1977. Museum ini resmi dibuka tanggal 9 Februari 1978 setelah dilengkapi beberapa bangunan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto memperingatkan pers akan bahaya kebebasan. Ia menyatakan, “menikmati kebebasan demi kebebasan itu sendiri adalah keistimewaan yang tak mampu kita dapatkan”.Pada tahun 2012, museum ini dikepalai oleh Sujatmiko.

Museum ini sekarang dijadikan tempat wisata pendidikan dan menerima sumbangan material terkait pers di Indonesia. Museum ini jarang dikunjungi dan beberapa ruangannya tidak terawat. Masyarakat menganggap museum sebagai tempat yang tidak menarik atau membosankan. Demi menarik pengunjung baru, pihak museum mengadakan serangkaian kompetisi pada tahun 2012 dan 2013, termasuk kontes fotografi di laman Facebook-nya. Mereka juga mengadakan pameran keliling di sejumlah kota seperti Yogyakarta dan Magelang. Antara Januari dan September 2013, museum ini dikunjungi 26.249 orang, meningkat dari tahun sebelumnya dikarenakan upaya promosi dari pengelola museum.

Fasilitas di Monumen Pers Nasional

Museum ini memiliki pusat media. Di sana masyarakat bisa mengakses Internet gratis melalui sembilan komputer yang tersedia. Ada pula perpustakaan dengan koleksi 12.000 buku, ruang baca koran dan majalah lama yang sudah didigitalisasi di tempat, dan ruang mikrofilm yang sudah tidak digunakan lagi.

 

Source Monumen Pers Nasional Surakarta
Comments
Loading...