Sejarah Menara Seruling

0 57

Menara Seruling

Menara Seruling atau Menara Sirine Bahaya (Air Raid Siren) atau kalau di luar Malang biasa disebut dengan Garling (Gardu Seruling) pada zaman dahulu merupakan sebuah tanda jika ada bahaya dari udara.

Sirine atau seruling dapat dioperasikan manual ataupun dengan listrik. Untuk yang manual, para pekerja memutar seruling tersebut. Mereka bisa naik melalui tangga yang tersedia di menara. Dua cara pengoperasian ini difungsikan apabila terjadi pemadaman listrik.

Di Malang, dulu keberadaan menara yang dibangun pada tahun 1938 hingga 1940 ini tersebar dimana-mana. Dari Jl. Tenes (dekat stadion Gajayana sekarang), Jl. Nusa Kambangan (dekat Gedung Cendrawasih dulu), Jl. Muharto (dekat mesjid), Jl. Lembang (Samaan), Jl. Ahmad Yani (Blimbing), Jl. Kaliurang, dalam areal RSUD Syaiful Anwar ( sudah dirobohkan ) dan lain sebagainya. Saya sendiri tidak pernah tahu data berapa jumlah menara tersebut di Kota Malang. Dari peta yang ada di laman museum Belanda, tertulis jika ada delapan menara yang dibangun di wilayah Malang.

Belanda memang getol mempertahankan Malang karena kota ini merupakan kota strategi harus dilindungi wilayahnya. Karena itu seruling sebagai penanda akan dibunyikan saling sambung dengan yang lainnya begitu serangan datang dengan harapan tentara bisa langsung bersiap tanpa dikomando.

Tetapi, Jepang akhirnya bisa juga menguasai Malang. Saat mereka di Malang fungsi alat itu berubah. Kakek penulis menceritakan jika saat seruling berbunyi maka masyarakat sipil disuruh masuk rumah semua karena akan ada pasukan Jepang yang akan lewat. Sehingga keberadaannya menjadi sebuah simbol ketakutan rakyat terhadap penjajahan Jepang di Malang.

Memang, bunyi dari alat yang lebih mirip dengan terompet ini seperti mistis. Penulis sendiri belum pernah mendengarkan bunyi aslinya karena di tahun 80-an sejumlah menara di Malang sudah tidak berbunyi lagi. Namun dari Buku Malang Tempoe Doeloe karya Dukut Widodo ada ilustrasi bunyi dari seruling itu.

Kalau Anda saksikan di TV acara detik-detik Proklamasi 17 Agustus, maka akan terdengar suara lonceng gereja, dentuman meriam, dan lamat-lamat terdengar suara suling. Nah, seperti itulah bunyi Suling Tanda Bahaya Udara tersebut.

Setelah merdeka, kabarnya seruling i Malang sempat dimanfaatkan untuk penanda sahur ataupun buka puasa. Namun, kini sudah tidak berbunyi lagi, bahkan Seruling yang ada di Jalan Lembang sudah hilang dan tinggal menaranya saja.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co
Comments
Loading...