Sejarah Masyarakat Lampung Cikoneng

0 51

Sejarah Masyarakat Lampung Cikoneng

Hal lain yang menarik di Anyer adalah adanya pemukiman yang dikenal dengan nama masyarakat Lampung Cikoneng. Menurut kisah yang dituturkan secara turun-temurun di pemukiman ini, cikal bakal masyarakat Cikoneng bermula pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Diceritakan bahwa kedatangan orang-orang Lampung ke Banten, khususnya di Desa Cikoneng, dilatarbelakangi oleh permintaan dari Maulana Hasanuddin kepada kerajaan Tulang Bawang di Lampung untuk membantu menyebarkan ajaran agama Islam. Kerajaan Tulang Bawang mengirim utusannya sebanyak 40 utusan untuk memenuhi permintaan itu. Selanjutnya keempat puluh utusan itu menetap di Desa Cikoneng.Tokoh-tokoh yang ikut memimpin masyarakat Cikoneng tersebut adalah Minak Sangaji, Tulak Saka, Buyut Kuning dan seorang Hulubalang.

Seiring dengan berjalannya waktu, Desa Cikoneng semakin berkembang. Keletakannya yang berada di tepi pantai Selat Sunda yang ramai dilalui kapal, menyebabkan wilayah Cikoneng menjadi wilayah starategis dalam jalur perdagangan dan militer. Untuk mengamankan jalur ekonomi dan militernya yang melalui jalur pelayaran vital, yaitu Selat Sunda, pemerintah kolonial membangun mercusuar yang ditempatkan di atas Tanjung Cikoneng.

Mercusuar yang dibangun pertamakali di wilayah Cikoneng kemudian hancur bersamaan dengan meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Bangunan mercusuar yang dibangun tepat di tepi pantai Anyer Kidul yang terlihat saat ini, hanyalah bagian pondasi bangunannya saja.

Akibat dari peristiwa bencana alam tersebut seluruh kehidupan di sekitar pantai Anyer hancur dan ditinggalkan oleh penduduknya. Setelah bencana alam tersebut, pemerintahan kolonial Belanda berusaha memulihkan kehidupan di sekitar Pantai Anyer dengan melakukan beberapa pembangunan, antara lain pembangunan kembali mercusuar yang sangat penting keberadaannya bagi pengamanan jalur pelayaran Selat Sunda.

Dampak bencana letusan Gunung Krakatau tidak hanya menghancurkan mercusuar Anyer. Menurut tradisi yang berkembang di Cikoneng, dampak letusan Gunung Krakatau juga menghancurkan hampir seluruh sendi kehidupan di sepanjang pantai. Namun demikian, bencana tersebut tidak menyebabkan bangunan masjid Darul Falah menjadi hancur. Bangunan masjid ini tetap berdiri kokoh dan hanya mengalami kerusakan kecil, sehingga ketika kondisi lingkungan alam Anyer termasuk Cikoneng sudah kembali normal, masyarakat Cikoneng yang selamat, kembali menempati lahan tempat tinggal mereka dengan berpatokan pada keberadaan bangunan masjid Cikoneng yang masih berdiri.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/anyer-antara-situs-kubur-dan-mercusuar/
Comments
Loading...