Sejarah Masjid Sultan Kasimuddin Kalimantan Utara

0 207

Lokasi Masjid Sultan Kasimuddin

Masjid Sultan Kasimuddin terletak di Desa Tanjung Palas Tengah, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia.

Sejarah Masjid Sultan Kasimuddin

Menurut H. E. Mohd Hasan, dkk, Mesjid Kasimuddin di Bangun sekitar tahun 1900-an, letaknya tak begitu jauh dari bekas mesjid pertama yang dibangun oleh Sultan Datu Alam Muhammad Adil yang berada di dekat tepi sungai Kayan. Lokasi masjid yang kini berdiri terpaut sekitar 150 meter ke arah darat dari lokasi mesjid pertama. Pemindahan lokasi masjid ini kemungkinan besar karena lokasi masjid lama sangat dekat dengan sungai, sehingga dikhawatirkan pondasinya bisa rubuh dan membahayakan jemaah.

Kondisi tanah agak becek karena berupa tanah rawa sehingga masyarakat bergotong royong membersihkan dan menimbunnya. Uniknya waktu penimbunan tanah pada siang hari untuk kaum laki-laki sedangkan pada malam hari dikerjakan oleh kaum wanita. tidak hanya masyarakat biasa, Sultan Kasimuddin, beserta staf istana dan pegawai mesjid juga turut terlibat penuh dalam pembangunan mesjid bersejarah ini.

Pada awalnya lantai masjid ini hanya dilapisi tikar, kemudian dengan biaya Sultan Kasimuddin sendiri lantai tersebut dipercantik dengan marmer sampai sekarang. Marmer dimesjid Kasimuddin ini kemduian diperindah dimasa Sultan Djalaluddin. Sisi dalam masjid ini juga diperindah dengan seni kaligrafi Islam. sebagai bangunan bersejarah Masjid Sultan Kasimuddin sudah beberapa kali mengalami pemugaran yang dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Timur dari tahun anggaran 1992/1993-1993/1994.

Sebagai masjid Kesultanan, mesjid Kasimuddin memiliki kaitan yang kuat dengan istana Bulungan. Pada awalnya para imam mesjid dijabat secara turun temurun. Jabatan imam merupakan jabatan penting. Di tahun 1933 Sultan Kasimuddin melantik tiga belas pejabat keagamaan di Istana Bulungan. Dan kemungkinan besar Qadi yang dilantik pada saat itu adalah Hadji Baha’Uddin, ulama asal Minangkabau, sedangkan Mufti kemungkinan besar adalah Hadji Syahabuddin Ambo’ Tuwo, ulama asal Wajo yang juga guru mengaji di Istana Bulungan tempo dulu. Dimasa Sultan Kasimuddin berkuasa, jabatan Mufti Negeri, Qadi dan Imam Besar memiliki peran dan pengaruh yang besar untuk melakukan pembinaan terhadap umat.

Source http://bujangmasjid.blogspot.co.id/ http://bujangmasjid.blogspot.co.id/2012/12/masjid-sultan-kasimuddin-bulungan_22.html
Comments
Loading...