Sejarah Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda

0 54

Masjid Shirothal Mustaqim

Masjid Shirotal Mustaqim terletak di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapainya dari pusat kota Samarinda, harus menyeberangi sungai Mahakam melalui Jembatan Mahakam.

Kota Samarinda dipercayai didirikan oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa setelah Kerajaan Gowa dikalahkan oleh Belanda sekitar abad 16. Sebagian pejuang Bugis yang menentang Belanda memilih untuk berhijrah ke daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai kala itu. Kedatangan mereka ini disambut baik oleh Raja Kutai yang ditunjukkan dengan pemberian lokasi pemukiman di sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan.

Dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh. Orang-orang Bugis Wajo mulai menetap di lokasi tersebut pada bulan Januari 1668. Lama kelamaan kawasan ini berkembang dan dikenal dengan sebutan Samarinda, yang berasal dari kata “sama rendah” yang dimaksudkan untuk menunjukkan persamaan hak dan kedudukan masyarakatnya.

Sekitar tahun 1880, datang seorang pedagang muslim dari Pontianak, Kalimantan Barat bernama Said Abdurachman bin Assegaf ke Kerajaan Kutai untuk berdagang sembari menyiarkan Agama Islam, ia memilih kawasan Samarinda Seberang sebagai tempat tinggalnya. Hal itu ditanggapi dengan baik oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman. Melihat ketekunan dan ketaatan Said Abdurachman dalam menjalaankan syariat agama Islam, sultan mengizinkan Said Abdurachman tinggal di kawasan Samarinda Seberang dan memberinya gelar sebagai Pengeran Bendahara.

Sebagai tokoh masyarakat, Said Abdurachman mengemban tugas dan tanggungjawab yang besar. Berawal dari keprihatianannya terhadap kondisi masyarakat kala itu yang masih suka berjudi (disiang hari judi sabung ayam, malam hari judi dadu) dan memyembah berhala, beliau tergerak hati untuk membangun sebuah masjid yang lokasinya di pusat kegiatan tersebut dengan harapan dapat menghentikan kegiatan maksiat dan sesat tersebut.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1881M dengan pemancangan 4 tiang utama (soko guru). Ke em[at soko guru tersebut merupakan sumbangan dari tokoh adat kala itu, 1 tiang utama dari Kapitan Jaya didatangkan dari loa Haur (Gunung Lipan), 1 tiang utama dari Pengeran Bendahara didatangkan dari Gunung Dondang, Samboja, 1 tiang utama dari Petta Loloncang di datangkan dari Gunung Salo Tireng (Sungai Tiram) dan 1 tiang utama lainnya dari didatangkan dari Suangai Karang. Pemancangan empat sokoguru ini memiliki cerita sendiri yang melegenda hingga kini ditengah masyarakat Samarinda.

Pembangunan masjid ini memakan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya sampai sepuluh tahun. Pada tanggal 27 Rajab 1311 Hijriyah (1891M), pembangunan masjid akhirnya rampung dan diresmikan oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus di daulat menjadi imam sholat untuk pertama kalinya yang diselenggarakan di Masjid Shirothal Mustaqim. Kawasan tempat masjid ini berada pun kemudian berubah total menjadi kawasan yang relijius bahkan kampung letak masjid ini berada kemudian dikenal dengan nama Kampung Mesjid, sedangkan ruas jalan di depan masjid ini dinamai dengan nama Jalan Pangeran Bendahara yang merupakan gelar dari Said Abdurachman bin Assegaf, sebagai bentuk penghargaan atas jasa jasanya.

Semaraknya syiar Islam di Masjid Shirothal Mustaqim ini telah menarik perhatian seorang Saudagar kaya Belanda yang bernama Henry Dasen untuk memeluk Islam pada tahun 1901. Setelah ber-Islam beliau turut menyumbangkan hartanya untuk masjid dengan mendanai pembangunan sebuah menara tempat muazin mengumandangkan azan di masjid ini. Menara ini juga masih berdiri kokoh hingga kini.

Masjid ini kini menjadi salah satu tempat wisata religi pavorit di kota Samarinda. Ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Bahkan menurut penuturan pengurus masjid Shirothal Mustaqim, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyempatkan diri singgah ke masjid ini untuk Salat Subuh bersama dengan warga Samarinda Seberang dalam sebuah lawatannya ke Samarinda.

Di bulan September 2003, Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda ini meraih anugerah sebagai peserta terbaik ke-dua di Festival Masjid Masjid Bersejarah Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia. Selain itu, Masjid Shirothal Mustaqim termasuk sebagai bangunan cagar budaya di kota Samarinda yang dilindungi UU No 5 tahun 1992.

Source bujangmasjid.blogspot.co http://bujangmasjid.blogspot.com/2012/01/masjid-shirothal-mustaqim-masjid-tertua.html
Comments
Loading...