Masjid Saka Tunggal Baitussalam di Banyumas

0 253

Lokasi Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Masjid Saka Tunggal Baitussalam terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Banyumas. , Banyumas, Jawa Tengah. Di kawasan masjid yang dipenuhi dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. 

Sejarah Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Masjid ini didirikan tahun 1288M, 2 abad sebelum Wali Songo sebagaimana tertulis di prasasti yang terpahat di saka masjid itu. Sejarah Masjid Saka tunggal senantiasa terkait dengan Tokoh penyebar Islam di Cikakak, bernama Mbah Mustolih yang hidup dalam Kesultanan Mataram Kuno. Beliau dimakamkan tak jauh dari masjid Saka Tunggal Gerbang Masjid Saka Tunggal Baitussalam. Nama resmi masjid ini adalah Masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama Masjid Saka Sunggal karena memang Masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). 

Masjid Saka Tunggal

 

Karakteristik  Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Keaslian yang masih terpelihara adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imam. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Ukiran seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit. Kekhasan yang lain adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok.

Filosofi di Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Salah satu keunikan  Masjid Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi. Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia.

Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang”.

Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.

 

Source Masjid Saka Tunggal Banyumas
Comments
Loading...