Sejarah Masjid Raya Koto Baru Sumatera Barat

0 131

Lokasi Masjid Raya Koto Baru

Masjid Raya Koto Baru terletak di Koto Baru, Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat 27776.

Masjid Raya Koto Baru

Hasil gambar untuk Sejarah Masjid Raya Koto Baru Sumatera Barat

Masjid yang awalnya bernama Masjid Batu Koto Baru ini mulai dibangun pada tahun 1922. Namun pembangunan masjid ini baru benar-benar selesai pada tahun 1933, karena pada 28 Juni 1926 terjadi gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richteryang berpusat di Padang Panjang, yang mengakibatkan dinding-dinding masjid ini mengalami kerusakan parah. Menyusul kejadian gempa tersebut orang-orang Jepang diketahui telah berada di Solok Selatan. Saat itu secara tidak sengaja pemuka masyarakat setempat bertemu dengan arsitek asal Jepang lalu meminta pendapatnya apakah masjid ini masih memungkinkan untuk digunakan, kemudian setelah diteliti arsitek asal Jepang itu mengatakan bahwa masjid ini masih layak digunakan.

Meskipun termasuk salah satu masjid tertua, sejak dibangun masjid ini belum pernah dipugar secara besar-besaran. Masjid ini juga belum banyak mengalami renovasi sehingga keasliannya masih tetap terjaga. Renovasi yang pernah dilakukan hanya berupa perbaikan dinding yang rusak akibat gempa yang biayanya diperoleh secara swadaya baik dari masyarakat sekitar maupun di perantauan pada tahun 1947. Tanpa mengubah bentuk aslinya, puncak masjid ini juga pernah diperbaiki dua kali, yakni pada tahun 1980 dan 1992. Selanjutnya pada tahun 2004, pemerintah setempat memberikan bantuan untuk membangun gerbang di halaman masjid ini.

Bangunan Masjid Raya Koto Baru

Perpaduan dari berbagai corak terlihat jelas pada arsitektur masjid ini, umumnya yaitu Persia dan Minangkabau. Seperti arsitektur masjid khas Minangkabau lainnya, atap masjid ini terdiri beberapa tingkatan yang sedikit cekung, hanya saja di tingkatan atap teratas terdapat ruang berbentuk persegi dengan empat atap bergonjong mengarah ke empat penjuru mata angin yang dilengkapi dengan mustaka di bagian tengahnya. Menurut Thamrin, pemuka masyarakat setempat, empat gonjong melambangkan empat raja dari empat suku yang bermukim di kawasan Alam Surambi Sungai Pagu, yaitu Malayu, Kampai, Panai, dan Tigo Lareh, sementara mustaka yang menjulang setinggi lebih kurang 1,5 meter merupakan perlambangan bahwa empat raja tersebut bertuhan kepada yang satu, yakni Allah.

Secara keseluruhan arsitektur pada masjid ini menyerupai arsitektur Masjid Rao Rao di Kabupaten Tanah Datar. Dalam pidato peringatan 100 tahun Masjid Rao Rao pada tahun 2008, Shodiq Pasadigoe, Bupati Tanah Datar waktu itu menyebutkan bahwa masjid ini memang diminta dibangun serupa dengan Masjid Rao Rao. Namun berbeda dengan Masjid Rao Rao, masjid ini memiliki dua menara, hanya saja menara yang masing-masing menyatu dengan atap di sisi kiri dan kanan tersebut berbentuk sama dengan yang terdapat di Masjid Rao Rao, yaitu memiliki ruang berbentuk segidelapan dengan atap berbentuk kubah.

Source https://id.wikipedia.org/wiki/ https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Raya_Koto_Baru
Comments
Loading...