Sejarah Masjid Jami’ Besar Bengkayang

0 149

Masjid Jami’ Besar Bengkayang

Masjid Jami’ Besar Bengkayang. Masjid ini merupakan bangunan pertama dan bersejarah di Bengkayang. Bangunan yang awalnya hanya sebuah surau ataupun langgar yang diperkirakan berdiri pada tahun 1920 an. Sejak awal berdiri bangunan tersebut digunakan untuk Salat Jumat.

Siapa-siapa pemakarsa berdiri surau cikal bakal masjid Jami’ hanya berupa perkiraan. Pasalnya mereka yang berjasa telah meninggal dunia. Mereka yang masih ada hanya anak dan cucu mereka yang juga tidak mengetahui dengan pasti siapa pendiri surau tersebut.

“Semuanya sudah pada meninggal, saya cerita yang ingat-ingat jaklah ya,” kata Ngadinun mulai bercerita. Dia pria lanjut usia yang saya temui di kediamannya, Jalan Singkawang beberapa waktu lalu. Ngadinun lahir pada tahun 1926. Katanya, saat itu surau Jami, telah berdiri. Namun demikian, Ngadinun tidak ingat siapa pendiri Surau itu.

Saya tidak ingat pendirinya, yang saya ingat cuma tukang surau itu saja, mereka diantaranya adalah Mat Arif atau yang kami panggil dengan Wak Aek, kemudian ada juga Pak Yahya,” ucap Ngadinun. Suaranya terdengar parau, putus putus, sesuai dengan umurnya yang mencapai delapan puluh tahun.

Cerita Ngadinun, waktu itu bangunan surau terbuat dari kayu, berbentuk panggung dengan kayu belian, berdinding papan dan atap sirap. Atap sirap itu terbuat dari kepingan kayu belian dan sudah jarang ditemukan pada zaman sekarang.

“Kira-kira besarnya bangunan surau sekitar 4×4 atau 4×6, dan suraunya tidak ada namanya,” tambah pria kelahiran Bengkayang ini memperkirakan.

Bentuk surau sederhana itu dibenarkan Basirun. Pria kelahiran 1930 an ini mengatakan bangunan surau cikal bakal Masjid Jami’ itu berbentuk limas. Bangunannya seperti rumah biasa dan tidak memiliki kubah.

“Dulu surau itu tempat kami main, semua kawan-kawan suka ngumpul di sana,” kata pria yang pernah bekerja saat tentara Jepang menduduki Bengkayang ini.

Ngadinun dan Basirun sepertinya sepakat bahwa surau cikal bakal Masjid Jami itu merupakan surau pertama di Bengkayang yang saat itu masih sebagai daerah terpencil. Saat itu jarak antara surau yang satu dengan surau yang lain bisa mencapai tiga puluh sampai empat puluh kilo meter.

‘Karena surau itu satu-satunya di Bengkayang, surau itupun sejak awal digunakan untuk menjalankan ibadah Salat Jumat,” kata H. Jayadi Bin H. Sulaiman.

Kata pria kelahiran 1944 ini, surau dibangun di tengah-tengah jumlah penduduk muslim yang baru mencapai 50 kepala keluarga. Pembangunan surau itu dilakukan mengingat letak surau lain sangat jauh dari Bengkayang.

‘Ada surau tapi di daerah Samalantan dan Sanggau Ledo, yang jaraknya dari Bengkayang sejauh tiga sampai empat puluh kilo meter,” jelas Jayadi saat ditemui di kediamannya.

Lain halnya dengan Ngadinun dan Basirun, Jayadi memperkirakan surau cikal bakal Masjid Jami berdiri pada tahun 1927. Salah satu perintis surau itu adalah Wak Aek.

“Yang saya tahu, salah satu perintisnya adalah Wak Aek, Wak Aek ini sebagai penjaga atau pengurus masjid, dia yang azan, dia yang qamat, dia juga yang bersih bersihkan surau,” kata Jayadi.

Bangunan Surau yang saat itu menjadi pusat pembelajaran Islam di Bengkayang bertahan hingga puluhan tahun, kemudian sekitar tahun lima puluhan, surau itu diubah menjadi Masjid, dengan nama Masjid Jami’ Bengkayang.

‘Sekitar tahun 1957-an surau diresmikan menjadi masjid, pelopornya adalah Haji Muhammad. Masjid kemudian diresmikan dan ditandatangani Pak Ikram sebagai KUA Kecamatan Bengkayang,” jelas Jayadi.

Kemudian pada tahun 1976, Surau yang telah berubah mejadi Masjid tersebut dibongkar. Musni dan Karni, dua dari beberapa pengurus dan tokoh agama sebagai pelopor. Kemudian, di lokasi yang sama dibuatlah sebuah Masjid pengganti dengan ukuran kurang lebih 19 kali 23.

“Saat itu Masjid dibangunan dengan kokoh, lantainya cor semen, berdinding semen dan beratapkan seng,” jelas Jayadi, Ketua Pengurus Masjid Jami tahun 1990-2006 ini.

Karena semakin bertambahnya jamaah, perluasan Masjid terus dilakukan, termasuk pada tahun 1997. Saat itu bangunan diperluas menjadi 20 x 29 meter. Bentuk itu hingga saat ini dengan daya tampung jamaah mencapai 500 orang.

Tahun 2005, pengurus masjid, tokoh agama, tokoh masyarakat kembali bersepakat untuk membangun Masjid Jami’ yang baru. Saat ini pembangunan Masjid itu sedang berlangsung. Pembangunan Masjid baru itu dilakukan di belakang Masjid Jami’ yang lama. Bangun yang direncanakan berlantai tiga, lantai dasar untuk parkir, kemudian lantai atas dan selanjutnya untuk para jemaah menjalankan ibadah.

“Seraya menunggu Masjid Jami’ yang baru itu, Masjid Jami’ lama masih difungsikan untuk menjalankan ibadan dan kegiatan keislaman lainnya,” jelas Jayadi, yang juga sebagai imam di Masjid Jami’ ini.

Suparjo, yang juga Imam Masjid Jami’ Bengkayang mengharapkan pembangunan Masjid Jami’ berjalan lancar dan cepat. Karena itu, Parjo berharap semua umat Islam ikut berpartipasi dalam pembangunan Masjid kebanggaan itu.

“Masjid Jami’ merupakan Masjid bersejarah, karena itu perlu dijaga dan dibangun dengan partisipasi bersama, partisipasi mayarakat muslim dan juga pemerintah,” kata Suparjo menjelaskan.

Ketua Pengurus Masjid Jami’ Bengkayang 2010-2014, B Sujoko, mengatakan, keberadaan Masjid Jami’ kedepannya bukan hanya sekedar untuk tempat menjalankan ibadah salat lima waktu. Masjid itu akan dijadikan sebagai pusat pengembangan Islam atau Islamic Center. Keinginan itu seiring dengan bentuk bangunan Masjid itu sendiri. Masjid dibangun dengan ukuran 18 x 26 meter dan sebanyak tiga lantai.

‘Untuk lantai dasar bisa kita jadikan sebagai tempat pengembangan Islam, mulai dari perekonomian, seperti warung serba gunan untuk kalangan jamaah dan berbagai macam kegiatan lainnya,” kata Joko.

Kegiatan lainnya itu seperti pembinaan generasi Islam melalui remaja Masjid, Majlis Taklim, tempat bimibngan belajar, serta beragam kegiatan lainnya. Itu bisa terwujud ketika pembangunan Masjid telah selesai. Saat ini, pembangunan Masjid baru berupa rangka kasar mulai dari dasar hingga atas.

“Dengan pembangunan yang telah dilakukan, dana yang telah dipergunakan mencapai 350 juta rupiah. Perencaan awal, Masjid itu akan jadi dengan perencanaan dana mencapai 1, 2 miliar rupiah. Untuk mencapai dana sebesar tersebut, pengurus dan panitia pembangunan masih memerlukan bantuan,” jelas Kepala Sekolah di Kecamatan Teriak Bengkayang.

Panitia pembangunan Masjid itu dipimpin Ir. Uray Tomy. Oleh panitia, Masjid dibangun dengan gaya modern. Nantinya Masjid Jami’ memiliki satu kubah utama denga dua menara. Bagian dalam Masjid terdapat enam tiang utama berbentuk tabung dengan diamater lebih dari setengah meter dan tinggi lebih dari 12 meter.

Maulana Al Mursyid Achmad, Seksi Dana Panitia Pembangunan Masjid Jami’ menambahkan, pembangunan baru dilakukan sekitar 20 persen. Pembangunan itu baru berupa kerangka sebagian kecil dari bangunan yang direncanakan.

‘Dari bangunan yang direncanakan seluas 18 kali 26 meter, yang baru terbangun baru 18 kali 10 meter. Bangunan itu juga masih berupa rangka,” jelas Maulana.

Maulana menambahkan, dana pembangunan Masjid Jami’ yang tersisa hingga saat ini hanya sebesar delapan juta rupiah, karena itu pembangunan sementara waktu dihentikan.

‘Pembangunan kembali akan dilanjutkan usai lebaran, dan itu tergantung anggaran dana yang dimiliki. Bagi mayarakat yang ingin menyumbang silahkan datang ke pantia pembangunan atau ke pengurus masjid, atau bisa mengirim lewat Rekening BRI Atas Nama Masjid Jami dengan Nomor Rekening 369901014976534,” terang pria yang kerap dipanggil Mamas ini.

Azharudin Nawawi, selaku Kepala Kementerian Agama di Kabupaten Bengkayang, menyatakan komitmennya untuk membangun Masjid Jami’.

“Komitmen saya, begitu melihat kondisi Masjid Jami’ pada tahun 2005, saya pertama-tama melakukan konsultasi denga bupati lama, Jacobus Luna, terkait pentingnya pembangunan Masjid Jami’. Itu saya lakukan karena saya melihat kondisi Masjid Jami’ begitu memprihatinkan,” kata Azharudin saat ditemui di ruang kerjanya.

Dengan konsultasi itu, Masjid Jami kemudian mendapatkan bantuan, namun karena kecilnya bantuan, pembangunan Masjid Jami berlangsung begitu lamban.

“Selama lima tahun saya sudah berusaha mencarikan bantuan dari Pemerintah Daerah, namun bantuan itu juga diberikan secara bergilir antara satu masjid dengan masjid yang lain. Kemudian saya mencoba mancarikan bantuan dengan pemerintah pusat, itupun tidak begitu nyata karena nilainya tidak besar,” jelas pria kelahiran Jakarta ini.

Azharudin menegaskan, Masjid Jami’ merupakan Masjid bersejarah di Bengkayang. Masjid ini merupakan Masjid pertama hingga sangat monumental. Karena monumental itu, pembangunan Masjid Jami’ tidak bisa dipindahkan ke lokasi lain.

“Walaupun lokasi sempit, pembangunan Masjid tidak bisa dipindahkan ke lokasi lain. Kalau lokasinya dipindahkan, maka sejarah Masjid Jami’ itu akan hilang,” terang mantan Guru SMPN 1 Rasau Jaya, Kubu Raya ini.

Satu lagi yang penting untuk dipertahankan, Agar sejarah Masjid jami tidak hilang, maka menurut Azhar harus ada bagian masjid lama yang harus dipertahankan, salah satunya adalah menara Masjid Jami’.

Source http://ubayorengkampoeng.blogspot.com http://ubayorengkampoeng.blogspot.com/2011/08/masjid-jami-bengkayang.html
Comments
Loading...