Sejarah Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember

0 138

Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember

Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember terdiri dari dua bangunan masjid yang dipisahkan oleh jalan protokol jurusan Jember-Surabaya. Bangunan Masjid lama dibangun sejak zaman kolonial Belanda pada tanggal 19 Desember 1894 dengan luas 2.760 meter persegi. Masjid ini pernah mengalami renovasi pada tahun 1939 sebelum perang dunia II. Sedangkan bangunan masjid yang baru dibangun di atas tanah wakaf seluas 9.600 meter persegi dan diresmikan pada tanggal 3 Mei 1976 oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada saat itu.

Hal ini diungkapkan oleh Bapak Moh.Ihsan selaku pengurus masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember. Beliau menceritakan gagasan awal mula dibangun masjid jami’ baru, karena pada tahun’70an setiap kali ibadah sholat jumat, jumlah jamaah di masjid jami’ lama meluber sampai ke jalan. Sehingga Bupati Jember saat itu yakni Letnan Kolonel Abdul Hadi berinisiatif memperluas dan membangun masjid yang baru, terletak bersebelahan dengan masjid jam’lama yang terletak di sebelah barat alun-alun kota Jember. Gagasan tersebut diungkapkan dalam suatu Khutbah Idul Adha tahun 1972, dimana Bupati menguraikan betapa pentingnya menggalang persatuan dan kesatuan, antara unsur Pemerintah dan Ulama. Meski dulunya Kabupaten tidak menyimpan dana lebih, namun pembangunan secara gotong royong dari masyarakat. Seperti diambilkan dari zakat atau shodaqah dari padi, dimanaJember mempunyai 80.000 HA sawah yang ditanami padi, dan tiap hektarnya waktu itu dapatmenghasilkan lebih kurang 5 – 6 tongabah, itupun satu tahun dapat dua kali panen.

Seluruh ulama mendukung dan menyepakatinya dengan persetujuan tertulis, kemudiandisampaikan ke DPRD Jember, yang juga setuju pada akhirnya. Hal ini pun mendapat restudari Gubernur JawaTimur, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama pada saat ituyangdituangkan dalam Surat Keputusan BupatiKepala Daerah Tingkat II Kabupaten Jember No.Sek./III/40/1972 tanggal 25 Oktober 1972, bertepatan dengan Peringatan Nuzulul Qur’antahun 1972 kemudian dibentuklah Panitia Pembangunan Masjid. Mengingat pengumpulan dana pembangunan Masjid Jami’melibatkan seluruhpenduduk di Kabupaten Jember, maka Kepanitiaan Pembangunan diteruskan sampai ditingkat Kecamatan dan desa. Di tiap desa, membuat Putusan Desa melalui Rembug Desa,tentang kesepakatan membantu Pembangunan Masjid Jam’ Jember, berupa gabah 1 (satu)kwintal per hektar pada dua musim panennya.

Dalam pemilihan nama masjid pada waktu pembangunan, sempat menjadi perdebatan. Beberapa usulan nama seperti Al Falah yang artinya petani, karena pembangunan masjid merupakan hasil dari gotong royong para petani Jember, adapula usulan nama Baitul Makmur yang berarti suatu tempat menuju surga, bahkan adapun yang mengusulkan nama Al Hadi, karena pembangunan masjid merupakan inisiatif Bupati Abdul Hadi. Namun pada akhirnya diputuskan bersama oleh para ulama, terutama berdasarkan usulan KH. Ahmad Shiddiq untuk memberikan nama masjid Al Baitul Amien, yang mempunyai arti sebagai rumah yang dijaga oleh Allah.

Setelah menemukan nama yang sesuai, dipilihlah lokasi pembangunan masjid. Penentuan lokasi Proyek Pembangunan Masjidmenjadi masalah tersendiri karena konsepbangunan masjid memerlukan tanah yang luassehingga ada yang mengusulkan di tempatkan di sekitar Sembah Demang untuk memperolehtanah dan lokasi yang luas dan tinggi, ada yang mengusulkan ditempatkantanahnya H.Salim Arifin (sekarang ditempati Kantor Telkom ) dekat dengan Pasar Tanjung agar jamaahnyamenjadi banyak dansebagian lagi menghendaki bangunan masjid tersebut hendaknya tetap di pusat kota dengan membongkar Masjid yang lama.Pendapat terakhir ini mendapattantangan dari seorang tokoh Ulama, beliau tidak menyetujui renovasi masjid tersebut dengan membongkar masjid yang lama karena menghilangkanjariyah orang orang terdahulu. Akhirnya Bupati Abd. Hadi selaku Ketua Panitia PusatPembangunan Masjid Jami’ Jember mengambil jalan tengah yaitu bahwasanya ProyekPembangunan Masjid Jami’ Jember diletakkan di tengah kota disamping masjid yang lama, ( tanpa membongkar masjid lama) dengan cara membeli tanah dan rumah sederetan toko-toko dipinggirJl Raya Sultan Agung, membeli rumah rumah huni diatas tanah pengairan dekat sungai Jompo, membeli tanah di Arjasa untuk mengganti dan memindahkan tanah dan rumah dinas / Kantor Pembantu Bupati Jember Kota, dan memindahkan selokan penggelontor yang tadinya di tengah tanah proyek ke pinggir jalan atau pinggir proyek Masjid Jami’ Jember.

Untuk konsep Bangunan Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember ini pun, pemerintah menunjukarsitek dari tamatan California yakni Yaying K. Keser A.I.A, Jakarta.

Beberapa alasan yang menjadi landasan dari bentuk arsitektur masjid jami’ al baitul amien Jember yakni Dipilihnya bentuk bundar (segmen bola), yang menggambarkan meluasnya kebutuhan seluruh umat manusia tanpa dibatasi dengan sudut-sudut tertentu yang kemudian tertuang dalam wujud bentuk kubah, merupakan segmen-segmen bola yang saling bertumpu satu dengan yang lain, yang menggambarkan saling berkaitannya kebutuhan manusia dengan yang lain, dimana pada ini semua agama dan tradisi dipengaruhi oleh bentuk bundar, sejak dari bangunan Qubah as Sakhrah, di Masjid Aqsho, juga beberapa agama tauhid tempat ibadahnya dipengaruhi bentuk bundar.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/wiwinrizakurnia.blogspot.com/5529ac6c6ea8346150552d05/menelaah-sejarah-bangunan-masjid-kuno-di-jantung-kota-jember
Comments
Loading...