Sejarah Masjid Batu

0 77

Masjid Batu

Masjid Batu berdiri pada tanggal 4 Dzulhijjah 1345 H (1926 M), merupakan masjid pertama di kecamatan Teluk Pakedai. Masjid ini dinamakan masjid Batu karena struktur bangunan masjid yang mayoritas terdiri dari batu bata, bahkan dalam rancangan awal masjid Batu sendiri rencananya tidak menggunakan kayu sama sekali dan hanya menggunakan batu. sehingga saat nama masjid ini belum diketahui namanya, masyarakat sekitar menyebutnya dengan masjid Batu. Masjid Batu didirikan sebagai tempat ibadah bagi umat muslim Teluk Pakedai, karena keberadaan masjid sangat penting bagi umat muslim.

Dengan bertambahnya jumlah umat muslim di Teluk Pakedai, maka dibutuhkan juga tempat ibadah yang lebih besar. Haji Ismail Mundu beserta murid dan sahabat karibnya Haji Haruna Bin Haji Ismail, memiliki inisiatif untuk mendirikan masjid.

Masjid Batu didirikan sebagai tempat ibadah bagi umat muslim Teluk Pakedai, karena keberadaan masjid sangat penting bagi umat muslim. Dengan bertambahnya jumlah umat muslim di Teluk Pakedai, maka dibutuhkan juga tempat ibadah yang lebih besar. Haji Ismail Mundu beserta murid dan sahabat karibnya Haji Haruna Bin Haji Ismail, memiliki inisiatif untuk mendirikan masjid.

Hal ini pun diutarakan beliau kepada murid-muridnya yang lain, dan mendapat tanggapan yang sangat baik. Bahkan salah seorang muridnya yaitu H.Doeng mewakafkan tanahnya yang terletak di desa Teluk Pakedai Hulu, H.Doeng adalah salah satu orang terkaya di Teluk Pakedai saat itu. Sedangkan dana pembangunannya merupakan sumbangan dari Haji Haruna Bin Haji Ismail dan dana sumbangan dari murid-murid Haji Ismail Mundu di Malaysia.

Arsitek pembangunan masjid di datangkan langsung dari Pontianak oleh Haji Haruna Bin Haji Ismail, yaitu Abdul Wahid Bin Abu alias Wak Bangkik. Abdul Wahid Bin Abu juga merupakan arsitek Lembaga Permasyarakatan Pontianak yang sekarang berubah menjadi RS Santo Antonius. Sedangkan untuk pembangunan masjid dikerjakan oleh murid-murid Haji Ismail Mundu dan masyarakat sekitar. Tidak ada tanggal pasti kapan masjid selesai dibangun, yang diketahui hanyalah masjid Batu baru difungsikan sebagai tempat untuk shalat jum’at pada tahun 1348 H (1929 M).

Paska berdirinya masjid Batu, semakin ramai orang Bugis yang datang ke Teluk Pakedai. Selain itu, dengan adanya masjid Batu yang menjadi tempat ibadah dan tempat mengajar Haji Ismail Mundu, semakin ramai pula orang-orang Arab yang datang ke Teluk Pakedai. Hal ini dikarenakan istri Haji Ismail Mundu, yaitu Hj.Asmah binti Sayyid Abdul Kadir yang berkebangsaan Arab. Hal ini membuat terjadinya pernikahan antara orang-orang Bugis dengan orang-orang Arab di Teluk Pakedai.

Orang-orang Bugis Teluk Pakedai pada saat itu mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani, hal ini dikarenakan kondisi geografis Teluk Pakedai yang dikelilingi oleh sungai, sehingga ikan yang tersedia sangat melimpah dan tanah yang subur untuk menanam tanaman seperti padi, kelapa, dan pinang. Hubungan yang baik dengan penjajah Belanda juga membuat maju kehidupan orang-orang Bugis di Teluk Pakedai, karena kondisi aman yang dirasakan masyarakat. Hubungan yang baik ini terlihat dari penghargaan yang diterima oleh Haji Ismail Mundu dari Ratu Belanda yaitu Ratu Wilhelmina, atas jasanya sebagai mufti kerajaan Kubu yang dapat memecahkan permasalahan masyarakat dengan bijak.

Kedatangan Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, yang menggantikan kedudukan penjajah Belanda, juga terasa di Teluk Pakedai. Sama seperti keadaan yang terjadi di Pontianak dan sekitarnya, dimana orang-orang yang berhubungan baik dengan Belanda ditangkap dan dibunuh oleh Jepang. Hal yang sama juga terjadi di Teluk Pakedai, hubungan baik dengan Belanda menjadi pemicu Jepang untuk berlaku kejam terhadap orang-orang Bugis di Teluk Pakedai. Hal ini membuat banyak orang-orang Bugis yang melarikan diri dari Teluk Pakedai, mereka pindah ke daerah Kakap, Pontianak dan sekitarnya. Kondisi Teluk Pakedai saat itu sangatlah sepi, dimana hanya sedikit saja orang yang tetap bertahan.

Pada saat kedatangan Jepang, Haji Ismail Mundu sedang tidak berada di Indonesia, beliau sedang berada di tanah suci Makkah untuk mengajar agama. Kondisi Teluk Pakedai yang sepi juga berpengaruh terhadap kondisi masjid Batu, masjid menjadi sepi. Bahkan saat shalat Jum’at pun jumlah jama’ah yang shalat di masjid dapat dihitung dengan jari. Meskipun demikian ada sesuatu yang aneh dimana setiap shalat Jum’at ramai berdatangan dare’ (monyet) di depan masjid, seolah-olah mereka ikut melaksanakan shalat. Tetapi monyet-monyet ini tidak masuk kedalam masjid, melainkan hanya berbaris di halaman depan masjid dan tidak membuat keributan saat shalat Jum’at sedang berlangsung.

Setelah Indonesia merdeka dan Jepang tidak berada lagi di Indonesia, orang-orang Bugis ada yang kembali ke Teluk Pakedai meski jumlahnya tidak banyak. Hal ini dikarenakan ada berita tentang meninggalnya Haji Ismail Mundu di Makkah, sehingga mereka enggan untuk kembali ke Teluk Pakedai karena kehilangan sosok panutan. Bahkan keluarga dan murid-murid Haji Ismail Mundu melaksanakan tahlilan dan do’a arwah seolah-olah Haji Ismail Mundu benar-benar meninggal. Bahkan rumah Haji Ismail Mundu yang berada di dekat masjid Batu dijual oleh keluarganya, karena berpikir tidak akan ada lagi yang menempati rumah tersebut.

Pada tahun 1948 saat Sultan Hamid II menunaikan ibadah Haji ke tanah suci Makkah, beliau bertemu dengan Haji Ismail Mundu. Saat pertemuan inilah Sultan Hamid II bercerita tentang kondisi yang terjadi, dimana Haji Ismail Mundu dianggap sudah meninggal bahkan sampai dibacakan do’a arwah dan berita bahwa Indonesia sudah merdeka. Pada kesempatan ini Sultan Hamid II mengajak Haji Ismail Mundu untuk pulang ke Indonesia, agar berita ini tidak berkepanjangan. Haji Ismail Mundu pun pulang ke Indonesia dengan menumpang kapal dan biayanya gratis karena ditanggung oleh Ratu Wilhelmina. Sebelum pulang ke Teluk Pakedai Haji Ismail Mundu singgah dulu untuk menemui sahabatnya di Bogor, dan singgah sebentar di siantan.

Setelah singgah sebentar di siantan, Haji Ismail Mundu pulang ke Teluk Pakedai diikuti oleh keluarga dan murid-muridnya. Rumah yang sebelumnya telah dijual pun akhirnya dibeli kembali oleh beliau. Meskipun Haji Ismail Mundu telah kembali ke Teluk Pakedai, kondisi Teluk Pakedai tidaklah seramai seperti dulu. Hal ini dikarenakan banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetap di tempat tinggalnya yang baru, sehingga mereka enggan untuk kembali ke Teluk Pakedai. Hal inilah yang membuat Haji Ismail Mundu berinisiatif untuk melaksanakan peringatan Isra’ Mi’raj dan Maulid di masjid Batu, hal ini dilakukan agar tali silaturahmi antar murid-muridnya dapat terus terjalin. Kondisi masjid Batu pun sudah mulai sedikit ramai dan Haji Ismail Mundu kembali mengajar agama di masjid Batu.

Source http://sebarissejarah.blogspot.com http://sebarissejarah.blogspot.com/2015/01/sejarah-masjid-batu-nasrullah-tahun.html
Comments
Loading...