Sejarah Masjid Baitul A’la Lilmujahidin Aceh

0 299

Lokasi Masjid Baitul A’la Lilmujahidin

Masjid Baitul A’la Lilmujahidin terletak di Beureuenuen, Kecamatan Mutiara Barat, Kabupaten Pidie, Aceh.

Sejarah Masjid Baitul A’la Lilmujahidin

Bangunan tua berusia 64 tahun bercat putih berdiri tegak di pinggir jalan Medan-Banda Aceh, Beureunuen. Dua menara berwarna putih menjulang tinggi ke atas semakin tampak gagahnya bangunan kuno tersebut.

Bangunan itu adalah Masjid Baitul A’la Lilmujahidin yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat Masjid Abu Beureueh yang terletak di Beureuenuen, Kecamatan Mutiara Barat, Kabupaten Pidie, Aceh. Nama Abu Beureueh disematkan pada masjid ini karena dialah yang memprakarsai pembangunannya sejak tahun 1951-1952.

Di belakang masjid, atau arah barat masjid terdapat makam Abu Beureueh. Makam ini dipagar dengan teralis putih dan di dalamnya ada dua pohon jarak dan batu nisan bertuliskan ‘Tgk Syi’ Di Beureu’eh (Tgk. Muhammad Dawud Beureu’eh), Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 September 1899), Wafat Rabu 14 Zulqaidah 1407 (10 Juni 1987).

Di sekeliling bangunan masjid seluas 1.350 meter sudah terpasang paving block tertata rapi. Di ujung paling timur sekarang sedang proses pembangunan sebuah menara setinggi tower seluler. Pembangunan masjid ini sejak 64 tahun lalu dikerjakan secara sukarela dan bergotong royong secara massal. Abu Beureueh yang merupakan tokoh karismatik di Aceh ini memimpin pembangunan masjid ini.

Sumber dana masjid ini bukanlah dari sejumlah donatur besar atau suntikan dana dari pemerintah. Akan tetapi biaya pembangunan masjid ini murni dari bantuan masyarakat secara bersama-sama menyumbang secara sukarela.

Kala itu Abu Beureueh meminta kepada seluruh penduduk di Pidie untuk menyumbang pembangunan ini dengan cara menyisihkan beras di rumah masing-masing, kemudian lebih dikenal dengan Breueh Sigenggam (Beras Segenggam) untuk biaya pembangunan masjid.

Pembangunan masjid ini tidak berjalan mulus. Bahkan sempat terhenti selama 10 tahun lebih. Saat itu hanya baru selesai dilakukan pembangunan pondasinya. Sehingga selama kurun waktu itu pembangunan masjid terbengkalai.

Tertundanya pembangunan masjid 10 tahun ini akibat Abu Beureueh pada tahun 1953 memimpin pasukan untuk berperang yang dikenal dengan pemberontakan DI/TII. Abu Beureueh kala itu naik ke gunung berperang gerilya bersama ribuan pasukan pengikutnya.

Baru kemudian setelah Abu Beureueh turun gunung bersama gerilyawan lainnya pada tahun 1963, masjid Abu Beureueh kembali dilanjutkan pembangunan dengan pola mencari dana seperti semula, yaitu beras segenggam dari masyarakat.

Hingga sekarang, masjid Abu Beureueh juga dikenal di tengah-tengah masyarakat sebagai masjid Breueh Sigenggam (Beras Segenggam). Atas sejarah ini, penduduk setempat menganggap masjid ini sangat sakral dan pemerintah telah menetapkan bangunan kuno ini sebagai cagar budaya.

Source https://singgahkemasjid.blogspot.co.id https://singgahkemasjid.blogspot.co.id/2015/06/masjid-beras-segenggam-di-pidie-aceh.html
Comments
Loading...