Sejarah Masjid Al Ula

0 34

Masjid Al Ula

Berdirinya Masjid Al Ula berawal dari keinginan masyarakat yang membuka lahan di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara tahun 1930-an. Dipelopori, Ginja, tokoh masyarakat Nenang dibangunlah masjid sederhana di wilayah RT 07, Kelurahan Nenang.

Masjid Al Ula terbuat dari kayu, saat itu menjadi masjid satu-satunya yang digunakan masyarakat Nenang dan Nipah-nipah sebagai tempat beribadah. Bahkan masjid tersebut sering digunakan para pejuang kemerdekaan menjalankan shalat. Saat itu, Nenang merupakan markas sejumlah pejuang kemerdekaan.

Sekitar tahun 1971, Masjid Al Ula Nenang dipindah ke pinggir jalan. “Kami pindahkan masjid karena daerah ini sudah ramai. Kemudian dibangun lah masjid panggung dari kayu. Sekarang masih ada sisa masjid lama yang belum dibongkar,” ujar H Untung, Ketua Pengurus Masjid Al Ula Nenang.

Ia menceritakan, awalnya pembangunan masjid, ayahnya yang bernama Ginja membuka lahan di wilayah Nenang untuk menanam padi. Karena warga cukup banyak sehingga diputuskan membangun masjid di RT 07 Nenang Dalam. Masjid tersebut bukan hanya digunakan masyarakat namun sejumlah pejuang kemerdekaan juga menggunakan masjid untuk shalat.

Setelah 40 tahun digunakan, masjid dipindahkan lagi di tempat yang sekarang sudah berdiri. Awalnya, masjid yang dibangun mirip bangunan lama, yakni berupa panggung dan terbuat dari kayu. Alasan pemindahan masjid karena warga mulai ramai dan sudah dibuat jalan setapak.

Untung mengungkapkan, hanya beberapa bulan kemudian sekitar 1971 masjid yang baru mulai berdiri digunakan warga untuk shalat. Dianggap tidak mampu lagi menampung jumlah jamaah, warga memutuskan membangun masjid yang lebih besar.

H Ali, Pengurus Masjid Al Ula Nenang menambahkan, masjid yang berdiri sekarang berukuran 14×14 meter. Di belakang masjid masih berdiri masjid lama dan belum dibongkar. “Sekarang masjid itu sudah tidak mampu lagi menampung jemaah. Kapasitas masjid hanya sekitar 300 orang saja,” ucapnya.

Ali mengaku, awal membangun masjid ini merupakan sumbangan dari masyarakat yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Bahkan waktu itu, kebanyakan masyarakat menyumbang Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Namun karena niat yang tulus sehingga masjid itu bisa berdiri seperti saat ini. Model masjid yang ada sekarang masih sama dengan masjid sebelumnya.

Ia menyatakan, masjid yang hanya mampu menampung 300 jamaah direncanakan akan direnovasi lagi. Masjid lama akan dibongkar untuk memperluas masjid yang baru.

Source http://kaltim.tribunnews.com http://kaltim.tribunnews.com/2015/07/09/masjid-al-ulatempat-shalat-para-pejuang
Comments
Loading...