situsbudaya.id

Sejarah Masjid Al-Muhajirin Cipayung Bekasi

0 61

Lokasi Masjid Al-Muhajirin

Masjid Al-Muhajirin terletak di Kampung Rancaiga, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.

Sejarah Masjid Al-Muhajirin

Sejarah pendirian Masjid Al-Muhajirin ini dijelaskan dalam ‘Piagam Pendirian Masjid’ dari Kantor Departemen Agama Kabupaten Bekasi bernomor 356/MJ/1988 tanggal 1 Oktober 1988 (19 Shafar 1409H) ditandatangani oleh H.M. Zaenuddin BA (NIP 150 169 650) selaku kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Bekasi.

Disebutkan bahwa Masjid Al-Muhajirin, beralamat di Kampung Rancaiga, Desa Cipayung, Kecamatan Lemah Abang (kini Cikarang Timur) didirikan tahun 1972. Piagam tersebut diberikan berdasarkan atas keterangan yang tersebut dalam surat kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Lemah Abang Nomor K.11/3/97/VIII/88 tanggal 15 Agustus 1988. Piagam tersebut sekaligus sebagai pengukuhan pendirian masjid Al-Muhajirin sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Bangunan Masjid Al-Muhajirin

Masjid Jami’ Al-Muhajirin Cipayung ini berukuran cukup besar, dibangun dengan bentuk atap limas bersusun tiga khas Indonesia, namun dipuncak atap tertingginya dilengkapi dengan sebuah kubah bawang dari bahan metal dalam ukuran mungil. Keseluruhan atapnya menggunakan bahan genteng.

Di ketiga sisi masjid (utara, selatan dan timurnya) dilengkapi dengan teras. Di sisi timur yang menghadap ke jalan raya dilengkapi juga dengan serambi. Keseluruhan terasnya ini ditopang dengan sederet pilar beton segi empat. Ornament yang digunakan sebagai penghubung antar pilarnya tidak dibentuk dalam bentuk lengkungan sempurna tapi sedikit dimodifikasi.

Denah masjidnya berbentuk empat persegi panjang, memanjang dari barat ke timur, bukan berdenah bujur sangkar. Di tengah ruang utama masjid berdiri empat pilar beton menopang struktur atap masjid ini. ruangnya memang cukup luas, wajar bila digunakan empat pilar di dalam masjid ini. mengingat di tahun 1970-an memang belum dikenal teknologi rangka atap dari baja ringan ataupun teknologi bangunan lainnya yang memungkinkan membangun rangka atap yang panjang tanpa tiang penopang.

Meski dibangun dengan atap limas bersusun tiga, kita tidak akan merasakan perbedaan ruang dalam masjid ini dengan masjid tanpa atap limas. Keseluruhan langit langit masjid ini ditutup dengan plafon dan di cat warna putih. sehingga kita tidak akan menemukan ruang dalam masjid dengan sisi langit langitnya yang terbuka lebar dan memberikan kesan luas sebagaimana fungsi dari bentuk atap limas itu sendiri.

Source http://bujanglanang.blogspot.co.id http://bujanglanang.blogspot.co.id/2012/08/masjid-jamie-al-muhajirin-desa-cipayung.html
Comments
Loading...