Sejarah Makam Kuno Tjitrosoman Tuban

0 254

Makam Kuno Tjitrosoman

Ada banyak makam yang kuno dan bersejarah di daerah Tuban – Jawa Timur. Salah satunya adalah Makam Tjitrosoman yang berada di Desa Bejagung , Kecamatan Semanding yang berjarak sekitar 5 km arah selatan dari pusat kota Tuban.

Ada yang menarik dengan makam ini karena merupakan kawasan pemakaman yang ekslusif dan bukan untuk umum. Sesuai dengan namanya, makam Tjitrosoman ini merupakan pemakaman khusus bagi mereka yang merupakan keturunan dari Adipati Tjitrosomo I, seorang ningrat dan bangsawan pada masa lampau.

Karena itu, bila ada warga setempat yang meninggal tetapi bukan merupakan keturunan dari Tjitrosoman , maka warga itu tidak bisa dimakamkan di Makam Tjitrosoman. Sebaliknya jika ada warga dari daerah yang sangat jauh tetapi ada keturunan dengan Tjitrosoman, maka dia berhak dimakamkan di makam Tjitrosoman ini bila sudah meninggal dunia.

Dalam catatan sejarah, Adipati Tjitrosomo I memimpin Jepara pada tahun 1745-1778. Makam beliau berada di belakang Masjid An-Nur. Makam itu berada di dalam bangunan yang diapit oleh makam dua garwa padmi (permaisuri). Kedua istrinya itu yaitu Putri Amangkurat I dan Putri Adipati Soejonopoero yang gugur dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin Jepara.

Dari kedua istri dan selir, Adipati Tjitrosomo I mempunyai 47 anak yang terdiri dari 14 putra dan 33 putri. Para putranya tersebar di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya dan banyak yang menjadi adipati ( pemimpin daerah ).

Diantaranya adalah keturunan Tjitrosoman yang menjadi Adipati di Tuban dan makamnya ada di Makam Tjitrosoman ini. Memasuki kawasan makam Tjitrosoman ini tampak sebuah bangunan yang berpagar dinding berwarna putih dan pintu gerbang yang berwarna hijau.

Bangunan itu tampak terkunci dan hanya dibuka pada saat tertentu dan jika ada tamu yang berkepentingan untuk memasukinya dengan seijin dari juru kunci. Setelah menemui Bapak Rovai sebagai juru kunci makam Tjitrosoman, saya diijinkan untuk masuk dan memotret ke dalam bangunan itu.

Di dalamnya saya menjumpai deretan makam yang dicat warna putih yang jumlahnya mungkin kurang dari seratusan. Di bagian utara dengan dipisahkan oleh pagar besi, terdapat deretan makam kuno dengan bentuk dan ukuran yang lebih besar. Salah satu dari makam kuno itu berhiaskan penutup kepala ala raja-raja di Jawa.

Selain makam dari Adipati Tjitrosomo IX dan di sekitarnya juga terdapat makam istri dan kerabatnya.

Yang menarik, di sekitar makam Tjitosoman ini ada beberapa pencari bunga Kamboja yang menjemur bunga-bunganya untuk dikeringkan. Pada waktu-waktu tertentu ada pengepul yang datang dan membeli bunga kamboja yang kering itu.

Selain itu di sana juga ada makam Adipati Tjitrosoma VII dan Adipati Tjitrosoma VIII yang juga berada di kawasan pemakaman ini. Tetapi entah kenapa, kedua makam itu tidak ditempatkan dalam satu lokasi yang sama karena berada dalam pagar tembok dan gapura yang berbeda dengan jarak sekitar 100 meter.

Di bagian atas gapura itu terdapat prasasti dari batu marmer dengan tulisan bahasa Belanda dan dalam ejaan lama serta ornamen yang berbentuk roda.

Sedangkan di bagian luar bangunan berpagar itu terdapat makam-makam keturunan Tjitrosoman lainnya baik yang sudah lama di makamkan atau yang baru saja meninggal dan dimakamkan.

Menurut Bapak Rovai, setiap tahunnya pada hari dan bulan tertentu di makam Tjitrosoman ini diadakan tradisi Sedekah Bumi atau Manganan yang diisi dengan kegiatan pengajian, istighotsah dan doa bersama.

Makam Tjitrosoman ini lokasinya berseberangan dengan makam Sunan Bejagung Lor yang legendaris dan berjarak sekitar 400 meter dari makam Sunan Bejagung Kidul.

Source http://jelajah-nesia2.blogspot.com http://jelajah-nesia2.blogspot.com/2014/10/jejak-sejarah-di-makam-kuno-tjitrosoman.html
Comments
Loading...