Sejarah Loji Gandrung Surakarta

0 807

Lokasi Loji Gandrung

Loji Gandrung merupakan Rumah Dinas Wali Kota Surakarta yang terletak di Jl. Brigjend Slamet Riyadi, Sriwedari, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Bangunan Loji Gandrung

Loji Gandrung ini memiliki luas bangunan 3.500 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 6.295 meter persegi, dan mempunyai gaya arsitektur Indis. Katas ‘Indis’ bermula dari Nederlandsch Indie atau sering disebut dengan Indisch saja, yang artinya Hindia Belanda. Arsitektur Indis ini lahir dari munculnya budaya Indis, yaitu perpaduan antara budaya Eropa (Belanda) dengan budaya lokal (Jawa). Wujud dari akulturasi budaya inilah yang kemudian menciptakan arsitektur bergaya Indis

Sejarah Loji Gandrung

Bangunan Rumah Dinas WaliKota Surakarta ini awalnya merupakan rumah tinggal milik Johannes Augustinus Dezentje (1797-1839) yang dibangun pada tahun 1830. Dezentje, atau yang akrab dipanggil dengan nama Tinus ini adalah seorang pionir perkebunan Belanda pertama di wilayah Surakarta dan juga dikenal sebagai tuan tanah di Ampel, Boyolali (de legendarisch Solose planter en landheer van Ampel).

Ia adalah anak laki-laki dari pasangan August Jan Casper Dezentje (1765-1826) dan Johanna Magdalena Kops (1776-1852). Ayah Tinus adalah seorang pengawal Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan pangkat letnan. Pada 1816, Casper Dezentje menyewa tanah apanage milik Kasunanan yang membentang dari Salatiga, Ampel hingga Boyolali, dari hasil mengumpul gajinya sebagai seorang perwira tersebut. Tanah apanage inilah yang kemudian diwariskan kepada Tinus.

Setelah dewasa, Tinus menikah Johanna Dorothea Boode pada 23 Oktober 1814, dan kemudian bertempat tinggal di rumah yang sekarang menjadi Rumah Dinas Wali Kota Surakarta bersama anak-anaknya. Selang dua puluh satu tahun kemudian, Tinus menikah lagi dengan Raden Ayu Tjondro Koesoemo, seorang putri dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pernikahannya diadakan di Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan pada saat pernikahan, Raden Ayu Tjondro Koesoemo diberi nama baptis Sara Helena (Bosma & Raben, 2008: 108). Setelah menikah, Tinus dengan Raden Ayu Tjondro Koesoemo menetap di Ampel. Kediaman Tinus di Ampel menyerupai rumah bangsawan Kasunanan, yaitu berupa Dalem yang ada pendoponyo bak kadipaten. Anak-anak mereka umumnya diberi inisial A pada awalan namanya, seperti Arnold, Alexander, Adrian, Alphonse, Augustinius, dan Annipelma.

Sebagai pengusaha perkebunan yang terkemuka di zamannya, Tinus sering mengadakan pesta di rumahnya yang berada di Solo. Karena sering digunakan untuk pesta dansa orang-orang Jawa yang berada di sekitar tempat tinggal Tinus menyebut acara pesta tersebut sebagai gandrungan.

Kata gandrungan berasal dari bahasa Jawa yang mempunyai kata dasar gandrung. Gandrung ini artinya sangat rindu akan kasih, tergila-gila karena asmara, atau mendambakan seseorang. Jadi, gandrungan yang dimaksud adalah orang yang sedang kasmaran. Akhirnya, lambat-laun rumah besar milik Tinus tersebut dikenal dengan Loji Gandrung. Kata loji sendiri artinya rumah yang besar, bagus dan berdinding tembok. Aslinya dari bahasa Belanda, loge. Namun setelah diucapkan oleh orang Jawa menjadi loji.

Sepeninggal Tinus, bangunan Loji Gandrung ini ditinggali oleh keturunan Tinus dari istri pertamanya yang bernama Johanna Dorothea Boode. Pada waktu terjadi pendudukan Jepang atas Solo, bangunan Loji Gandrung ini juga sempat dijadikan markas bagi pimpinan pasukan tentara Jepang yang bertanggungjawab atas Wilayah Surakarta.

 

Source Loji Gandrung Surakarta
Comments
Loading...