Sejarah Kepurbakalaan Kemuning Malang

0 16

Kepurbakalaan Kemuning Malang

Kepurbakalaan Kemuning merupakan sebuah situs candi dan prasasti yang berada di Dukuh Kemuning, sehingga kepurbakalaan Kemuning sering juga disebut dengan Situs Kemuning. Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah PepundenKemuning, atau Petilasan Mbah Suko. Situs ini pernah dilaporkan oleh Dr. Frederik David Kan (F.D.K.) Bosch dalam Oudheidkundig Verslag Van De Oudheidkundige Dienst In Nederlandsch Indie tahun 1916. F.D.K. Bosch, atau juga sering dipanggil Frits Bosch, adalah seorang Kepala Oudheidkundige Dienst (Jawatan Purbakala), yaitu lembaga yang dibentuk oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk mengelola bidang kepurbakalan. Tugas dari lembaga tersebut antara lain adalah menyusun, membuat daftar serta mengawasi peninggalan purbakala di seluruh wilayah Hindia Belanda.

Dengan kembalinya Dr. Nicolaas Johannes (N.J.) Krom ke Belanda, maka diangkatlah Dr. F.D.K. Bosch sebagai Kepala Oudheidkundige Dienst pada tahun 1916. Bosch memimpin lembaga ini selama 20 tahun. Selama kepemimpinannya banyak hal yang dilakukan untuk kemajuan kearkeologian di Hindia Belanda, di antaranya melakukan ke sejumlah lokasi di mana ditemukan peninggalan purbakala. Pada bulan Oktober 1916, F.D.K. Bosch yang memiliki keahlian dalam bidang arkeologi dan sekaligus ahli dalam membaca prasasti (epigraphist) berkebangsaan Belanda ini, sedang melakukan perjalanan dinasnya ke sejumlah daerah di Malang. Ketika berkeliling di daerah Ngajum, ia menemukan situs yang terdiri dari prasasti, fragmen batu bata merah, lingga dan yoni, serta arca Lembu Nandini.

Bosch berusaha membaca prasasti tersebut, namun prasasti – yang kemudian dikenal dengan Prasasti Kranggan – itu sudah terlalu usang karena aus, sehingga sulit dimengerti isinya dengan jelas. Meskipun begitu, masih beruntung angka tahun pembuatan prasasti tersebut masih bisa diketahui,yaitu tahun 1178 Çaka atau 1256 M. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Kertanegara sewaktu masih menjabat sebagai raja muda (Yuwaraja/Kumararaja) di Kediri. Kertanegara adalah putra dari Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singhasari.

Prasasti Kranggan merupakan prasasti yang terbuat dari batu andesit (upala prasasti) yang memiliki ukuran tinggi 137 cm, lebar atas 76 cm, lebar bawah 65 cm, dan tebal 24,5 cm. Pengukuran ini dilakukan ketika Kantor Suaka Sejarah dan Purbakala Jawa Timur melakukan inventarisasi pada tahun 1986. Selain prasasti, adanya lingga, yoni, bata merah tebal serta arca lembu di bawah pohon beringin, jelas menunjukkan bahwa dahulu terdapat bangunan candi agama Hindu. Tempat suci ini disinggung dalam prasasti Mulamalurung lempeng IV.b tahun 117 Çaka atau 1255 M, yang menandai (memulai) bangunan suci tanah perdikan di suatu tempat di bumi sebelah timur Gunung Kawi, oleh yang melaksanakan perintah, yaitu Sang Apanji Samaka, patih dari Raja Kertanegara.

(Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kuta haji, Janatraya, Rajadanya, Kuwanata, Surayasa, Jarak, Lagundi, serta Wadari, Wewe Pacekan, Pasaruan, Lemah Surat, Pamanikan, Srangan serta Pangiketan, Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela dan Pamulang.)

Desa-desa perdikan di seluruh wilayah Majapahit yang berada di sekitar Singhasari sampai lereng timur Gunung Kawi, di antaranya adalah Jenar. Diduga Jenar yang berarti ‘kuning’ itu adalah Dukuh Kemuning sekarang.

Source http://kekunaan.blogspot.com http://kekunaan.blogspot.com/2017/03/kepurbakalaan-kemuning-malang.html
Comments
Loading...