Sejarah Kantor Kwarcab Wonosobo Peninggalan Belanda

0 88

Kantor Kwarcab Wonosobo Peninggalan Belanda

Puluhan tahun silam, tepatnya tahun 1931 Belanda membangun markasnya di sekitar Kampung Argopeni. Letaknya tidak jauh dari pusat kota dan hanya beberapa meter dari Jl. Dieng. Jika anda pergi ke UNSIQ, pasti melewati tempat ini. Berada di kiri jalan dengan halaman luas. Tampak dari depan saja sudah bisa dikenali bahwa bangunan ini peninggalan masa penjajahan Belanda.

Berawal dari markas tentara Belanda, menjadi Rumah Dinas Pertanian Kab. Wonosobo selepas merdeka. Kepala Dinas bergantian mendiami tempat ini hingga 2 tahun lalu. Kini, bangunan tersebut resmi menjadi Kantor Kwartir Cabang Pramuka Wonosobo.

Sejak ditempati oleh Kwarcab, gedung ini dirombak besar-besaran. Mulai dari pengecatan ulang, pembabatan ilalang, penanaman tanaman di sekelilingnya juga tidak ketinggalan. Pembangunan gapura, pagar, bahkan balai kecil di depan kantor. Menurut Gito selaku Pembina Pramuka, perombakan dan penataan ulang tidak lain untuk merapikan cagar budaya ini. “Tadinya tempat ini tidak terawat, banyak ilalang dan rumput tinggi di sekeliling bangunan. Kalau terlambat menutup jendela sebentar saja, nyamuk masuk ke dalam. Namun kondisi mulai membaik karena dibersihkan. Apalagi setelah tanah persawahan di sebelah disulap menjadi Taman Selomanik. Halaman sekitar menjadi lebih asri, nyamuk juga sudah pindah rumah.” tuturnya

Semenjak menjadi Sanggar Pramuka tempat ini menjadi lebih sering dikunjungi. Tidak hanya oleh pengurus Kwarcab saja. Pembinaan anggota pramuka yang hendak berangkat lomba tingkat provinsi juga dilakukan di sini. Tempat ini sangat nyaman karena penyinaran yang sempurna dan angin semilir yang masuk lewat jendela. Suasananya juga asyik karena halamannya luas.

Bagian dalam bangunan dihiasi pernak-pernik pramuka. Cat tembok berwarna putih menutupi tiang-tiang kayu penyangga bangunan yang masih kokoh sejak didirikan. Sama seperti bangunan Belanda lain, lorong menyatukan banyak ruangan. Total ada 7 ruangan termasuk garasi dan kamar mandi. Semua pernik bahkan engsel jendela dan hiasan di atasnya juga masih sama persis seperti pertama di buat.

Sama seperi bangunan lainnya, kantor peninggalan Belanda ini juga ada penunggunya. Banyak kejadian tidak masuk nalar pernah menjumpai Kak Gito yang memang tinggal di Kantor Kwarcab ini. Ketika masih menjadi rumah dinas, rumah ini hanya dirawat seperlunya. Ilalang dan rumput di belakang rumah tidak dibabat dan rumah hanya dihuni begitu saja. Kepala Dinas yang menghuni, belum pernah ada yang menempatinya genap sesuai tempo. Jika diberi izin menempati 1 tahun, belum lagi 7 bulan sudah tidak betah. Bahkan ada yang baru beberapa bulan sudah berganti pembantu 6 kali. Saat menceritakan hal tersebut kepada saya, Kak Gito juga bingung sendiri tidak tahu alasanya.

Pernah suatu kali beliau diganggu. Teralis jendela berbunyi sangat keras, ketika Kak Gito membaca Koran di ruangan itu lewat tengah malam. Anehnya, suara dari teralis amat nyaring padahal 2 sisi kaca jendela di bagian luarnya tidak bergetar sama sekali. Awalnya, beliau mengira itu maling maka keluarlah dengan membawa senter dan golok. Sudah diamati dan tidak ada satupun orang di sana. Bahkan ketika berada tepat di depan jendela tersebut dari sisi luar, teralis besi masih berbunyi nyaring. Lalu beliau hanya tersenyum sambil berdiri menunggu hingga “dia” selesai. Tak sadar, Kak Gito tertidur dan kembali bangun ternyata teralis sudah tidak berbunyi. Masuklah beliau ke dalam dan tidur di ruangan tadi. Tujuannya untuk menunggu kalau saja si “dia” main-main lagi. Tetapi teralis ternyata sudah tidak berbunyi lagi hingga esok paginya.

Kejadian demi kejadian dialami. Tetapi Kak Gito hanya menanggapi dengan santai tanpa rasa takut sedikitpun. “Hal-hal semacam itu tidak perlu ditakuti, santai saja yang penting kita tidak mengganggu. Tidak takut tetapi juga tidak menantang,”ucapnya

Yah, bangunan kuno nan cantik ini semoga saja bisa terus kokoh melewati zaman. Meskipun sejarah pastinya hanya sedikit orang tahu. Namun, kita bisa belajar sekaligus menikmati setiap detail dan ciri khas arsitektur Belanda kala itu. Meski sekarang sudah menjadi Kantor Kwarcab atau sanggar pramuka. Tempat ini juga boleh didatangi umum yang hendak membeli peralatan pramuka, berlatih pramuka atau sekadar jalan-jalan. Bangunan ini tepat berada di sebelah utara Taman Selomanik dan di sebelah barat lapangan burung.

Source https://najmalayka.files.wordpress.com https://najmalayka.wordpress.com/2015/06/30/menyapa-bangunan-belanda-di-wonosobo/
Comments
Loading...