Sejarah Kampung Kuno Talun

0 177

Kampung Kuno Talun

Kampung Kuno Talun, yang saat ini secara administratif berada di wilayah Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang merupakan daerah penting di masa kejayaan kerajaan Hindu-Budha. Pasalnya, nama Talun sendiri disebut dalam dua prasasti, yakni Prasasti Wurandungan dan Prasasti Pamotoh.

Secara etimologi (Toponimi) nama Talun berasal dari bahasa Jawa Kuno. Oleh Zoetmulder (2011:1188) kata Talun diartikan sebagai “kebun luar (di tepi hutan yang belum lama dibuka)”. Senada dengan pendapat tersebut, Maharsi (2009:621) juga menyebut Talun sebagai “kebun luar atau “tanah di hutan”. Pendapat yang sama juga diungkapkan Wojowasito (1977:259) yang mengartikan kata Talun sebagai “kebun atau perkebunan”. Pendapat para ahli tersebut diperkuat oleh pendapat Suparlan (1991:279) yang juga menyatakan Talun merupakan “ladang atau desa”.

Dalam bahasa Jawa Baru pun kata Talun ternyata masih dipakai untuk menyebut “ladang atau huma” (Prawiroadmojo, 1980:230). Sementara itu, dalam bahasa Jawa halus, C.F. Winter dan R.Ng. Ranggawarsita (2007:264) mengartikan Talun sebagai “tegil atau dhusun”. Kesimpulannya, dari berbagai pendapat tersebut disetujui bahwa kata Talun bermakna “tanah hutan (tegal) yang digunakan sebagai perkebunan dan belum lama dibuka”.

Talun sendiri berada di sebelah barat Alun-alun Merdeka, dengan kondisi geografis tanahnya yang lumayan rata, meski di beberapa tempat agak tinggi berbukit. Sungai kecil yang kemungkinan merupakan saluran drainase primer buatan Belanda membelah wilayah kampung ini. Aliran sungai yang pernah direvitalisasi pada masa Kolonial Belanda tersebut mulai dari ujung timur Oro-oro Dowo hingga bermuara di Kali Kasin. Saluran drainase ini memiliki aliran lurus dengan sumbu arah utara-selatan.

Jika dilihat dalam peta buatan Belanda yang berjudul “Malang Java Town Plans” tahun 1946, diketahui bahwa kala itu Talun masih berbentuk desa. Di sebelah utara dan barat, desa ini berbatasan dengan wilayah Bareng Tengah dan Tanjung, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Kasin, dan di sebelah timur berbatasan dengan wilayah Kauman.

Kampung Kuno Talun diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Hindu-Budha berkembang di Nusantara. Salah satu bukti pentingnya adalah Prasasti ‘Wurandungan B (dengan angka tahun 943 M) dan Prasasti Pamotoh (dengan angka tahun 1198 M). Kedua prasasti itu dengan gamblang menyebutkan keberadaan Kampung Kuno Talun.

Pada transkripsi Prasasti Wurandungan B yang dicatat oleh Brandes dalam bukunya yang berjudul “Oud Javansch Oorkonden”, terdapat kata “Tahun”. Namun, diyakini Brandes melakukan kesalahan atau ketidaktelitian dalam pencatatan kata tersebut. Bisa jadi, kata “Tahun” tersebut adalah “Talun”, karena Talun sendiri disebutkan dalam Prasasti Pamotoh yang dikeluarkan pada periode beberapa abad selanjutnya.

Dari kutipan isi prasasti di atas, dapat disimpulkan nama Talun sudah ada pada abad ke-9 sebagai tanah sima untuk kebutuhan pemujaan atau peribadatan di wilayah Kanuruhan (Malang saat ini).

Sementara itu, pada Prasasti Pamotoh atau dikenal juga sebagai Prasasti Ukir Negara, disebutkan bahwa pada bulan Posha tahun Saka 1120 (1198 M) Sri Digjaya Resi memberi anugerah kepada Dyah Limpa berupa rumah dan tanah dengan ukuran luas dihitung dalam satuan “jung” disertai keterangan batas-batasnya. Namun, tak disebutkan latarbelakang diturunkannya hadiah tersebut.

Dalam prasasti itu disebutkan bahwa salah seorang Rakryan Patang Juru yang bernama Dyah Limpa yang tinggal di Gasek (kini merupakan sebuah dukuh di Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang), mendapat hadiah tanah di wilayah Pamotoh dari Sri Maharaja. Penyerahan ini diwakili oleh Rakryan Pamotoh dan Rakryan Kanuruhan. Tanah yang dihadiahkan itu ada di beberapa tempat yang letaknya di sebelah timur tempat berburu yang bernama Malang.

Pada Prasasti Pamotoh itu tertulis: “… taning sakrid malang akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah limpa makanagaran i …” yang artinya adalah “.. di sebelah timur (Gunung Kawi) tempat berburu sekitar Malang bersama ‘wacid’ dam ‘macu’, persawahan Dyah Limpa yaitu …”.

Prasasti ini diketahui ditulis oleh Mpu Dawaman di daerah Talun yang saat ini berada di daerah Kecamatan Klojen. Prasasti tersebut diresmikan pada tanggal 6 bulan Posha (Desember-Januari) tahun 1120 Saka (1198 M), hari Wurukung, Pahing, dan Saniscara (Antik, 2013). Hal ini sudah cukup menjadi bukti bahwa pernah ada kampung kuno di Talun, meski belum ditemukan benda-benda purbakala di tempat tersebut.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2017/04/27/kampung-kuno-talun-masa-hindu-budha/
Comments
Loading...