Sejarah Kampung Celaket

0 201

Kampung Celaket

Salah satu desa kuno yang ada di Kota Malang adalah Celaket, sebuah tempat yang dinamakan Tjelaket Straat ketika masa Pemerintahan Kolonial Belanda.

Pada masa Belanda, Celaket bersama tiga tempat lain di Malang yaitu Kayoetangan, Boldy dan Ijen Boulevard adalah koridor utama jalanan di Gemeente Malang. Celaket yang tertulis Tjelaket dibagi menjadi dua yaitu Tjelaket Koelon dan Tjelaket Wetan. Saat Pemerintahan Malang kampung tersebut masuk ke dalam Kelurahan Rampal Claket. Jalanan yang kini bernama Jalan Agung Suprapto itu diperkirakan ada sejak masa Kerajaan.

Di masa kuno, kampung di Malang kerap diberi nama yang berkaitan dengan tumbuhan. Dikutip dari Japungnusantara, kampung-kampung kuno di Malang yang mengambil nama tumbuhan adalah Sukun, Blimbing, Glintung, Tunggulwulung, Lokjati, Loksuruh, Lowokwaru, Pakis, Pakisaji (Pakis-haji), Turen, dan lain sebagainya. Celaket adalah salah sebuah diantaranya, yang berasal dari kata calaket atau caleket.

Dalam bahasa Jawa kuno, calaket atau caleket artinya adalah pedas atau masam. Istilah ini diketahui artinya dari kakawin Ramayana dengan kalimat, ‘…. kamalagi calaket kukap gintungan’. Kamalagi diartikan asam, kukap adalah sejenis pohon sukun, dan gintungan (kini Glintung) adalah sejenis pohon dengan nama latihan Schleicheratri. Jika calaket berarti pedas maka merujuk kepada pohon cabe sedangkan jika asam maka yang dirujuk adalah pohon asam.

Pohon asam sendiri adalah pohon yang banyak berada di jalanan Celaket. Beberapa diantaranya memang sudah ditebang, namun tetap saja menyisakan bekas pohon.

Kata jadian macalaket, cumalaket, dan nyalaket dalam arti pedas atau tajam disebut dalam kitab Arjunawiwaha (34.3), Partayajna (38.10), Tantri Kamandaka (110.20) dan Nawaruci (68.8). Dalam kitab Nawaruci kata jadian ‘cumalaket’ disebut bersama dengan tanaman kunir dan apu (kapur), yakni ramuan penawar upas (bisa) dan racun.

Wilayah desa kuno Tjelaket meliputi pula apa yang kini dinamai Kelurahan Samaan. Bentang selatan desa ini dengan demikian hingga mencapai DAS Brantas. Bentang timurnya meliputi areal rumah sakit, sehingga rumah sakit, sebelumnya merupakan merupakan loji (benteng) Belanda yang perdana di Malang – konon disebut dengan ‘Roemah Sakit Tjelaket’.

Demikian pula loji tersebut dinamai ‘Loji Tjelaket’. Makam Samaan boleh jadi konon termasuk areal barat dari desa kuno Tjelaket. Dalam perkembangannya, khususnya semenjak terbentuknya Kotapraja (Gemeente) Malang tahun 1914, wilayah luas dari desa kuno Tjelaket dimekarkan menjadi beberapa desa, yaitu Tjelaket, Samaan dan Klojen Lor.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2017/01/15/cerita-asal-mula-nama-kampung-celaket/
Comments
Loading...