Sejarah Hotel Besar Purwokerto

0 49

Sejarah Hotel Besar Purwokerto

Hotel ini tak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kota Purwokerto yang sebelumnya hanyalah ibukota distrik di bawah Kabupaten Ajibarang. Sedangkan ibukota Kabupaten Banyumas saat itu adalah Kota Banyumas yang berada di tepi Sungai Serayu. Jarak Kota Purwokerto dan Kota Banyumas kira-kira 20 kilometer.

Dikeluarkannya UU Agraria 1870 tentang kepemilikan tanah dan UU Gula 1870 yang menghapus kewajiban budidaya tebu oleh petani menandai berakhirnya eksploitasi tanah jajahan oleh negara digantikan pengusaha swasta. Menyusul kemudian berakhirnya sistem Tanam Paksa.

Dalam Modernisasi Banyumas 1890-1942: Kajian Perkembangan Sosial Ekonomi (2017) yang ditulis Esa Meiana Palupi, setelah di tangan swasta, luas perkebunan bertambah, dari 500 bau pada 1885, menjadi 1100 bau pada 1890. Bau atau bahu berasal dari “bouw”, bahasa Belanda, berarti “garapan” (1 bau = 7000-7400 meter persegi).

Sektor industri, seperti batik, tenun, anyaman, peralatan pertanian, emas, perak, perkakas, tembikar, produsen kapal, serta produsen kertas juga pada 1890 mulai berkembang.

Terlebih ketika jalur kereta api dibangun untuk memudahkan distribusi tebu. Dari yang rencana awal melewati Kota Banyumas sebagai Ibukota Karesidenan terpaksa diubah karena Kota Banyumas dikelilingi pegunungan yang bakal berimbas pada mahalnya biaya. Akhirnya jalur kereta api dan stasiun dibangun di Kota Purwokerto pada 1895.

Pembangunan jalur kereta mendorong kantor-kantor dagang yang dahulu berada di Kota Banyumas, ramai-ramai pindah ke Kota Purwokerto. Hingga akhirnya pada 1937, pemerintah kolonial Belanda memindahkan kantor pusat pemerintahan kabupaten sekaligus karesidenan Banyumas ke Kota Purwokerto.

Pada masa peralihan ibukota inilah, pada 1930, sebuah hotel dibangun di pusat kota, Jalan Jenderal Sudirman (dahulu Pasar Wagestraat) nomor 732, beberapa langkah dari Pasar Wage, pasar utama di Purwokerto, dan tak jauh dari Stasiun Purwokerto.

Bangunannya berlanggam Indis, langgam yang sedang tren saat itu. Jumlah kamar ada 19, masing-masing berukuran 6×5 meter, tersebar di bangunan utama dan bersambung ke bangunan yang mengelilingi taman. Nama “Hotel Besar” pun dipilih dengan harapan kelak akan menjadi maju dan besar.

Penggagasnya Nyonya The Shia (1870 – 1952), yang bersama suaminya, Tuan The Shia, berprofesi sebagai pedagang jamu di Purwokerto. Pasangan ini mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, ditambah dari hasil menjual rumah tinggal dan tempat usaha mereka pada 1925, akhirnya membeli lahan seluas 5000 meter persegi di seberang jalan.

Jika sekarang kita lihat ada toko mas Sembada di seberang hotel, itulah dahulu rumah tinggal dan toko jamu milik The Shia.

Hotel ini berjalan lancar, walau belum dapat dikatakan sukses. Cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. The Shia memiliki anak tunggal The Ting Hok (1888 – 1942) yang memilih berdagang hasil bumi dan tak berminat mengelola hotel.

Perubahan signifikan mulai dirasakan setelah lahir putera The Ting Hok, The Han Key (1909 – 1971). Hotel mengalami masa kejayaan, perekonomian keluarga membaik, sehingga sang cucu bisa mendapat pendidikan formal yang baik.

The Han Key ternyata menyukai bisnis hotel, didukung sifatnya yang ulet dan pantang menyerah. The Han Key resmi menjadi penerus Hotel Besar pada 1939, di usia 27 tahun. Pada tahun yang sama dia mempersunting Cen Cu Cin. Mereka memiliki tiga anak laki-laki dan satu perempuan, yakni The Dien Tje, The Che Sing, The Sing Tjen, dan The Tjen Hauw.

Dari empat anak, The Sin Tjen (lahir 1942) yang punya ketertarikan pada bisnis hotel. Sejak remaja, dia diajarkan ibunya cara mengurus hotel, sehingga sangat paham keseharian berjalannya hotel.

The Sing Tjen menikah dengan Liu Fang Lan pada 1974 dan memiliki lima anak. Setelah ayahnya wafat, The Sing Tjen menggantikan kedudukan ayahnya dan sampai saat ini menjadi Direktur Hotel Besar.

Source https://sarasvati.co.id https://sarasvati.co.id/news/travel/04/hotel-besar-tumbuhnya-purwokerto/
Comments
Loading...