Sejarah Gereja Kristen Indonesia Salatiga

0 110

Gereja Kristen Indonesia Salatiga

Melacak kapan jemaat Salatiga mulai berdiri terasa sulit, mengingat catatan sejarah jemaat ini amat minim. Kita hanya dapat menelusurinya ketika pada awal 1900 telah berkumpul sejumlah orang Tionghoa di rumah pekabar Injil Jasper, Jl. Kotapraja (kini Jl. Sukowati). Memang ada juga pekabar Injil Kamp yang melayani orang Jawa di Jl. Beringin (kini Jl. Patimura). Kedua kelompok murid itu bergabung sepeninggal kedua pekabar Injil di atas, yang kemudian dilayani oleh pekabar Injil van der Veen. Karena beliau pindah ke Ungaran untuk mengajar di Sekolah Teologi di sana, maka kelompok itu dilayani oleh pekabar Injil H. Bax. Hal itu terjadi sekitar, tahun 1930-an, bahkan pada tahun 1932 mereka berhasil membangun gedung gereja, yang kemudian dipergunakan oleh Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU).

Pada tahun 1938, pekabar Injil H. Bax wafat dan pelayanan kepada mereka digantikan oleh Pdt. Liem Siok Hie bersama Sdr. Liem Yok Sien, salah seorang anggota jemaat. Berikutnya, Guru Injil Tjoa Tjin Touw (Basile Maruta) yang berperan, disusul Guru Injil Tan Ik Hay (Iskak Gunawan), yang kemudian ditahbiskan menjadi pendeta yang pertama. Pada masa itu, jemaat memakai nama `Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee’ Salatiga. Pdt. Tan Ik Hay bersama Pdt. Basoeki Probowinoto mencetuskan berdirinya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) pada tahun 1956, yang memiliki sarana yang amat sederhana, diantaranya menggunakan rumah yang berdinding bambu. PTPG inilah yang merupakan cikal bakal Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Menjelang kepindahan beliau ke GKI Ngupasan Yogyakarta, jumlah anggota GKI Salatiga sudah mencapai 400 orang. Kepindahan itu terjadi pada tanggal 3 Maret 1959. Pengganti beliau adalah Pdt. Go Eng Tjoe (Paulus Sudirgo) yang semula melayani GKI Purwokerto. Pada masa pelayanan Pdt. Go Eng Tjoe, jemaat berhasil membeli sebidang tanah di Jl. Jenderal Sudirman 111. Di atas tanah inilah dibangun gedung gereja yang sekarang. Selanjutnya perkembangan jumlah anggota bertambah pesat dengan kehadiran para mahasiswa UKSW dan para buruh dari PT. Damatex. Dengan demikian, cukup beragamlah kehadiran pelbagai etnis di tengah jemaat GKI Salatiga.

Berikutnya, Pdt. Go Eng Tjoe pada tahun 1965 memenuhi panggilan GKI Pengampon Cirebon dan beliau digantikan oleh Pdt. Tan Tjioe Gwan (Paulus Widihandojo) yang semula melayani GKI Blora. Kemudian, jemaat juga memanggil Sdr. The Koen Bik meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di Amerika Serikat pada tanggal 1 Oktober 1989, sehingga jemaat memanggil calon pendeta atas diri Sdr. Yahya Wijaya, yang kemudian ditahbiskan pada tanggal 19 September 1991. Karena kepergian Pdt. Yahya Wijaya ke Inggris dalam rangka proyeksi selaku calon dosen Fakultas Teologi `Duta Wacana’ Yogyakarta, maka dipanggilah Pdt. Iman Santoso, yang semula melayani GKI Parakan dan diteguhkan pada tanggal 26 Mei 1998. Tercatat pada tahun 2000 ini jumlah anggota jemaat GKI Salatiga sekitar 2000 orang.

Source http://maribelajarsejarahsalatiga.weebly.com http://maribelajarsejarahsalatiga.weebly.com/gki-salatiga.html
Comments
Loading...