Sejarah Gereja Kebon Dalem Semarang

0 115

Lokasi Gereja Kebon Dalem

Gereja Kebon Dalem terletak di Daerah Pecinan, di jalan Gg. Pinggir, Semarang, Jawa Tengah.

Sejarah Gereja Kebon Dalem

Paroki yang sekarang dikenal sebagai Paroki Kebon Dalem pada awalnya merupakan bagian dari wilayah Paroki Gedangan. Sebagian besar umat adalah suku Tionghoa, dan tinggal di daerah pecinan. Sebagian kecil suku Jawa atau yang lain.

Dalam catatan Sejarah Gereja Kebon Dalem yang ditulis dalam buku 50 tahun “St. Fransiskus Xaverius” Kebon Dalem Semarang diceritakan sebagai berikut. Suatu hari di tahun 1935, Pastor Simon Beekman SJ, dan Pastor Minderop SJ, pastor kepala Gedangan, bersama-sama berdiri di tangga marmer depan gedung yang saat ini kita kenaI sebagai gereja Kebon Dalem.

Pastor Beekman sejak awal mula ingin berdiam di tengah-tengah perkampungan orang-orang Tionghoa, agar Misi lebih dikenal dan dihargai. Dan setelah sekian tahun Pastor Beekman mencari-cari dan berpikir tentang hal tersebut, akhirnya ia mendapatkannya. Pastor Beekman sangat tertarik kepada Kebon Dalem, suatu kompleks bangunan besar yang indah, bercorak arsitektur dan penuh ornamen Tiongkok kuno.

Bangunan-bangunan besar yang sudah tua itu memiliki nilai-nilai sejarah. Gedung gereja itu dulu merupakan rumah abu dan pernah menjadi pusat hiburan orang-orang Tionghoa pada pertengahan abad ke 19. Gedung susteran, gedung-gedung sekolah dan sebagian kini telah menjadi lapangan tenis itu adalah bekas gedung kediaman Mayor Be Biauw Tjwan. Gedung tersebut dahulu sering dipakai sebagai pemberhentian pertama (bahasa Jawa: jujugan) oleh para utusan raja-raja Tiongkok bila berkunjung ke Indonesia.

Sejak tahun 1895 di Kebon Dalem itu sudah ada seorang penghuni yang te1ah beragama katolik: Clara Maria Be Kiem Nio, puteri Tuan Be Ing Tjoe. Kepadanyalah beberapa kali Pastor Beekman minta agar diperbolehkan menyewa serambi muka rumah abu yang berada di dalam kompleks itu untuk mendirikan sekolah. Tetapi permintaan itu selalu ditolaknya sambil tersenyum.

Bangunan – bangunan tersebut menjadi tak terpelihara, bahkan ada hipotik sebesar fl. 30.000,-. Pemiliknya tidak mampu membayar, karenanya gedung itu akan dilelang. Makelar Firman “Lebert” menawarkan kepada Pastor Beekman. Ketika Superior Misi mendapatkan laporan tentang tawaran ini, beliau menyetujuinya. Kesulitan pertama datang dari penghuni. rumah tertua yang tidak mau mengakui hipotik itu. Diajukanlah masalahnya ke Sidang Pengadilan dengan pembela dari empat kantor pengacara, pro dan kontra. Kira-kira setahun kemudian, diperoleh berita, bahwa hipotik diakui sah oleh Pengadilan. Tetapi penghuni tertua naik banding. Dan sekali lagi, hipotik diakui sah.

Source http://semarangkota.com/ http://semarangkota.com/02/sejarah-gereja-kebon-dalem/
Comments
Loading...