Sejarah Gereja Batak Karo Protestan

0 165

Gereja Batak Karo Protestan

Gereja Batak Karo Protestan (disingkat GBKP) adalah sebuah kelompok gereja Protestan di Indonesia yang berdiri di Tanah Karo, Sumatera Utara dan melayani masyarakat Karo. GBKP adalah gereja Kristen Protestan yang beraliran Calvinis.

Pada 18 April 1890, Nederlands Zendelingenootschap (NZG), mengutus Pdt. H.C. Kruyt dari Tomohon, Minahasa, ke Tanah Karo. Kruyt tinggal di Buluh Awar yang menjadi pos penginjilan yang pertama di Tanah Karo. Tahun berikutnya dia menjemput empat orang Guru Injil yaitu B. Wenas, J. Pinontoan, R. Tampenawas, dan H. Pesik. Keempat orang inilah yang menjadi rekan Kruyt melakukan penginjilan di Karo. Sebelumnya, keempat orang ini juga bekerja di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.

Pada tahun 1892, Pdt. H.C. Kruyt pulang ke negerinya tanpa berhasil membaptis seorang pun dari suku Karo. Ia kemudian digantikan Pdt. J.K. Wijngaarden, yang sebelumnya telah bekerja di Pulau Sawu dekat Pulau Timor. Pendeta inilah yang melakukan pembaptisan pertama pada suku Karo pada tanggal 20 Agustus 1893. Pada saat itu ada enam orang yang dibabtis, yaitu: Sampe, Ngurupi, Pengarapen, Nuah, Tala, dan Tabar. Pada tanggal 21 September 1894 Pendeta Wijngarden meninggal tanggal karena serangan disentri.

Wijgaarden digantikan oleh Pdt. Joustra. Dialah yang menerjemahkan 104 cerita-cerita Alkitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Karo (104 turi-turian). Wijgaarden juga tinggal di Buluh Awar.

Kemudian datang pula Pdt. Henri Guillaume (utusan RMG dari Jerman) dari Saribudolok yang sebelumnya tinggal di Tapanuli. Pada saat itu, Saribudolok merupakan daerah pelayanan gereja Batak (cikal-bakal HKBP-Huria Kristen Batak Protestan). Bersama dengan Pdt. Henri Guillaume, datang pula seorang guru injil, bernama Martin Siregar.

Sampai tahun 1900, orang Karo yang sudah dibaptis hanya 25 orang. Dalam kurun waktu 10 tahun pertama tidak banyak orang Karo yang dibabtis. Ini disebabkan oleh kegigihan suku Karo dalam mempertahankan tradisi dan adat istiadatnya. Mereka merasa aman hidup dalam kebudayaan yang bersifat magis, mistis, dan animistis. Selain itu, perkembangan Islam di Sumetera juga turut mempengaruhnya kurangnya penduduk lokal Karo yang mau dibabtis.

Tahun 1903, datang pula Pdt. E.J. van den Berg dan J.H. Neumann yang kemudian membuka pos baru (Pos Keempat) dan menetap di Kabanjahe. Keduanya merupakan teman sekerja yang baik. Mereka membuka Rumah Sakit Zending di Sibolangit dan di KabanJahe. Mereka juga bekerjasama dengan pihak pemerintah. Pdt. E.J.Van den Berg membuka Rumah Sakit Kusta di Lau Simomo. Sementara itu, J.H. Neumann aktif membuka pekan-pekan (sejenis pasar di desa-desa) di daerah Deli Hulu.

Source https://id.wikipedia.org https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Batak_Karo_Protestan
Comments
Loading...