Sejarah Gedung Telepoonken Cililin Bandung

0 25

Gedung Telepoonken Cililin

. Pada 1916 dibangun Gedung Telepoonken Cililin yang siarannya sering terganggu karena letaknya berada di lembah. Pada November 1918, Raymond memperluas area dengan menambah sekira 10 hektare. Di dataran paling tinggi, dipasang antena pemancar radio. Siaran radio di sana bisa ditangkap sampai Eropa dan Amerika. Lewat saluran radio itulah para penjajah Belanda berkomunikasi dengan negaranya.

Pada 1923, Gedung Telepoonken Cililin dipegang dan dioperasikan Sukinta, petugas Telepoonken pindahan dari Manokwari. Saat itu, dibangun tiga bangunan pendukung dan gedung bawah tanah untuk menaruh generator. Tahun 1924, Telepoonken berubah nama jadi Radio Nirom atau Nederland Indishe Radio Ommelanden. Namun, Radio Nirom ternyata kurang berfungsi dengan baik. Pemancar radio dan berbagai peralatan di sana kemudian dipindah ke Rancaekek dan Dayeuhkolot.

Setelah berbagai peralatan dipindah, gedung radio Nirom di Cililin praktis tidak berfungsi lagi. Radio Nirom yang baru kemudian beroperasi di kawasan Gunung Puntang yang kini masuk wilayah Banjaran, Kabupaten Bandung. Lahan semula kemudian dikuasai oleh Dinas Kehutanan setelah mendapat izin dari Departemen Agraria pada 1937. Bangunan utama digunakan Bosch Wesen dan bangunan lain dihuni Waker. Pada 1944, tanah dan bangunan di lokasi kemudian sempat telantar.

Usai Proklamasi RI, seluruh aset asing harus dinasionaliasikan, termasuk gedung radio. Pada 1945 hingga 1949, gedung itu kemudian dijadikan markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) Kewedanaan Cililin. Lalu, pada 1950-1973, dijadikan markas Batalyon (Yon) 22 Jaya Pangrengot hingga Yon 327 Divisi Siliwangi. Pada Maret 1973, seluruh pasukan ditarik dari sana karena Pangdam IV/Siliwangi menyerahkan kembali tanah dan bangunan radio ke Perum Telekomunikasi Daerah 8 Bandung.

Ada beberapa informasinya yang sepertinya kurang tepat terkait dengan sejarah Radio NIROM. Radio dalam hal ini bisa berarti 2, radio komunikasi dan radio siaran. Untuk radio komunikasi, sejarah singkatnya bisa dibaca di

Jika yang dimaksud adalah radio siaran, maka sejarah mencatat bahwa radio siaran di Bandung dimulai dari pendirian ” Bandoengshe Radio Vereeniging”(B.R.V.)pada tanggal 15 April 1926 dengan Meneer J.G. Prins sebagai ketua yang pertama. Siaran pertama dapat mulai mengudara pada tanggal 8 Agustus 1926,dari studionya yang mengambil tempat di ruang atas percetakan Vorking yang terletak di Postweg (sekarang jalan Asia-Afrika, saat ini bangunannya sudah tidak ada lagi. Pengelolaan Siaran Radio di Bandung diambil alih oleh “NIROM” (Nederlandshe Indische Radio oemroep Maatschappij) pada tahun 1929 karena adanya kesulitan dalam pengelolaannya.

NIROM yang menempati Studio pemancarnya di belakang gedung NILLMIJ (sekarang Jiwasraya, Alun-Alun Bandung). Selanjutnya Radio NIROM ke lokasi baru di Jalan Bukit Tunggu daerah Ciumbuleuit(sekarang bangunannya sudah tidak ada. Siaran terakhir radio NIROM terjadi tanggal 8 Maret 1942, jam 23.00. Penyiar Bert Gerthoff dari Nirom Bandung menyampaikan kata-kata perpisahannya yang terkenal : “Wij sluiten nu. Vaarwel tot betere tijden. Leve de Koningin” (Kami akhiri sekarang. Selamat tinggal, sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sri Ratu). Setelah itu NIROM tidak lagi beroperasi karena Bandung jatuh ke tangan Jepang.

Source https://achmadrizal.staff.telkomuniversity.ac.id https://achmadrizal.staff.telkomuniversity.ac.id/cerita-lain-tentang-peninggalan-radio-nirom-di-bandung/
Comments
Loading...