Sejarah Gedung SMA Cor Jesu Malang

0 56

Sejarah Gedung SMA Cor Jesu

Pada bulan Juli 1895 Mgr. Staal, yang merupakan satu-satunya uskup di Hindia Belanda, datang ke Surabaya. Monseigneur Staal mengadakan pembicaraan dengan Sr. Angele Fecken yang berencana mendirikan biara, sekolah dan asrama di Malang. Mgr. Staal mendukung dan memberkati usul Sr. Angele itu.

Saat Oktober 1897, Sr. Angele, Sr. Xavier Smeets dan beberapa suster lainnya berangkat ke Malang dan mereka menginap pada keluarga Stucky. Mereka ditawari dua bidang tanah yang cocok bagi rencana para suster tersebut, yang satu milik keluarga Borwarter-Stenneker yang terletak di luar kota dan di Jalan Celaket (sekarang Jl. Jaksa Agung Suprapto). Akhirnya Sr. Angele memilih dan membeli sebuah rumah besar dan tanah di daerah Celaket itu sebesar 15.000 Gulden pada permulaan tahun 1899. Ia memilih tempat ini karena tanahnya sangat luas, kira-kira 22.000 m². Tuan Hoefsmit bersedia mengurus segala surat dan dokumen yang perlu untuk pembelian tanah itu.

Pada tanggal 8 Februari 1900 tanah itu telah resmi menjadi milik Suster Ursulin. Ketiga orang suster tersebut adalah Sr. Xavier Smets, Sr. Aldegonde Flekcen, Sr. Martha Bierings. Mereka membuka TK pada 1 Maret 1900 dan selanjutnya berkembang dengan dibukanya SD dan asrama pada 1 Mei 1900. Pada 3 Maret 1900 dari Surabaya datang arsitek Westmaas yang membangun gereja di Kepanjen (sebelah SMA Frateran Surabaya). Ia membuat rencana dan gambar pembangunan asrama, kemudian ia memeriksa seluruh tanah dan menemukan sumber air yag sangat baik dan berguna sampai sekarang. Pada 28 November 1900 Suster Angele Fecken menggabungkan Biara Ursulin di Malang dalam Uni Roma.

Pada awal bulan Juli 1920 mulai dibuka MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau R.K Muloshool. Sekolah ini setara dengan Sekolah Menengah Pertama. Sekolah ini telah mengalami berbagai perbaikan dan pembangunan untuk memajukan R.K. Muloshool. Dari awal pembangunannya, R.K. Muloshool sudah memiliki berbagai fasilitas yang lengkap. Seperti memiliki lapangan yang luas dan gymnastic serbaguna dan kelengkapan lainnya. Di dalamnya juga terdapat kapel yang cukup besar untuk beribadah. Sebagai bentuk penghormatan kepada suster–suster yang telah mengabdi kepada sekolah, di belakang Gereja terdapat kompleks pemakaman suster.

Pada tahun 1926 dibangunlah gedung yang lebih besar oleh biro arsitek Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers dari Batavia. Kedua bangunan itu adalah gedung Zusterschool dan Fraterschool yang sekarang. Semua gedung milik Katolik biasanya dirancang oleh biro ini. Gedung yang saat ini dikenal sebagai Frateran dahulu bernama Kloosterschool Zuster Ursulinen yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan suster Ursulin sampai pada akhirnya berdiri sendiri dengan nama Frateran.

Pada 21 Juli 1930, menyusul pembukaan Sekolah Guru (Kweek School) Santo Agustinus. Mulai saat itu jumlah murid Sekolah Ursulin itu sudah lebih dari 1.000 orang. Pada tahun 1936 dibuka juga SMTK (Sekolah Menengah Tinggi Katolik) St.Albertus. Sekolah ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Saat itu yang disebut sebagai SMTK Santo Albertus adalah yang saat ini sebagai Dempo, Cor Jesu dan Frateran. Pada awalnya seluruh sekolah di kompleks Cor Jesu, adalah sekolah khusus putri.

Pada masa pendudukan Jepang, sekolah ini dihentikan untuk keperluan Jepang. Suster Ursulin diperintahkan untuk menutup semua sekolah yang mereka kelola, termasuk Sekolah Pendidikan Guru Santo Agustinus. Bahkan beberapa suster harus masuk kamp tawanan. Setelah Jepang kalah perang, pada November 1945 dijadikan tempat sementara Sekolah Tentara Divisi VII Suropati sebelum pindah ke bekas asrama Marine Belanda di Jalan Andalas. Sekolah dan asrama ini pun mulai dibuka lagi.

Pada 22 Juli 1947 terjadi Agresi Militer Belanda I ke wilayah Republik Indonesia. Kota Malang tidak luput dari usaha pendudukan oleh Belanda. Hampir 1000 gedung dibakar oleh pejuang agar tidak bisa digunakan Belanda termasuk pula pembakaran seluruh kompleks Cor Jesu. Hal ini menyebabkan kompleks Cor Jesu rusak berat. Para suster dan anak-anak hidup dalam ketegangan dan ketakutan. Pada bulan Oktober 1947, tiga tentara Belanda memeriksa gedung dan menemukan bom besar dalam tumpukan puing-puing di Sekolah Cor Jesu.

Pembangunan kembali gedung yang dibakar akhirnya dilakukan pada 8 April 1951. Pada 15 Juli 1951 Sekolah Pendidikan Guru Santo Agustinus berubah menjadi SMA Cor Jesu dan diresmikan oleh Monseigneur pada tanggal 13 Januari 1955. Sebagai pengganti SPG Santo Agustinus yang tidak dibuka lagi, maka pada tanggal 15 Juli 1951 dibukalah SMAK Cor Jesu, Bagian A (Bahasa) dan Bagian B (Ilmu Pasti) dan hanya menerima siswa putri. Masalah besar yang dihadapi saat itu adalah tidak ada tempat untuk kelas karena pembangunan gedung yang dibakar belum selesai. Oleh sebab itu, tempat sepeda pun sempat dipakai untuk kelas SMA. Karena belum memenuhi persyaratan untuk menyelenggarakan ujian sendiri maka untuk sementara SMAK Cor Jesu bernaung di bawah SMTK (Sekolah Menengah Tinggi Katolik) St. Albertus sehingga dikenal sebagai SMA Puteri St. Albertus.

Pada tahun 1954 sebagian siswa puteri dari Jl. Dempo dipindahkan ke Jl. Celaket 55 di bawah asuhan Suster Ursulin, tetapi masih di bawah SMTK St. Albertus. Pada tahun itu juga, SMAK Cor Jesu mengikuti ujian negeri untuk pertama kalinya. Pada permulaan tahun pelajaran 1959/1960, SMAK Cor Jesu membuka Bagian C. Pada tanggal 1 Agustus 1960 SMAK Puteri Cor Jesu diperkenankan oleh Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk berdiri sendiri terpisah dari SMA St. Albertus.

Tahun pelajaran 1968/1969, SMAK Cor Jesu mulai menerima siswa putra. Sedangkan SMP Katolik Cor Jesu menerima siswa putra, baru pada tahun 1973. Pada tahun 1984 status SMAK Cor Jesu meningkat dari status diakui menjadi status disamakan.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/5157/sejarah-gedung-sma-cor-jesu/
Comments
Loading...