Sejarah Gedung PPKS

0 120

Gedung PPKS

Berada di kawasan Jalan Brigjend Katamso, tepatnya di seberang Museum Perkebunan Indonesia, terdapat bangunan putih bertuliskan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada bagian atasnya. Sebelum dapat mengakses ke bangunan intinya, pandangan kita akan dibatasi oleh kekokohan pagar besi yang membatasi taman halaman depannya.

Rumput hijau bak karpet juga tampak segar di pandang, diselingi beberapa tanaman perdu dan pohon pelindung. Belum lagi, bangunan-bangunan dengan koridor tepat di belakang gedung, membawa kepada suasana kompleks perumahan di masa kolonial.

Gedung PPKS itu, selain sebagai kantor juga digunakan untuk rumah direktur. Sebelum menjadi PPKS, lembaga penelitian perkebunan pertama di Sumatra tersebut bernama APA (Algemeene Proefstation der AVROS/Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra) yang didirikan pada 26 September 1916. Saat awal, fokus utama penelitiannya adalah komoditas karet, setelah semakin berkembang APA juga menangani penelitian teh dan kelapa sawit.

Lembaga penelitian APA berganti nama menjadi Balai Penyelidikan GAPPERSU atau Research Institute of The Sumatra Planters Association (RISPA) pada 1957. Status dan nama RISPA terus menerus berganti hingga pada 1987, kemudian berganti menjadi Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbun) Medan. Akhirnya pada 24 Desember 1992, tiga puslitbun, Puslitbun Marihat, Puslitbun Bandar Kuala, dan Puslitbun Medan melebur menjadi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).

Hampir setiap sudut luar bangunannya, tidak terlepas dari balutan pilar kokoh yang menjulang hingga ke langit-langit luar lantai 2. Bahkan pada fasad bangunan, sudut kanan-kirinya diperkuat empat pilar untuk menyamarkan sudutnya.

Cat luar bangunan inti didominasi putih, diselingi garis simetris cokelat pada sisi jendela, langit-langit, dan pada tiang-tiangnya. Arsitek bangunan tersebut, benar-benar jeli saat mendesainnya. Tak ada satu sisi pun yang tak diperhitungkan. Bahkan sampai jerjak, plafon, dinding, balkon, hingga ukiran ornamen pada ventilasi ruangan.

Sebelum memasuki bangunan induk, di sisi kanan-kiri pintunya tertulis Hoogte Boven Zee (Medan – Peil) 32,45M (Hoogte Kop Rail D.S.M.Station Kp. Baru). Terdapat juga plang dan prasasti bertuliskan ‘Gedung Cagar Budaya Kota Medan Badan Warisan Sumatera dan Lambang Pemerintah Kota’. Simbol-simbol warisan sejarah itu disempurnakan dengan adanya logo kerajaan Belanda bertuliskan ‘LIPS’.

Sejumlah penanda tersebut, membuat bangunan berlantai dua itu pantas dijadikan sebagai aset heritage yang harus dirawat. Pusat riset kelapa sawit itu pun merawat rutin bangunan bersejarah tersebut. Apalagi bangunan itu juga dijadikan sebagai kediaman pimpinan PPKS.

Manajer Pembangunan Usaha dan Promosi, GRKS, M. Akmal Agustira, kepada Analisa, Selasa (22/3) menyebutkan, bangunan itu menjadi salah satu aset yang dikelola PPKS atau Indonesian Oil Palm Research Institute. Sebagai kantor operasional perusahaan, aset arsitektur bernilai tinggi itu diakui berdesain artistik, yang tidak banyak dimiliki bangunan masa kini.

“Inilah rumah yang masih digunakan direktur kami saat ini. Nama arsiteknya tertempel di dekat pintu masuk, yakni G.H.Mulder,” ungkapnya.

Saat ada pejabat dari luar negeri, bila memungkinkan, jamuan makannya juga dilakukan di gedung itu. Rumah yang juga dipakai kepala tinggi perkebunan di masa kolonial itu, kini usianya sudah mencapai 100 tahun.

Seperti kebanyakan bangunan peninggalan kolonial lainnya di Medan, arsiteknya juga menyiapkan bangunan klasik itu dengan desain pola ukir, interior, dan eksterior yang sangat mewah. Bangunan yang diselesaikan dalam waktu singkat (1917-1918) itu pun layak diberi predikat sebagai bangunan bernilai sejarah.

Meski usianya mencapai seabad, interior bangunan yang didominasi kecokelatan itu masih sangat terjaga. Layaknya kediaman, bangunan ini juga punya beberapa ruang di dalamnya. Beberapa kamar di antaranya menjadi ruang operasional, misalnya ruang arsip atau bagian legal perusahaan.

Balutan dominasi coklelat di tiang berbahan jati tampak serasi dengan lantai marmer di ruang dalam. Beberapa peranti lainnya pada sisi bangunan juga menggunakan bahan dasar kayu jati. Misalnya pada pintu masuk lantai 1, anak tangga, juga pada area penyimpanan arsip yang berlantai jati dan pada langit-langitnya.

Dirincinya, tidak banyak yang diubah saat melakukan perawatan gedung. Secara periodik, selain dibersihkan , perawatan yang dilakukan juga menyentuh pada pengecatan.

Desain bangunannya yang sangat kokoh, memungkinkan bangunan itu terus digunakan sebagai operasional perusahaan. Kendati demikian, tentu aktivitas di dalam gedung itu tidak sesibuk layaknya gedung pemerintahan lainnya.

Source http://harian.analisadaily.com http://harian.analisadaily.com/arsitektur/news/seabad-gedung-rispa-peninggalan-kolonial/336229/2017/03/26
Comments
Loading...