Sejarah Gedung Kesenian Sobokartti

0 18

Gedung Kesenian Sobokartti

Gedung Sobokartti yang terletak di Jln. Dr. Cipto No. 31-33 Semarang saat ini hanya dikenal oleh sebagian kecil masyarakat sebagai salah satu bangunan cagar budaya dan tempat yang menyelenggarakan berbagai kegiatan kesenian. Bahkan masyarakat Kota Semarangpun banyak yang tidak mengetahui keberadaan gedung Sobokartti yang telah berusia 83 tahun ini. Padahal bangunan ini menyimpan cerita sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kesetaraan hak dalam seni budaya.

Pembangunan gedung Sobokartti tidak terlepas dari masa-masa penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Proses pembangunan gedung Sobokartti dilakukan pada masa diberlakukannya Politik Etis yang dilatarbelakangi oleh pandangan Ethische Richting yang beranggapan bahwa bangsa bumiputera dan bangsa Belanda harus bersatu karena mereka saling membutuhkan; juga pandangan bahwa ’Timur’ dan ’Barat’ harus saling mengisi dan melengkapi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik demi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.

Pada masa itu nasionalisme muncul juga di bidang kebudayaan dan kesenian. Timbul kesadaran di kalangan terpelajar bahwa kebudayaan dan kesenian bumiputera tidak kalah dari kebudayaan dan kesenian Barat serta layak mendapatkan perhatian dan dipelajari secara serius. Dalam suasana seperti itu muncul keinginan di kalangan pemuda pelajar untuk mempelajari kesenian keraton yang sebelumnya tidak bisa dipelajari dan dinikmati oleh masyarakat di luar keraton. Pemuda pelajar yang tergabung dalam Tri Kara Darma meminta kepada Sultan Hamengkubuwana VII dari Yogyakarta agar mereka boleh mempelajari kesenian keraton.

Permintaan tersebut dipenuhi oleh pihak keraton dengan mendirikan organisasi Kridha Beksa Wirama (KBW) pada 17 Agustus 1918. KBW merupakan wadah untuk menyebarluaskan pendidikan seni tari bagi masyarakat umum di mana KBW menyediakan guru-guru tari. Momentum itu menandai awal proses demokratisasi seni pertunjukan keraton Jawa.Sejak itu seni pertunjukan yang semula hanya berkembang di dalam keraton, seperti tari bedhaya, srimpi, wirèng dan wayangwong bisa dipelajari dan dinikmati masyarakat di luar keraton.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/purwanti_asih_anna_levi/54f3640c745513972b6c7371/gedung-sobokartti-tonggak-demokratisasi-seni
Comments
Loading...