Sejarah Gedung Agung Yogyakarta

0 215

Lokasi Gedung Agung

Gedung ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 3 Kampung Ngupasan RT. 09 RW. 03 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini tepat berada di depan benteng Vredeburg, atau berada di sebelah utara BNI 46 dan di sebelah selatan GPIB Marga Mulya.

Sejarah Gedung Agung

Menurut catatan sejarah, Gedung Agung ini dibangun pada Mei 1824 atas prakarsa Residen Belanda ke-18 di Yogyakarta, Anthonie Hendriks Smissaert. Pada waktu itu, sang residen mengajukan pembangunan gedung ini sebagai kediaman resmi atau rumah dinas bagi residen yang bertugas di Yogyakarta. Karena tidak mau kalah dengan wibawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, maka pembangunan gedung ini pun juga tak kalah megahnya dengan kediaman Sultan Yogyakarta tersebut.

Dalam pembangunan gedung ini, Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Godert Alexander Gerard Phillip Baron van der Capellen (1816-1826), menunjuk langsung seorang arsitek bernama Antonie Auguste Joseph Payen. Payen adalah seorang arsitek berkebangsaan Belgia yang gemar melukis dan membuat litografi.

Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena terjadinya Perang Jawa (1825-1830). Perang gerilya yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya, nyaris membuat Pemerintah Hindia Belanda mengalami kebangkrutan. Sehingga, pembangunan gedung tersebut terbengkelai. Baru dilanjutkan kembali setelah berakhirnya perang tersebut, dan selesai pada tahun 1832. Pada 10 Juni 1867, gedung ini mengalami rusak parah akibat gempa bumi yang melanda Yogyakarta, dan dipugar kembali pada tahun 1869.

Pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi di mana gubernur menjadi penguasa tertinggi. Dengan demikian, gedung tersebut menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta. Beberapa gubernur Belanda yang pernah mendiami gedung ini, adalah J.E. Jesper (1926-1927), P.R.W. van Gesseler Verchuur (1929-1932), H.M. de Kock (1932-1935), J. Bijlevel (1935-1940), sampai pada L. Adam (1940-1942).

Bangunan Gedung Agung

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung ini digunakan  untuk kediaman petinggi Jepang bernama Kooch Zimmukyoku Tyookan. Kemudian, setelah Jepang hengkang dari Yogyakarta, pada tanggal 29 Oktober 1945 gedung ini digunakan untuk Kantor Komite Nasional Indonesia.

Namun, sejak 6 Januari 1946, gedung ini resmi menjadi Istana Kepresidenan Republik Indonesia bertepatan dengan dijadikannya Yogyakarta sebagai ibukota sementara pada waktu itu. Ketika Presiden dan Wakil Presiden sudah kembali ke Jakarta pada 28 Desember 1949, gedung ini digunakan untuk menerima tamu-tamu para petinggi RI pada waktu ingin mengunjungi Yogyakarta. Oleh karena itu, masyarakat Jogja menyebutnya dengan Gedung Agung, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung.

Gedung yang berdiri di atas lahan seluas 43.585 m² ini memiliki banyak ruangan, namun dilihat dari arsitekturnya terlihat bahwa gedung ini memiliki langgam Indische Empire Style. Gaya rumah Indische serta gaya dari kebun yang menyertainya diadopsi dari gaya arsitektur yang berkembang di Perancis pada abad ke 17 dan 18.

 

Source Gedung Agung Yogyakarta
Comments
Loading...