Sejarah Gapura Kuna Puri Andul Negara

0 123

Gapura Kuna Puri Andul Negara

Sejarah berdirinya Puri Andul dapat diketahui dari masa pemerintahan Kerajaan Brambang di Jembrana. Ketika I Gusti Agung Widia bertahta di Gelgel, beliau mengutus salah seorang putranya yang bernama I Gusti Ngurah Basangtamiang dengan pengawalan berupa pasukan perang dan beberapa orang rakyat untuk menempati sebuah daerah bernama Brambang yang berlokasi di Jembrana. Selain mengemban tugas dari ayahnya, juga atas perintah Dalem yang memerintah di Gelgel pada saat itu. I Gusti Ngurah Basangtamiang akhirnya tiba di Desa Brambang untuk memegang tampuk pemerintahan dan mendirikan sebuah istana. Atas perintah Dalem agar istana yang dibangun terletak di dataran yang tinggi, agar berdirinya istana di Brambang akan dapat dilihat dari Blambangan (Banyuwangi), yang merupakan jajahan Kerajaan Gelgel. Pada saat pemerintahan I Gusti Ngurah Basangtamiang di Kerajaan Brambang, seluruh rakyat dan para patihnya sangat setia, taat, dan patuh kepada beliau.

Beberapa tahun beliau lamanya memerintah di Brambang, akhirnya dikisahkan beliau mempunyai putra yang bernama I Gusti Brambang Murti. Beliau adalah seorang putra yang sangat taat dan patuh kepada orang tua, namu tidak berapa lama setelah beliau dewasa, I Gusti Ngurah Basangtamiang wafat. I Gusti Brambang Murti menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja di Kerajaan Brambang. Beliau senang melakukan semadi, sehingga dianugrahi kesaktian yang sangat dibanggakannya. Pada saat beliau melakukan semadi pula beliau mempersunting seorang istri yang bernama I Gusti Ayu Dari. Selama I Gusti Brambang Murti memerintah di Kerajaan Brambang, keadaan kerajaan tentram, aman dan tanpa adanya perselisihan. Hal ini membuat Kerajaan Brambang menjadi mashur dan seluruh rakyatnya hidup tenteram. Suasana tenteram Kerajaan Brambang menjadi terganggu dengan adanya serangan yang tiba-tiba dari Kerajaan Blambangan. Rakyat bergolak melakukan perlawanan dalam peperangan yang sangat dahsyat, yang akhirnya dimenangkan oleh Kerajaan Brambang yang pada akhirnya membuat Kerajaan Blambangan tetap tunduk kepada Kerajaan Brambang.

Dikisahkan I Gusti Brambang Murti memiliki seorang putra yang bernama I Gusti Gede Giri dan seorang putri yang bernama I Gusti Ayu Asti. Pemegang kekuasaan berikutnya di Kerajaan Brambang adalah I Gusti Gede Giri. Tidak lama setelah beliau memegang kekuasaan, Kerajaan Brambang diserang oleh Kerajaan Buleleng yang saat itu diperintah oleh I Gusti Panji Sakti. Selanjutnya Kerajaan Brambang takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Buleleng dan status I Gusti Gede Giri diturunkan menjadi manca agung, bukan lagi sebagai raja. I Gusti Gede Giri dikaruniai 2 orang putra, yaitu : I Gusti Ngurah Tapa dan I Gusti Ngurah Made Yasa.

Dalam Babad Sang Aji Basangtamiang disebutkan bahwa Kerajaan Brambang merupakan bagian dari Kerajaan Mengwi (Mangunpura). Pada saat itu di Mengwi bertahta seorang raja yang bernama Ida Anak Agung Ngurah Gde Agung. Berita kekalahan Kerajaan Brambang atas Kerajaan Buleleng telah sampai di Kerajaan Mengwi. Ida Anak Agung Ngurah Gde Agung mengutis I Gusti Celul Tereh mengadakan penyelidikan ke Buleleng dan meminta ketegasan kepada Raja Buleleng agar Kerajaaan Brambang dan Blambangan dikembalikan kepada Kerajaan Mengwi.

Namun dengan tegas Keinginan Kerajaan Mengwi ditolak oleh Kerajaan Buleleng. Karena kedua pihak mempertahankan prinsip masing-masing maka Kerajaan Mengwi memutuskan untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Buleleng. Dalam peperangan kedua belah pihak kehilangan balatentara yang sama banyaknya. Akhirnya karena sama-sama kewalahan diputuskan untuk menempuh jalan damai, dengan syarat Kerajaan Brambang dan Blambangan dikembalikan di bawah kekuasaan Kerajaan Mengwi dan menyerahan adik dari Ki Gusti Panji Sakti yang bernama Ki Gusti Ayu Panji untuk dipersunting sebagai istri.

Sekitar tahun 1621 caka (1699 masehi) Kerajaan Brambang diperintah oleh I Gusti Putu Tapa, merencanakan akan melaksanakan upacara maligya bagi para leluhur yang telah wafat. Untuk menyampaikan maksud tersebut I Gusti Putu Tapa mengutus adiknya I Gusti Made Yasa ke Mengwi dan memohon agar Raja Mengwi bersedia menghadiri acara tersebut. Setelah meyampaikan maksud tersebut kepada Raja Mengwi, I Gusti Made Yasa dan rombongan dari Kerajaan Brambang segera mohon diri untuk kembali ke Jembrana. Sebelum tiba di Istana Brambang, beliau dicegat oleh hamba beliau dan mengatakan bahwa kerajaan beserta istana telah hancur dan musnah akibat bencana yang melanda. I Gusti Made Yasa beserta rombongan kembali ke Mengwi untuk meyampaikan apa yang terjadi di Kerajaan Brambang.

Dengan adanya pristiwa tersebut Raja Menwi membuat kebijakan untuk tetap mempertahankan jalinan kekeluargaan diantara Kerajaan Brambangan dan Mengwi. Beliau mengawinkan I Gusti Made Yasa dengan I Gusti Ayu Resik, serta menganugrahkan sebilah keris yang bernama I Kebo Dongol dan sebuah tombak yang bernama I Dukuh Sakti serta dianugrahkan 100 orang rakyat untuk membangun kembali Kerajaan Brambang. I Gusti Made Yasa beserta rakyatnya membangun kembali istana di tempat yang baru. Lokasi ini banyak ditumbuhi pepohonan, baik besar maupun kecil. Diantara pepohonan itu banyak terdapat pohon andul. Dalam kitab sastra Jawa Kuna “Kalangwan” karya P.J. Zoetmulder, yang dimaksud dengan pohon andul adalah pohon rijasa. Oleh sebab itu istana yang dibangun di lokasi tersebut disebut dengan Puri Andul, karena dikelilingi oleh pohon andul.

Perkawinan I Gusti Made Yasa dengan I Gusti Ayu Resik dikaruniai seorang putra bernama I Gusti Gde Andul. Atas persetujuan Raja Mengwi, setelah dewasa beliau memerintah di Jembrana. I Gusti Made Yasa akhirnya meninggal karena usianya yang telah lanjut. Pemerintahan I Gusti Gde Andul melanjutkan sistem pemerintahan ayahnya, dan beliau sangat taat dan masih mengadakan hubungan yang baik dengan Kerajaan Mengwi.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/evaluasi-pemugaran-gapura-kuna-puri-andul-negara-2/
Comments
Loading...