Sejarah Desa Kadipaten Majalengka

0 413

Desa Kadipaten

Desa Kadipaten pada awalnya merupakan Desa Liangjulang yang berada di bawah pengaruh kekuasaan Demang Karangsambung. Desa ini dahulu dinamakan Blok Jatiraga dipimpin oleh seorang tokoh yang ikut dalam penentuan otonomi Liangjulang dari Karangsambung. Tokoh tersebut bernama Mbah Buyut Sipah.

Jatiraga kehilangan pimpinannya ketika pada tahun 1842, Mbah Buyut Sipah meninggal. Ia dimakamkan di Liangjulang. Makamnya kini dinamakan pasarean Mbah Buyut Sipah. Situsnya menjadi makan kramat. Sepeninggal Mbah Buyut Sipah, kantor pemerintahan yang semula di Blok Liangjulang kemudian dipindahkan ke Blok Jatiraga atas hasil musyawarah sesepuh desa dengan Demang Karangsambung.

Sebagai simbol atas perpindahan pusat pemerintahan Liangjulang, Demang Karasambung mengadakan pesta rakyat berupa acara penghanyutan sebatang pohon jati. Upacara itu simbol seorang pemimpin yang disegani telah pergi untuk selamanya. Batang pohon jati dinaikkan di atas rakit lalu rakit tersebut dihanyutkan di sungai Cilutung dari Liangjulang. Penghanyutan berhasil. Batang pohon jati itu diterima oleh Mbah Purajati dan Mbah Buyut Wirajati. Mereka adalah saudara kembar. Tempat diterimanya batang pohon jati di sekitar Babakan yang kelak disebut Cikembar.

Sekarang daerah itu dinamakan Babakan Cikempar. Setelah meninggalnya dua tokoh Jatiraga itu, situasi dan kondisi desa Liangjulang (Jatiraga) tidak banyak berubah, makam kedua tokoh tersebut dinamakan pasarean Embah Buyut Cikempar. Sebelum meninggal, kedua tokoh tersebut sempat mengadakan acara ritual dengan mengarak sebatang pohon jati mengelilingi alun-alun Jatiraga sebagai “ibukota” desa Liangjulang.

Acara itu dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian Dog-dog, angklung, bende, dll. Batang pohon jati tersebut kemudian dikawinkan dengan pohon jati yang masih hidup. Mereka melakukan proses perkawinan silang pohon jati sambil membaca do’a memohon perlindungan kepada Tuhan agar masyarakat dan para pemimpinnya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Penamaan Jatiraga sendiri berasal dari proses ritual. Jatiraga mengandung arti “Raga Jati” atau “batang pohon jati”.

Sejak tahun 1842, Jatiraga berada di bawah kepemimpinan Kuwu Liangjulang (lihat tulisan tentang Desa Liangjulang) setelah diresmikan menjadi desa definitif sebagai desa Kadipaten pada tahun 1951. Kuwu Desa Liangjulang tetap dijabat oleh E. Enjang.

Sementara Desa Kadipaten dipersiapkan untuk memiliki figur pimpinan. Baru pada tahun 1954, Desa Kadipaten memiliki kuwu pertama bernama Bahrawi. Setelah dua tahun menjabat kuwu, Bahrawi digantikan oleh R.P Wiraatmaja yang pernah menjadi kuwu di Desa Liangjulang tahun 1949 – 1950. Pengganti R.P. Wiraatmaja, S. Prayitno hanya dua tahun memimpin karena terlibat G-30-S-PKI. S. Prayitno digantikan oleh Moch. Nakim (1965-1967), Ito Sasmita (1967-1970), Moch. Nakim (1970-1971), H.M. Ida Mulya (1971- 1984), Machfud (1984-1993), Didi Tjahyadi (1993-1994), Machfud (1994-2002), dan Arnayo (2002 – Hingga terakhir buku ini disusun).

Pada masa kolonialisme Belanda, wilayah desa Kadipaten pernah dijadikan lahan pembantaian (killing field). Rakyat Kadipaten yang tak mau bekerja-sama atau membangkang kehendak Belanda harus menanggung resiko dipukuli dengan cambuk oleh antek-antek Belanda. Mereka yang loyal terhadap Tanah Air dicambuk di sebuah lapangan kosong (kini areal parkir ruko toko Tujuhbelas). Selain dicambuk, mereka juga diikat pada tali pelana kuda. Mereka yang terhukum harus menahan sakit diseret kuda.

Tak heran jika waktu itu masyarakat di daerah Kadipaten takut sekali pada Belanda karena mereka disuruh menonton langsung proses eksekusi semacam itu. Kini Desa Kadipaten terdiri atas dua belas blok atau RW, yaitu Blok Cangkring (RW 01), Jatiraga Barat (RW 02), Jatiraga Timur (RW 03), Gordah (RW 04), Babakan Cikempar (RW 05), Teluk Jambe Utara (RW 06), Teluk Jambe Selatan (RW 07), Babakan Tipes (RW 08), Ampera atau blok pasar (RW 09), Pasar Lawas (RW 10), Anjun (RW 11), dan Blok Sawala (RW 12). Jumlah penduduknya mencapai 11.362 jiwa, dengan perbandingan 5.647 laki-laki dan 5.715 perempuan.

Desa Kadipaten termasuk desa terpadat penduduk di Kab. Majalengka. Ditambah dengan banyaknya dari mereka yang tinggal di permukiman padat penduduk seperti Jatiraga Timur, Gordah, dan Teluk Jambe. Desa Kadipaten saat ini sudah menjadi kawasan kota. Tingkat keramaiannya jauh di atas kota Majalengka.

Kadipaten tumbuh menjadi kota kecil yang ramai. Kota ini penuh dengan pernak-pernik kehidupan seperti kehidupan malam yang tidak berhenti hingga dini hari. Banyaknya hotel atau penginapan menjadi indikasi nyata, Kadipaten adalah kota yang pernah menjadi pusat tujuan bisnis orang-orang luar daerah Majalengka seperti Sumedang (furnitur), orang-orang China Tionghoa (perdagangan).  Dahulu, Kadipaten dikenal sebagai kota judi dan prostitusi. Seiring dengan bertambahnya waktu, kota Kadipaten berubah image menjadi kota perdagangan.

Source http://yoyosubagio.blogspot.com http://yoyosubagio.blogspot.com/2014/04/sejarah-desa-kadipaten-majalengka.html
Comments
Loading...