Sejarah Desa Bunulrejo Malang

0 52

Desa Bunulrejo

Desa Bunulrejo adalah salah satu desa kuno yang ada di Malang. Keberadaan desa itu diketahui dari sebuah Prasasti Bunul (Kanuruhan) yang bertahun 856 Saka dan diketahui dari sosok yang bernama Bulul.

Tahun yang diperkirakan 935 Masehi bulan Posya (Desember-Januari), wuku Wukir atau tepatnya 4 Januari 935 Masehi. Diceritakan jika pemimpin wilayah Watek Kanjuruhan Rakryan Dyah Mungpang memberikan anugerah kepada sesorang yang bernama Bulul berupa status sima (perdikan) bagi dearahnya karena jasanya menanam bunga yang akarnya terapung (teratai) di petirtaan wilayahnya.

Bungai teratai memang sangat disucikan oleh masyarakat Jawa Kuno karena di dalam agama Hindu dan Budha disebut sebagai lambang kesucian dan kemurnian. Perdikan sendiri artinya adalah kebebasan membayar pajak atau potongan pajak. Namun Sang Bulul mendapatkan kewajiban untuk menjaga petirtaan yang sudah dibangun tersebut agar kegiatan keagamaan semakin maju.

Petirtaan yang dimaksud sendiri pernah dijumpai di daerah Beji, Bunulrejo. Sayang sekali pada tahun 60-an kondisinya telah hilang karena diurug oleh pemilih lahan.

Sang Bulul sendiri kemudian meminta kepada Rakryān Kanuruhan Dyah Mungpang agar anugerah tersebut diabadikan pada sebuah monumen prasasti batu, dan selanjutnya monumen batu prasasti itulah tidak lain yang tertulis di belakang arca Ganesha dari Desa Bunulrejo seperti yang ditemukan saat ini yang disimpan di Museum Mpu Purwa Malang.

Akhirnya permintaan itu disetujui oleh Dyah Mungpang, saat peresmian masyarakat diwajibkan menjaganya. Dalam upacara penetapan status perdikan itu, juga diberikan hadiah-hadiah kepada para saksi yang hadir, di antaranya kepada para pimpinan dari pejabat tinggi di (watak) Kanuruhan yang berjumlah sembilan orang, masing-masing berupa emas satu keping dengan berat empat māsa. Selanjutnya saksi juga berasal dari para patih yang berjumlah enam belas orang masing-masing berupa emas satu keping dengan berat delapan māsa.

Kemudian juga dibacakan sumpah kutukan (sapatha) bagi para pengganggu dan perusak bangunan anugerah Dyah Mumpang tersebut.

Sang Bulul yang menjadi tokok di sana kemudian menjadi cikal bakal nama Desa Bunulrejo. Konsonan ‘L’ memang bersinggungan dengan konsonan ‘N’ pada bahasa Jawa. Seperti dalam kitab Pararaton yang menyebutkan Panawijen yang kemudian daerah tersebut menjadi Palawijen di Blimbing Malang.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2017/01/18/sang-bulul-cikal-bakal-nama-bunulrejo/
Comments
Loading...