Sejarah Berdirinya Gereja ABRAHAM Taman Serang

0 168

Sejarah Berdirinya Gereja ABRAHAM Taman Serang

Keberadaan Gereja Abraham sesungguhnya berawal dari sebuah keputusan strategis yang diambil sewaktu Menhankam/Pangab dipangku oleh Jenderal TNI M.Yusuf. Dalam rangka mengantisipasi hakekat ancaman gangguan dan hambatan serta tantangan yang mungkin terjadi.

Jenderal bintang empat asal Makasar itu memerintahkan adanya pergeseran pasukan elite nomor 3 didunia, Kopassus (dulu Kopassandha) dari Cijantung menuju dua lokasi berbeda. Anggota Baret Merah yang tergabung dalam Grup 3 dipindahkan ke Kariango Ujung Pandang (kini Makasar) dibawah pimpinan Kolonel Sintong Panjaitan. Sedangkan bagi anggota yang tergabung dalam Grup 1 menempati Kesatrian Gatot Subroto di Taman Serang Banten. Grup 1 pada saat itu adalah Pasukan Para Komando yang terdiri atas 3 Detasemen Tempur atau Denpur (selanjutnya disebut Batalyon 11,12,13) dan 1 Kompi Markas.

Ke-3 nya adalah Denpur 11, Denpur 12 dan Denpur 13. Satu Detasemen Tempur ketika itu membawahi 3 Kompi Parako. Kompi-Kompi yang dimaksud dinamai Kompi 111-113, Kompi 121-123 dan Kompi 131-133. Kebijakan waktu itu Denpur 11 tetap bermarkas di Cijantung. Mereka belum turut dipindahkan hingga kurang lebih 1 tahun kedepan. Kepindahan lokasi tugas tentu saja mengakibatkan papa yang saat itu menjabat Perwira Rohani Protestan alias Pa Roh Prot Grup 1 mesti mengikutinya apalagi Kolonel Wsmoyo pun mengharuskannya termasuk meninggalkan rumah yang selama ini dihuni di Jl. Sungai Luis H 64 Cijantung 3 Karet.

Rumah yang penuh kenangan masa kecil saya bersama papa dan mama serta kakak semua mulai 1971. Saya rupanya tak kurang dari 10 tahun saja tinggal di rumah yang letaknya bersebelahan dengan Lapangan Merah atau Lapangan Atang Sutresna (kini sudah dibangun tribun), nama itu diambil untuk mengenang salah seorang Pahlawan Seroja yang gugur saat pertempuran merebut kota Dili Timor Timur.

Sejak kepindahan Markas Grup 1 Kopassandha (kini Kopassus) dari Cijantung ke Taman Taktakan Serang Banten di bulan Agustus 1981 itu umat Kristiani yang sebelumnya beribadah di Gereja Oikoumene Immanuel dan kini berdomisili di dalam Kompleks masih belum dapat bergereja di perumahan sebab ketidak tersediaan rumah ibadah.

Warga kompleks Baret Merah andalan Bangsa ini apabila ingin beribadah maka mesti pergi ke kota Serang yang berjarak kurang lebih 15-20 menit perjalanan dengan mobil. Beberapa diantara anggota yang memperoleh IB alias Ijin Bermalam pergi ke kota lain untuk beribadah termasuk ke Jakarta. Saya sendiri sebelum tersedianya gedung gereja di Kompleks bersama papa dan mama biasanya turut beribadah di GKI Serang.

Meskipun gedung gereja belum tersedia dalam kompleks namun kegiatan pelayanan bagi anggota bujangan, keluarga serta anak-anak dengan jadwal kegiatan mingguan yang telah disusun. Pada setiap hari Selasa diadakan Katekisasi untuk anggota/bujangan serta keluarga, remaja yang belum di Baptis, Sidi dan Nikah.

Hari Rabu mulai pukul 17.00 hingga 21.00 dilakukan pendataan dan kunjungan gerejawi terhadap keluarga dan bujangan di hunian dalam kompleks. Kunjungan dilakukan untuk para isteri/anak yang ditinggal tugas oleh suami karena tugas sekolah, latihan dan operasi. Para anggota baru atau keluarga yang sakit dirumah atau dirumah sakit termasuk terhadap keluarga yang mengalami kemalangan. Tidak terkecuali kunjungan dilakukan pula terhadap warga / keluarga yang tidak beribadah Minggu bersama.

Sementara itu untuk ibadah Keluarga atau Rumah Tangga diadakan di keluarga yang menerima giliran dilaksanakan pada setiap hari Jumat. Liturgi yang digunakan dari GPIB Jemaat Koinonia Jatinegara. Kebetulan papa sempat melayani juga di gereja yang terletak di Jatinegara itu.
Papa semasa hidup selain melayani di Gereja Immanuel Cijantung sering pula melayani di gereja itu termasuk juga di GKP Cibubur.

Adanya pergeseran Markas Komando Grup 1 Kopassandha (baca Kopassus) membuat penggalangan dapat dilakukan dengan warga Kristiani di luar kompleks termasuk Cilegon Serang dan Pulo Merak dan sekitarnya. Alhasil pada bulan Desember 1981 warga Kristiani Grup 1 Kopassus turut berpartisipasi untuk mengingatrayakan Natal Tahun Baru. Saya ingat betul bahwa pada waktu perayaan Natal pertama kali itu 2 buah Truk REO berisikan Prajurit remaja Kopassus turut serta mengikuti Ibadah di Merak. Satu hal yang menjadi catatan adalah mereka, para prajurit itu menggunakan Seragam PDH Komando lengkap dengan sepatu PDL dan Baret Merah di kepala serta tak terlupakan sangkur Komando dipinggang kiri. Itu dilakukan agar tidak terjadi pelemparan batu sepanjang berlangsungnya perayaan Natal Tahun baru seperti yang sebelumnya sering terjadi.

Mulai bulan Januari 1984 barulah Ibadah Minggu dapat diadakan di dalam komplek meskipun gedung gereja belum tersedia. Tempat ibadah Minggu dilaksanakan di sebuah bangunan yang masuk dalam area Kompi Markas persis di depan Pos Provost dan rumah Dan Grup. Bangunan ini sebelumnya digunakan untuk gudang beras.

Menurut catatan yang tertulis dalam laporan Papa, warga Kristiani Grup 1 Kopassus pada saat itu berasal dari banyak denominasi gereja. Mereka diantaranya adalah anggota HKBP, KPBK, GKJ, GMIM, GMIST, GMIT, GPM, Gereja Toraja dan GPIB. Adapun jumlah warga 104 anggota yang terdiri dari 49 KK merupakan anggota TNI sedangkan 5 KK lain adalah non anggota TNI.

Pada awal kepindahan ke Taman Grup 1 Kopassus dipimpin oleh Kolonel Inf Wismoyo Arismunandar selaku Komandan Grup dan Letkol Yusman Yutam sebagai Wakil Komandan dimana nantinya kedua pimpinan ini sangat berperan dalam pengadaan pembangunan gedung gereja Abraham.

Source https://oomwil.wordpress.com https://oomwil.wordpress.com/2011/02/05/sejarah-berdirinya-gereja-abraham-taman-serang-bagian-pertama/
Comments
Loading...