Sejarah Berdirinya Gedung SMA Tugu Malang

0 90

Sejarah Berdirinya Gedung SMA Tugu

Dahulu pada masa kolonial Belanda, gedung ini digunakan sebagai sekolah HBS dan AMS. Gedung ini dirancang oleh Ir. W. Lemei dari Landsegebouwendienst (Jawatan Gedung Negara) Jawa Timur dan selesai dibangun pada tahun 1931. HBS (Hoogere Burger School) secara harfiah adalah Sekolah Tinggi Warga Negara adalah Sekolah Menengah Belanda, sedangkan AMS (Algemeene Middelbare School) adalah Sekolah Menengah Umum. Gedung sekolah ini saat ini digunakan sebagai SMA Negeri 1, 3, dan 4 Malang. SMA Negeri tersebut dikenal juga dengan julukan SMA Tugu karena terletak di Jalan Tugu.

Gedung ini dibangun di lokasi yang sangat strategis, yaitu di sekitar Alun-alun Bunder yang merupakan pusat pemerintahan Malang yang baru. Orientasi bangunannya menghadap ke arah lapangan Jan Pieterzoon Coen. Pembangunan gedung ini hampir bersamaan waktunya dengan pembangunan balaikota Malang. Supaya tidak terkesan sebagai bangunan yang ingin menyaingi balaikota, maka bentuk keseluruhan dari sekolah ini dibuat dengan karakter seperti villa. Pada awal pembelian tanahnya, lahan tersebut dimaksudkan untuk keperluan HBS saja, tetapi karena berbagai alasan kemudian dirancang untuk dua sekolah sekaligus, meskipun akhirnya HBS memiliki kapasitas yang lebih kecil dari AMS. Pemecahan masalah ini menurut Lemei memerlukan pemikiran yang cukup rumit.

Lahannya memiliki bentuk yang tidak simetris, tetapi tampak depan bangunan sekolah ini harus diusahakan berkesan simetri. Denah secara keseluruhan terdiri dari kombinasi antara satu lantai dan dua lantai. Gedung yang berada di tengah berlantai satu, sedangkan tiga gedung yang berada di belakangnya terdiri dari dua lantai. Keseluruhan bangunan tersebut dihubungkan dengan bangunan tempat sepeda yang lebih rendah dan galeri yang berhubungan satu sama lain.

Di kompleks gedung ini terdapat ruang-ruang yang bisa dipakai secara bersamaan oleh kedua sekolah tersebut, misalnya ruang yang digunakan untuk olahraga (gymnasium), aula, dan sebagainya. Di bagian depan (yang berlantai satu) terdapat aula, ruang direktur, ruang guru, perpustakaan, ruang baca, dan sebagainya. Batas-batas ruangannya dibuat dengan sistem partisi yang mudah dipindahkan. Di bagian belakang (yang bertingkat dua), terdiri dari ruang kelas, laboratorium, ruang gambar, kamar mandi (toilet), dan sebagainya. Di ruang kelas dan ruang guru terdapat lambrisering yang dipasang di tembok setinggi 2 meter untuk pemasangan gambar atau keperluan lainnya.

Jalan masuk ke kompleks tersebut sampai ke belakang sehingga jika pada musim penghujan maka kendaraan seperti mobil dan dokar bisa lebih dekat mencapai kelas-kelas yang berada di belakang. Demikian juga halnya dengan tempat sepeda yang bisa mencapai kelas-kelas dengan mudah. Di bagian tengah dan samping sekolah tersebut dibuat taman yang dipelihara dengan baik untuk para siswa yang sedang beristirahat. Suasananya sesuai benar dengan lingkungan sekitarnya yang penuh dengan taman yang menyegarkan.

Salah satu masalah utama dari bangunan ini adalah bagaimana membuat sinar matahari tidak secara langsung masuk ke ruang kelas dan ruang-ruang lainnya. Mengingat bahwa sebagian denah gedung tersebut mengarah ke jurusan timur-barat, Lemei memakai cara yang sudah banyak dilakukan para arsitek kolonial saat itu.

Lemei memasang galeri yang cukup lebar di depan deretan ruang-ruang tersebut. Letak galeri kadang-kadang berada di depan dan kadang-kadang berada di belakang. Maksud Lemei adalah untuk mencegah masuknya sinar matahari langsung timur-barat dan tampias air hujan. Galeri yang menghubungkan antar ruang-ruang di lantai satu, dipakai konstruksi dinding pemikul dengan pembukaan berbentuk busur lancip, yang mengingatkan kita dengan bentuk-bentuk busur lancip pada gereja Gothik.

Atapnya terbuat dari sirap kayu besi. Atap tempat parkir sepeda yang datar memakai bahan yang relatif baru pada waktu itu, berasal dari American Sheet and Tin Plate Company. Lantai aula tempat olahraga dibuat dari kayu marbau yang keras. Demikian juga dengan tangganya yang dicat dengan warna merah kecoklatan. Kayu pada tempat sepeda dicat warna coklat dan oranye gelap. Talangnya dicat biru tua. Dindingnya dari bata yang diplester dan diberi warna putih sehingga secara keseluruhan kombinasi warna tersebut memberikan kesan segar dan gembira di antara hijau taman-taman di sekitarnya.

Secara keseluruhan gedung yang dibangun tahun 1930-an ini termasuk arsitektur kolonial modern di mana penyelesaian detail dan bentuk-bentuk ragam hias sudah bebas dari ukir-ukiran dan penyelesaian yang rumit, seperti bentuk arsitektur abad XIX.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/1022/sejarah-berdirinya-gedung-sma-tugu/
Comments
Loading...