Sejarah Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal Jakarta

0 1.716

Lokasi Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal

Museum ini terletak Jalan Raya TMII I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta.

Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal

Departemen Agama (Dr. Tarmizi Taher) telah mengambil prakarsa untuk membangun Bayt Al-Qur’an sebagai wahana untuk mempersembahkan kepada masyarakat luas berbagai macam koleksi mushaf al-Qur’an. Gagasan ini muncul ketika Menteri Agama saat itu ditanya mengenai tempat penyimpanan mushaf Al-Qur’an terbesar yang sedang dipamerkan di Festival Istiqlal. Spontan ia menjawab “Bayt Al-Qur’an” dan bertepatan dengan selesainya penulisan mushaf Istiqlal. Sedangkan penentuan lokasi pendirian gedung Bayt Al-Qur’an di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan gagasan awal almarhumah Ibu Tien Soeharto. Bersamaan itu pula, dibangunlah sebuah museum yang disebut Museum Istiqlal yang menyajikan beragam khazanah Islami, baik tradisional maupun kontemporer. Dua gedung ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena merupakan ‘dua dunia’ yang saling melengkapi.

Di samping itu, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal juga diharapkan mampu memberikan informasi yang komprehensif tentang berbagai dimensi kultural Islam. Oleh karena itu, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal tidak hanya dituntut untuk mampu menangkap berbagai informasi budaya pada level nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

Bangunan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal

Bangunan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, berdiri di atas tanah wakaf almarhumah Ibu Tien Soeharto, seluas ± 20.013 m² dengan luas bangunan 20.402 m². Sesuai dengan rencana ideal yang telah dibuat, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal dibangun sebagai pusat kebudayaan bertaraf internasional, yang mempresentasikan bukan saja khazanah budaya Islam Nusantara, tetapi juga menampilkan khazanah kebudayaan Islam berbagai belahan dunia dengan latar belakang sejarah sosial dan budayanya masing-masing.

Arti dan Makna Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal

Mengapa memakai istilah Bayt Al-Qur’an bukan Museum Al-Qur’an? Ada beberapa alasan antara lain: Bayt Al-Qur’an (Rumah Al-Qur’an) disepakati sebagai pengganti istilah Museum Al-Qur’an. Penggunaan nama Bayt Al-Qur’an dimaksudkan untuk menghindarkan kekeliruan persepsi sebagian orang yang memahami arti dan makna museum yang sering dikonotasikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang kuno dan lapuk. Nama Bayt Al-Qur’an juga terdengar lebih puitis dan sekaligus memiliki makna religius.

Nama Museum Istiqlal merupakan kelanjutan dari Festival Istiqlal I tahun 1991 dan Festival Istiqlal II tahun 1995. Istiqlal menurut bahasa Arab berarti proklamasi. Jadi maknanya adalah proklamasi umat Islam Indonesia untuk mempersembahkan karya budayanya kepada seluruh umat manusia.

Bayt Al-Qur’an berisikan khazanah yang merupakan sumber inspirasi atau pedoman hidup bagi umat Islam berupa mushaf Al-Qur’an. Sedangkan Museum Istiqlal merupakan pengejawantahan dari mission atau pesan-pesan Al-Qur’an, yang merupakan karya seni budaya umat Islam dari zaman ke zaman, baik dari kalangan muslim di Indonesia, Asia Tenggara serta negara-negara lain di dunia.

Dua bangunan ini memberikan makna bahwa Bayt Al-Qur’an menggambarkan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia (Rahmatan lil ‘alamin: rahmat bagi semesta alam). Sedangkan Museum Istiqlal menjadi wujud nyata dari hasil pelaksanaan petunjuk Allah dalam kehidupan dan budaya umat Islam Indonesia. Jadi, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal ini merupakan ‘dua dunia’ yang saling melengkapi antara dunia ide dan dunia nyata serta merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Source Sejarah Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal Jakarta
Comments
Loading...