Sejarah Asrama Inggrisan

0 277

Asrama Inggrisan

Asrama Inggrisan terletak tepat di tengah Kota Blambangan, julukan Banyuwangi, di sisi alun-alun. Tepatnya di Jalan Diponegoro No 05, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Tempat tersebut kini digunakan sebagai asrama para prajurit TNI AD dari Kodim 0825 Banyuwangi. Sebuah pintu masuk sederhana menyambut kedatangan kami ke Asrama Inggrisan. Tak ada gerbang kokoh atau pagar kuat. Yang ada hanya sebuah gerbang tembok yang warnanya sudah kusam, dengan tulisan “Asrama Inggrisan” di bagian atasnya. Selanjutnya kami disambut halaman luas yang ditumbuhi beberapa pohon beringin. Pagi itu halaman tampak sepi, tak banyak penghuni asrama yang beraktivitas di luar.

Akses ke Asrama Inggrisan ini tak berbelit-belit. Kami cukup minta izin secara lisan kepada salah satu penghuni. Selanjutnya bebas melihat-lihat hingga ke dalam bangunan. Penghuni asrama sepertinya sudah terbiasa dengan kedatangan wisatawan yang sekadar ingin melihat-lihat.

Kondisi Asrama Inggrisan benar-benar memprihatinkan. Praktis hanya bagian depan yang tampak rapi, selebihnya tak terawat. Bangunan sudah rusak di sana-sini, semrawut, kusam dan agak kumuh. Bangunan utamanya berlantai dua, kemudian di bagian belakang juga ada bangunan satu lantai. Di samping bangunan utama berdiri gedung terpisah. Hampir semua bagian gedung difungsikan sebagai semacam kamar alias tempat tinggal para anggota Kodim.

Berbagai perabotan rumah tangga seperti panci, ember, kompor, sapu, dan botol air teronggok tak beraturan di lorong dan depan kamar-kamar. Baju berwarna-warni berkibar di jemuran yang digantungkan di depan kamar. Di bagian lain, kayu tampak menumpuk tak karuan. Sebuah mobil rongsokan juga tampak teronggok begitu saja. Konsep ideal tentang keindahan tata ruang benar-benar sudah dilupakan di asrama ini.

Pak Yunan, salah seorang penghuni asrama yang kami jumpai mengatakan ada sekitar 25 kamar di asrama itu. Total penghuni sekitar 70 orang. Pak Yunan juga memilih tinggal di situ karena rumahnya jauh, sekitar 40 km dari pusat kota Banyuwangi. “Ini semacam rumah dinas bagi kami. Dulu katanya tempat ini sempat akan direhab, tapi katanya tidak boleh. Padahal bangunannya memang sudah rusak,” ujar Pak Yunan.

Kondisi Asrama Inggrisan yang tak terawat itu sungguh disayangkan. Apalagi setelah saya mendapat informasi berharga tentang sejarah tempat tersebut. Menurut Pak Taufik Ridlwan Bachamis, salah seorang pengggiat Komunitas Sejarah Banyuwangi, Asrama Inggrisan pernah menjadi stasiun kabel telegraf bawah laut yang menjadi titik penghubung komunikasi antara pihak Inggris dengan Australia. Namun jejak kabel telegraf sudah dihancurkan oleh Jepang saat perang dunia kedua.

Saya kemudian penasaran menelusuri lebih jauh tentang kisah kabel telegraf bawah laut itu. Dari situs historia.co.id, saya menemukan sebuah informasi penting. Pada 1870, seperti ditulis Bill Glover dalam “Dutch East Indies Government” yang dimuat di http://www.atlantic-cable.com, British-Australian Telegraph Company memasang kabel dengan rute dari Banyuwangi ke Darwin. Rute ini merupakan salah satu bagian dari proyek menghubungkan dunia melalui kabel. Penemuan telegraf membuat pengiriman pesan bisa dilakukan dengan lebih cepat. Penemuan telegraf merupakan buah ide cemerlang William Fothergill Cooke dan Charles Wheatstone, yang mengajukan paten sistem telegraf listrik di Inggris pada 1837.

Cara kerja telegraf adalah mengirimkan pesan dengan menggunakan denyut elektronik yang diteruskan oleh kawat tembaga. Kode yang diterima disebut morse seperti nama penciptanya dari Amerika, Samuel Finley Breese Morse. Jalur telegraf pertama dipasang antara Washongton dan Baltimore. Samuel Morse mengirimkan pesan pertama pada Mei 1844. Bunyinya singkat : “Apa yang diciptakan Tuhan?” Sedangkan kabel telegraf bawah laut pertama diletakkan oleh Jacob dan John Watkins Brett bersaudara melintasi Selat Inggris, pada Agustus 1850.

Kembali ke Asrama Inggrisan, rasanya eman-eman jika bangunan yang menyimpan kisah penting tentang stasiun kabel telegraf dibiarkan merana seperti itu. Jika dirunut lagi ke belakang, sejarah bangunan itu ada jauh sebelum difungsikan sebagai stasiun kabel telegraf. Pada periode 1766-1981 tempat tersebut digunakan sebagai Lodge (penginapan) untuk saudagar Inggris yang datang ke Bumi Blambangan. Di sekitar bangunan tersebut dibangun gorong-gorong yang terhubung dengan Kali Lo dan Boom. Mas Donna kebetulan juga menunjukkan jejak dari gorong-gorong tersebut.

Pada 1811, tempat tersebut dikuasai oleh Belanda dan digunakan sebagai asrama perwira. Seiring kedatangan Jepang ke Tanah Air, bangunan juga berpindah tangan dan dipakai sebagai markas Kanpetai. Pasca kemerdekaan Indonesia sampai 1949, bangunan kembali berubah fungsi sebagai asrama Batalion Macan Putih. Akhirnya kini Asrama Inggrisan berfungsi sebagai rumah dinas para anggota Kodim 0825 Banyuwangi. Menengok sejarah panjangnya, Asrama Inggrisan jelas sudah sangat layak berstatus Benda Cagar Budaya (BCB).

Source https://usemayjourney.wordpress.com https://usemayjourney.wordpress.com/2013/07/31/asrama-inggrisan-dan-kisah-kabel-telegraf/
Comments
Loading...