Saorajja Mallangga, Rumah Keterbukaan Raja

0 125

Saorajja Mallangga, Rumah Keterbukaan Raja

Saoraja atau rumah raja di Wajo, Sulawesi Selatan, dirancang terbuka dan tidak menakutkan agar rakyat tidak segan datang menghadap raja. Salah satunya, Saoraja Mallangga yang menjadi kediaman pribadi Arung Bettempola. Seiring perkembangan zaman, rumah raja dari rumpun Bettempola yang masih lestari di era modern ini mengalami sedikit perubahan.

Semula, rumah yang merupakan kediaman Haji Datu Makkaraka yang bergelar Ranreng Bettempola Wajo ke-27 ini dirancang terbuka, tidak berpagar, dan bangunannya tidak terlalu tinggi. Namun mengingat di dalamnya tersimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Wajo maka dilakukan penyesuaian dengan memasang teralis. Kini, rumah itu didiami anak laki-laki Datu Makkaraka, yakni H Datu Sangkuru beserta dua dari lima anaknya serta beberapa keponakan. Sangkuru menggantikan posisi kakak laki-lakinya yang meninggal tahun 2005 bernama H Datu Sangaji dengan gelar Ranreng Bettempola ke-28.

Oleh karena dihapuskannya sistem kerajaan, Sangkuru ditempatkan sebagai pemangku adat Wajo. Ada berbagai versi tentang asal-usul Kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan yang didirikan tahun 1339. Salah satunya, ada tiga anak Raja Cinnottabi yang dianggap keturunan dewa mendirikan wilayah yang dibagi menjadi tiga bagian atau limpo, yakni Bettempola, Talonlenreng, dan Tuwa. Pemimpin dari ketiganya dinobatkan sebagai batara atau raja dari wilayah yang disebut Wajo ini.

Batara berikutnya merupakan keturunan batara terdahulu. Namun batara ketiga kemudian disingkirkan karena perilakunya yang buruk. Selanjutnya Wajo dipimpin oleh Arung Matowa yang dipilih berdasar kesepakatan dan diambilkan dari anggota keluarga besar. Sejak itu, sifat kerajaan yang feodal berganti dengan elektif atau demokrasi terbatas. Setelah era kemerdekaan, Wajo berubah menjadi kabupaten.

Saoraja Mallangga berarti rumah orang besar bertingkat. Di bagian paling depan rumah, ruang seluas 60 meter persegi yang dulu digunakan sebagai tempat menerima tamu atau rakyat mengadu, kini menjadi ruang tamu yang diisi beberapa set kursi berukir. Lantainya ditutupi tikar rotan. Tangga ke Lantai Dua Beberapa tanduk rusa dari kayu terpasang di dinding ruang tamu.

Di sekeliling ruang yang dekat dengan dinding ditaruh lemari-lemari pajang berisi antara lain naskah lontara, buku-buku, keris, tombak, mesin jahit duduk, dan bossara atau tempat kue berkaki yang kini dipasang songkok di atasnya. ”Dulu kalau nenek menjahit, ada attah atau abdi yang membantu memutar rodanya,” kata Hj Andi Cidda Minasa, anak kedua Datu Sangkuru. Salah satu naskah, menurut Datu Sangkuru, merupakan buku yang disusun oleh ayahnya dan berisi kisah para raja di Sulawesi Selatan. Sebuah meja berwarna hitam tempat Datu Makkaraka biasa menulis masih terdapat di kamar tidurnya yang kini ditempati Sangkuru.

Meja itu di atasnya berisi termos air hangat, mi, dan beberapa perlengkapan makan minum agar Sangkuru tidak terlalu payah mondar-mandir seiring usianya yang semakin senja, lebih dari 80 tahun. Di kamar itu, juga terdapat lemari dan bufet peninggalan Makkaraka. Sebuah bilik kecil dibangun di sudut kamar sebagai kamar mandi. Kamar tidur Datu Makkaraka yang sangat besar saat ini dibagi dua dan ditempati Sangkuru dan Cidda. Di sebelah kamar Cidda adalah kamar tamu. Sangkuru menjadikan rumahnya semacam museum keluarga. Berbagai peninggalan leluhurnya tetap dipelihara. Cidda, anak kedua dari lima bersaudara mengungkapkan, tidak jarang turis yang berkunjung menggodanya untuk menjual warisan bernilai sejarah itu.

Namun, keluarga ini memegang teguh warisan leluhur dan menyadari nilainya yang tinggi bagi Wajo dalam konstelasi sejarah Nusantara. ”Turis sering menawar barang-barang ini, tetapi tidak kami berikan karena benda-benda ini tak ternilai oleh uang,” kata Cidda. Ruang tengah juga dihiasi lemari kaca penyimpan benda-benda warisan leluhur Wajo. Beberapa lemari buatan tahun 1930-an. Di bagian belakang rumah terdapat sebuah lemari kabinet, meja panjang dan oval, bufet, serta tangga menuju ke lantai atas. Lantai yang terdiri dari bilah-bilah papan kayu sebagian tertutup dengan karpet.

Salah satu yang tersimpan di ruang tengah adalah perangkat minum yang dibeli kakak dari ibu Cidda saat berhaji di Tanah Suci dan pulang menumpang kapal laut. Keluarga istri Sangkuru merupakan bangsawan dari Kerajaan Soppeng. ”Waktu kecil saya sering ditugasi membersihkan poci-poci kuningan itu dengan asam jawa. Sampai saya kesal dan sempat akan saya buang. Untung saja kemudian saya tahu barang-barang itu bernilai tinggi,” kata Cidda.

Dibangun tahun 1930, rumah ini menjadi saksi kehidupan keturunan keluarga Kerajaan Wajo. Rumah memadukan konsep rumah tradisional Wajo dan arsitektur kolonial. Bentuknya, seperti rumah panggung, akan tetapi tiangnya tidak setinggi rumah panggung biasanya. Tiang tidak ditanam ke tanah melainkan ditumpukan di atas umpak batu. Lantai dua rumah dahulu diperuntukan sebagai tempat tinggal anak dan cucu perempuan keturunan Datu Makkaraka. Setelah itu, sempat digunakan sebagai tempat mengaji anak-anak di sekitar saoraja.

Sekarang lantai ini dijadikan tempat penyimpanan senjata pusaka kerajaan khususnya di sebuah bilik. Setiap empat bulan sekali senjata dibersihkan dengan terlebih dulu diberi sesaji. Di bagian belakang rumah yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Sengkang, ini dibangun ruangan-ruangan tempat tinggal adik Cidda dan beberapa keponakan. Sebelah sampingnya dijadikan garasi mobil. Adapun di sudut halaman depan rumah, dibangun gazebo pada 2002 oleh pemerintah setempat. Sudah menjadi tradisi, kerabat yang tinggal jauh di daerah bisa menumpang di rumah itu untuk bersekolah di pusat kota Wajo.

Source https://travel.kompas.co https://travel.kompas.com/read/2014/08/04/151000027/Saorajja.Mallangga.Rumah.Keterbukaan.Raja
Comments
Loading...