Rumah Tradisional Suku Padoe

0 33

Rumah Tradisional Suku Padoe

Masyarakat suku Padoe yang tinggal di daerah Nuha dan Towuti, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang membentang dari selatan danau Matano hingga danau Towuti. Memiliki adat istidat dan tradisi yang sangat maju di masa lalu ini bisa dilihat dari seni arsitektur dan tata letak rumah tradisional mereka di masa lalu.

Rumah Tradisional suku Padoe selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga untuk memberi batasan antara area pribadi dangan area publik / umum serta menghindari kasus-kasus dimana sensitivitas setiap individu atau perseorangan berpengaruh dalam pergaulan sosial masyarakat setempat. Kesadaran untuk saling  menghormati kepentingan pribadi dengan kepentingan umum diterabkan ke dalam aturan adat dan arsitektur rumah tradisional mereka. Hal ini mencerminkan bagian dari kebijaksanaan masyarakat suku Padoe yang sangat memahami bahwa didalam kebersamaan terdapat juga beragam individualitas dan untuk menjaga keseimbangannya terdapat aturan-aturan adat yang sangat menghormati batasan tersebut dan menuntut untuk dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat suku Padoe.

Rumah tradisional suku Padoe berbeda dengan kebanyakan rumah tradisional suku-suku lain di Nusantara yang pada umumnya satu rumah bisa di huni banyak keluarga. Rumah suku Padoe satu rumah di huni satu keluarga. Ketika kita memasuki rumah seorang Padoe di masa lalu, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Batasan-batasan tersebut terdapat pada bentuk arsitektur yang terlihat dalam ruangan rumah tradisional mereka. Dimulai dari bagian atau ruang depan disebut kombia terdapat sebuah balok kayu yang dipasang melintang sepanjang lebar rumah, ini adalah area umum dijaman sekarang disebut ruang tamu. Dibelakang balok tersebut, terdapat ruang tengah atau ruang keluarga, selain keluarga dilarang masuk area ini disebut Ulu Kombia. Selanjutnya setelah ruang tengah terdapat ruang belakang area dapur yang disebut Tenga.

Inilah adalah salah satu bentuk kepatuhan dan kebijaksanaan akan aturan tradis kehidupan sosial masyarakat suku Padoe yang termuat dalam bentuk arsitektur rumah tradisional mereka. Arsitektur rumah tradisional suku Padoe menjadi cermin akan kemajuan peradapan adat istiadat mereka yang menyerupai peradapan modern saat ini.

Dua foto dukumentasi berikut memperlihatkan perbedaan kampung Tabarano dulu dengan kampung Tabarano sekarang, kampung Tabarano merupakan kampung suku Padoe terletak di wilayah Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Foto yang pertama diambil pada tahun 1911 oleh Albert Grubauer seorang berkebangsaan Jerman yang melakukan perjalanan melintasi daerah Nuha waktu itu lalu mencatatannya untuk dibukukan, buku tersebut berjudul Unter Kopfjagern in Central Celebes, lalu diterbitkan pada tahun 1913. Foto-fotonya kemudian menjadi milik Museum Volkenkunde di Belanda dan sekarang dipajang di website merekawww.geheugenvannederland.nl

Dalam foto pertama tersebut terlihat suasana perkampungan yang tertata rapi. Selokan air di sisi jalan yang bersih dengan pagar-pagar rumah di setiap sisinya. Rumah-rumah terlihat sama dan seragam baik ukuran, posisi menghadap dan arsitekturnya, layaknya perumahan jaman sekarang ini. Atap berbentuk lebih mendekati bentuk perisai dibanding pelana dan terdapat ventilasi besar pada salah satu sisi atapnya layaknya jendela. Bentuk atap ini cukup unik untuk daerah Sulawesi pada waktu itu yang sebagian besar berupa atap pelana, yang menunjukkan adaptasi dan kemampuan rekayasa masyarakat suku Padoe lebih maju atau mungkin serapan pengaruh dari luar. Bandingkan dengan rumah-rumah tradisional KarunsiE dan TambeE yang juga unik dan menarik, dua suku yang hidup berdampingan dengan suku Padoe di daerah Nuha.

Rumah tradisional masyarakat suku Padoe adalah rumah panggung yang bertiang dua belas dengan atap dan dinding dari daun rumbia, ketinggian kurang lebih dua meter dari permukaan tanah. Alas lantai terbuat dari bambu jenis Balo Binasi dibelah kecil-kecil yang panjangnya sekitar 2,2 meter. Dibawahnya adalah rangka yang terbuat dari belahan kulit batang pinang, minama. Masing-masing batang pinang dibelah enam, lalu belahan-belahannya tersebut diikat berjajar menjadi lapisan kedua pada lantai rumah. Belahan-belahan pinang tersebut duduk pada portal kayu dalam sistem balok-kolom. Semua sambungan dan join antar elemen struktur bangunan menggunakan ikatan rotan, lauro. Di atas bilahan-bilahan bambu tadi kemudian dibentangkan anyaman tikar, Ompeo dari daun sejenis tumbuhan yang bentuk daun-daunnya agak mirip pandan tapi lebih keras dan berduri. Daun tersebut dikeringkan lalu dianyam tanpa diwarnakan. Ompeo-ompeo tersebut berfungsi sebagai alas tidur dan duduk, yang ketika tidak digunakan digulung dan disimpan di loteng rumah yang disebut tonete.

Source https://rumahnusa.blogspot.com https://rumahnusa.blogspot.com/2012/05/rumah-tradisional-luwu-timur-sulawesi.html
Comments
Loading...