Rumah Tradisional Banjarmasin Kalimantan Selatan

0 49

Rumah Tradisional Banjarmasin

Salah satu rumah adat Banjar di Kabupaten Tanah Laut adalah rumah milik Ibu Nyoo Giok Tin atau dipanggil Ibu Tinah yang merupakan warga keturunan Cina. Keberadaan bangunan ini melengkapi sejarah keberadaan bangsa Cina yang bermukim di wilayah Kalimantan Selatan khusunya di Tanah Laut daerah Parit Mas. Kehadiran Bangsa Cina ke Borneo adalah karena alasan perdagangan dan konflik yang terjadi di negaranya. Beberapa faktor tersebut membuat mereka membangun sebuah perkampungan dan memiliki keturunan di tempat ini. Pemilihan lokasi tidak serta-merta ditunjuk begitu saja, melainkan memiliki kriteria yang dianggap dapat menghidupinya, yaitu lahannya subur dan dekat dengan sumber air.

Menurut penuturan beliau dan Bapak Phoe Sin Kim (saudara Ibu Tinah), rumah ini diperkirakan berusia 200 tahun lebih. Rumah ini terletak di Jl. Parit Mas, Kelurahan Angsau, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Wilayah Parit Mas merupakan lokasi pendulangan emas yang masih aktif dari dulu hingga sekarang. Bapak Phoe Sin Kim juga menjelaskan bahwa pada awalnya di wilayah ini terdapat beberapa unit rumah tipe banjar yang didiami oleh 26 kepala keluarga yang semuanya adalah keturunan Cina.

Berdasarkan data beliau, pada tahun 1974 terdapat 24 marga Cina yang mendiami wilayah ini, antara lain: Go, Tan, Tjioe, Lim, Tong, Pang, Law, Tjia, Tho, Phoe, Hoo, Nyoo, Oey, Tjong, Yap, Thio, Kwe, Tjeng, Oe, The, Tjoe, Cie, Kho, dan Lic. Namun, warga Cina tersebut sekarang sudah banyak yang hijrah dan menjual tanah beserta rumahnya kepada orang lain. Saat ini rumah-rumah tersebut sudah dihancurkan. Satu-satunya rumah yang masih tersisa adalah rumah Ibu Tinah.

Tradisi pembuatan Rumah Banjar di wilayah ini cukup unik karena menurut cerita, rumah tidak akan dibangun sebelum mendapatkan kayu ulin jenis pamanang yang dapat terapung. Kayu tersebut tergolong langka, karena diyakini memiliki unsur gaib sehingga tidak banyak orang yang mampu membuat rumah semasa itu. Biasanya setelah kayu ditemukan, selanjutnya kayu tersebut harus disimpan pada kuda-kuda bagian atas pintu ruang utama. Setelah bangunan selesai dibuat kemudian di masing-masing ujung tiang bagian selasar dan ruang utama diberi emas dan intan sebagai daya tarik bagi orang yang melewati rumah tersebut untuk datang dan bertandang ke rumah tersebut.

Arsitektur yang diperlihatkan oleh rumah hunian tersebut, menyerupai rumah palimasan yang ada di masa Kesultanan Banjar dan digunakan sebagai tempat tinggal para saudagar kaya dengan mata pencaharian berupa penambang emas, perak dan intan.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/rumah-tradisional-banjarmasin/
Comments
Loading...