Rumah Phonix dan Ruko Deret Yogyakarta

0 28

Rumah Phonix dan Ruko Deret

Rumah Phonix berada di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 Yogyakarta. Rumah tersebut didirikan oleh Mr. Kwik Djoen Eng pada tahun 1918 sebagai rumah tinggal. Pada masa resesi ekonomi tahun 1930, rumah tersebut dijual kepada Liem Djoeng Hwat. Setelah dimiliki Liem Djoeng Hwat, rumah di selatan dan utara jalan kemudian diwariskan kepada Liem Ing Hwie, seorang keturunan Tionghoa yang peduli terhadap Kebudayaan Jawa. Di samping sebagai pengusaha, Liem juga menjadi anggota Java Institute dan juga menjadi kurator Museum Sonobudoyo sejak tahun 1935.

Nama Phonix dipakai pada saat rumah tersebut sudah diwariskan Liem Ing Wie kepada anaknya, yaitu P. Liem Liang Hoei (Paulus Wikanto Sulaiman). Penamaan tersebut untuk mengenang ayahnya yang mendirikan kelompok belajar bernama Delf Studenclock Phonix di Universitas Delf Belanda.

Bangunan ini terdiri atas rumah induk, paviliun, dan bangunan belakang (dapur, kamar mandi, dan garasi). Dilihat dari beberapa elemen bangunannya seperti fasad, atap, dinding, ragam hias, jendela, pintu, dan lantai, mengindikasikan bahwa Rumah Phonix memiliki langgam atau gaya “art deco”. Gaya tersebut berkembang pesat di Kota Yogyakarta pada awal abad XX.

Di paviliun sebelah barat bangunan induk Rumah Phonix terdapat akses penghubung dengan ruang bangunan ruko deret ”tiga nyonya” di sebelah baratnya. Ruko deret merupakan rumah kopel bercorak khas, yang terletak di sisi tenggara Tugu Pal Putih. Ruko tersebut memiliki dua lantai, model atapnya berbentuk limas, dan bagian atas nok terdapat nok acretorie (kemuncak) dan louvres dome (konstruksi menara kecil di atap).

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/rumah-phonix-dan-ruko-deret/
Comments
Loading...